alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Menengok Kerajinan “Saab” di Desa Nagasepaha

Sempat Jaya Pada 1990-an, Kini Kesulitan Akses Pemasaran Karena Covid

15 Februari 2021, 02: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

kerajinan saab, desa nagasepaha, perajin saab mute, kesulitan akses pasar, pandemi covid-19

Made Rejeki menunjukkan produk kerajinan saab mute (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

Desa Nagasepaha terkenal dengan sejumlah kerajinan. Mulai dari lukisan wayang kaca hingga kerajinan wayang.

Selain itu kaum hawa di desa setempat juga menggeluti kerajinan saab atau tudung saji. Sayangnya pandemi membuat usaha ini kembang kempis.

EKA PRASETYA, Buleleng

PAGI itu Made Rejeki, terlihat sibuk melayani pembeli. Sejumlah ibu-ibu sedang tawar menawar buah yang dijual.

Para ibu memang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan upakara untuk hari raya Tumpek Landep, yang jatuh pada Sabtu (13/2).

Warung itu terlihat cukup mencolok. Lokasinya hanya 50 meter arah selatan SDN 1 Nagasepaha. Di lokasi itu Made Rejeki tinggal, sekaligus mengadu nasib sebagai pedagang.

Rejeki merupakan salah satu warga yang menggeluti usaha kerajinan saab mute atau tudung saji di Nagasepaha.

Di warung milik Rejeki terlihat ada beberapa saab yang dipajang. Mulai dari ukuran kecil yang memiliki diameter sekitar 10 centimeter, hingga ukuran paling besar yang berukuran diameter sekitar 35 centimeter. 

Saab itu merupakan contoh-contoh kerajinan yang pernah diproduksi oleh keluarganya. Kerajinan saab mute di Desa Nagasepeha memiliki reputasi yang cukup mentereng di Bali.

Keluarga Made Rejeki bisa dibilang keluarga pionir kerajinan saab mute di Nagasepaha. Wanita yang kini berusia 60 tahun itu mengaku sudah membuat saab mute tersebut sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Sudah dari buyut saat buat saab ini,” tutur Rejeki. Ia mengaku pertama kali membuat kerajinan itu setelah diajari oleh ibunya, Ketut Meraga.

Kebetulan saat anak-anak ia memang hobi menjarit. Saat diajari membuat kerajinan itu, ia langsung tenggelam menggeluti kerajinan itu.

Menurut Rejeki, pembuatan saab dimulai dari menganyam daun rotan. Daun dianyam sedemikian rupa, hingga berbentuk melingkar.

Setelah siap, saab kemudian dicat agar menarik. Selanjutnya manik-manik dijarit pada selembar kain beludru. Setelah jaritan manik-manik siap, baru dirangkai pada saab yang sudah disiapkan.

Sepintas hal itu terlihat sederhana. Namun cukup rumit saat dikerjakan. Untuk membuat sebuah saab mute berukuran kecil, Rejeki mengaku hanya membutuhkan waktu minimal sehari.

Sementara untuk ukuran besar, bisa menghabiskan waktu hingga 3 hari. Ia menyebut kerajinan saab mute itu dulunya sangat tersohor.

Made Rejeki bahkan rela hanya tamat sekolah dasar, agar bisa fokus menggeluti kerajinan saab mute, sekaligus melanjutkan usaha keluarganya.

Kerajinan ini mencapai masa jaya pada masa 1990-an. Tatkala itu pesanan kerajinan sangat banyak. Laba yang dihasilkan, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan cukup untuk membeli tanah di desa.

“Dulu saya rutin ikut pameran di PKB (Pesta Kesenian Bali, Red). Sekali pameran itu saya bawa dua pikap, itu sudah pasti habis. Sekarang tidak pernah ikut (pameran) lagi. Perhatiannya sudah tidak seperti dulu,” tuturnya.

Sejak tahun 2000-an, usaha ini terjun bebas. Persaingan di dunia kerajinan makin ketat. Persaingan bukan hanya soal kualitas, namun juga merambah ke harga.

Persaingan harga menyebabkan harga jual terjun bebas. Bahkan hasil kerja perajin kerap dihargai sangat murah. Hanya Rp 2.000 untuk setiap saab yang dibuat. Belum lagi minat konsumen yang menurun.

Ia akhirnya merambah usaha lain. Seperti membuat nare (sarana untuk melayat) yang dihiasi manik-manik, hiasan dinding yang dilengkapi mute, serta lamak (perhiasan pelinggih) yang juga dihiasi mute.

Semuanya dilakukan agar usaha keluarganya tetap lestari. Kini masa pandemi membuat usaha keluarganya kian terpukul.

Ia akhirnya lebih fokus mengurus usaha warung yang ada di rumahnya. Ia hanya membuat kerajinan, saat ada pesanan. Biasanya setiap produk ia jual dengan kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribu per buah.

“Saya juga sudah jarang-jarang buat sendiri. Kalau ada pesanan, saya kasih ke tenaga. Usia sudah tua begini, mata jadi kurang awas. Kecuali kalau memang sedang tidak ada kegiatan, ya iseng-iseng tetap buat kerajinan,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UMKM Buleleng Dewa Made Sudiarta mengatakan, produk itu memang menjadi salah satu produk unggulan di Desa Nagasepeha.

Menurut Sudiarta, pihaknya akan berusaha membantu promosi produk-produk tersebut. Sehingga dikenal oleh khalayak luas.

“Kami juga akan upayakan agar perajin bisa memasarkan sendiri secara online. Karena pemasaran lewat online, membuat peluang pasar menjadi lebih luas.

Kalau dilihat kualitasnya, memang itu sangat unik. Apalagi ini kerajinan tangan. Biasanya sangat diminati oleh pasar wisatawan mancanegara,” kata Sudiarta. (*)

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP