alexametrics
Selasa, 02 Mar 2021
radarbali
Home > Politika
icon featured
Politika

HOT! Kalah di Pilkada, Muncul Isu Gerakan Lengserkan Kembang dari PDIP

Pernyataan Artha Dinilai Kader Jadi ‘Signal’

12 Februari 2021, 18: 30: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

polemik PDIP Jembrana, PDI Perjuangan, gerakan lengserkan kembang, perpecahan kader PDIP, Putu Artha, Wayan korter, PDIP Bali, Kembang hartawan,

I Made Kembang Hartawan (kiri) dan I Putu Artha (kanan) (Dok Radar Bali)

Share this      

NEGARA-Polemik di internal DPC PDI Perjuangan Jembrana terus memanas usai kekalahan I Made Kembang Hartawan di Pilkada Jembrana 2020 lalu.

Tumbangnya Kembang Hartawan saat maju sebagai calon bupati Jembrana periode 2020-2024 ini juga memunculkan banyak spekulasi dan isu perpecahan kader di tingkat bawah.

Menurut informasi dari sejumlah kader PDI Perjuangan, gagalnya Kembang selain dipicu karena adanya perpecahan dan friksi di antara kader.

Juga dampak dari banyaknya kader senior di PDI Perjuangan Jembrana yang sakit hati dan memilih untuk mendukung pihak lawan.

Bahkan, banyak kader menilai, kekalahan Kembang di Pilkada 2020 juga dinilai sebagai akibat dari sikap arogansi Kembang sekaligus kegagalannya memimpin DPC PDI Perjuangan Jembrana.

Kini ditengah banyaknya spekulasi terkait kegagalan Kembang Hartawan, muncul isu gerakan dari kader arus bawah untuk merombak kepengurusan dan melengserkan Kembang Hartawan dari kursi ketua.

Munculnya isu pelengseran Kembang sebagai ketua DPC PDI Perjuangan Jembrana ini juga dikaitkan dengan pernyataan I Putu Artha yang ingin focus untuk mengurus partai usai masa jabatannya sebagai bupati Jembrana habis.

Bahkan atas pernyataan Artha, muncul isu di tingkatan kader jika pernyataan bupati Jembrana dua periode itu sebagai signal untuk mendongkel posisi kembang selaku ketua DPC PDI Perjuangan Jembrana.

Terkait munculnya sejumlah isu/rumor adanya perpecahan dan friksi di internal PDI Perjuangan Jembrana, Sekretaris DPC PDIP Jembrana Ni Made Sri Sutharmi langsung membantah.

Kata Sri Sutharmi, mengenai friksi yang disampaikan bupati tergantung sudut pandang melihatnya.

Menurutnya, secara structural, kondisi PDIP Jembrana sebelum dan sesudah Pilkada dikatakan masih solid dan kondusif.

“Sama sekali tidak ada perpecahan dalam struktur partai. Struktural PDIP Jembrana sangat solid, setiap ada rapat semua kader dan pengurus setiap tingkatan selalu hadir," tegasnya.

Mengenai pernyataan bupati Jembrana yang ingin fokus ke partai politik untuk merukunkan kader yang terpecah, ketua DPRD Jembrana ini mengaku justru bingung.

Pasalnya, setiap turun hingga struktur paling bawah semua baik-baik saja.

"Itulah anehnya, saya bingung. Yang tidak rukun siapa dan penyebab tidak rukun apa? Karena sebagai sekretaris partai selama ini selalu kompak, antara DPC, ranting, anak ranting dan fraksi selalu solid, kompak, bergerak bersama," terangnya.

Jika ada dari diinternal yang mengaggap ada perpecahan internal, mungkin tergantung dari sudut pandangnya.

Namun yang pasti, kata Sri Sutharmi di struktur partai tidak ada perpecahan.

“Kalau di luar struktur, tergantung orang yang melihat, misalnya ada sejumlah orang yang sebelumnya menjadi anggota DPRD dari PDIP dan tidak terpilih lagi pada Pilkada Jembrana berbeda pilihan dengan rekomendasi dan perintah partai.

Mereka yang tidak terpilih lagi menjadi anggota dewan tidak masuk dalam struktur partai meskipun mengantongi kartu anggota. Kesimpulannya dari segi struktur kami masih solid,”tandasnya.

Bahkan, imbuh Sri Sutharmi, mengenai hasil Pilkda Jembrana, usai Pilkada serentak selesai, DPD PDIP Bali sudah sempat rapat.

Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster sudah menerima hasilnya, tidak ada wacana mengatakan akan evaluasi.

"Kalau ada evaluasi, kami-kami pasti dilibatkan. Tetapi sampai sekarang belum ada wacana maupun rencana evaluasi. Tapi kemungkinan tidak ada evaluasi, karena kalau ada evaluasi pasti disampaikan saat rapat setelah Pilkada bahwa akan dievaluasi," tandasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Bupati Jembrana I Putu Artha setelah  16 Februari  berakhir masa jabatan periode keduanya bersama wakil bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan selama dua periode, akan fokus pada partai yang telah mengantarkan menjadi bupati dua periode.

Putu Artha mengungkapkan, pada saat Pilkada Jembrana yang digelar 9 Desember lalu, menduga ada perpecahan di tubuh PDIP Jembrana sehingga membuat dukungan terhadap calon bupati dan akil bupati yang diusung PDIP kurang maksimal dan akhirnya kalah.

Karena itu setelah selesai menjabat sebagai bupati, Putu Artha ingin fokus mengurus partai. Menyatukan dan merukunkan kembali kader PDIP agar solid lagi, jika sebelumnya terjadi friksi di tubuh PDIP.

“Apalagi saat sekarang ini ada sedikit kurang baik karena situasi kemarin itu (Pilkada). Saya ingin bisa rukun lagi, akur lagi,” ujar Artha saat itu.

Selain itu, Putu Artha juga mengaku sudah bertemu dengan Gubernur Bali Wayan Koster yang juga ketua DPD PDIP Bali dan menyampaikan akan fokus mengurus partai setelah selai menjadi bupati.

Karena menurutnya, tidak mungkin terjadi persatuan lagi di PDIP jika tidak ada yang membuat bersatu lagi. Putu Artha mengaku akan menerima apapun perintah dari partai kelak.

“Kita akan bersama-sama introspeksi diri. Jangan sampai kita berpikir untuk diri sendiri kedepannya,” tukasnya. 

(rb/bas/pra/JPR)

 TOP