alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Menengok Bank Sampah di Batuan, Sukawati

Canggih, Input Sampah Pakai Sistem Digital, Uang Ditarik saat Galungan

19 Februari 2021, 10: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

bank sampah, bumdes batuan, batuan sukawati, input sampah, sistem digital, hari raya galungan

Masyarakat desa Batuan menukarkan sampah plastik untuk ditukar dengan uang yang ditabung melalui BUMDes (Istimewa)

Share this      

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Batuan, Kecamatan Sukawati, punya inovasi. Bekerja sama dengan organisasi pegiat lingkungan, Griya Luhu, membentuk bank sampah.

Bedanya, hasil sampah diinput secara digital. Lewat aplikasi, masyarakat bisa tahu berapa saldo mereka.

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

TUMPUKAN sampah dari masyarakat Desa Batuan menumpuk di tiap bale Banjar. Sampah plastik itu kemudian dihitung dan didata oleh  petugas BUMDes.

Pelaksanaan Bank Sampah tersebut digelar rutin tiap satu bulan sekali di Desa Batuan. Hal itu untuk memberdayakan kelompok PKK di masing-masing banjar.

Yang membuat bank sampah ini sedikit berbeda, karena menggunakan sistem digital. Nasabah yang terdaftar diinput datanya.

Kemudian jumlah sampah yang ditabung, hingga total nilai sampah langsung direkam lewat aplikasi digital.

Perbekel Batuan, Ari Anggara, menyatakan Bank Sampah Digital ini merupakan hasil bekerjasama dengan Griya Luhu.

“Hal ini merupakan salah satu janji saya saat kampanye tahun lalu, yaitu Kolaborasi Pembentukan Bank Sampah Berbasis PKK

yang tertuang pada misi kedua yakni Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Hidup di Desa Batuan,” ujar Ari Anggara kemarin.

Pelaksanaan Bank Sampah dilakukan untuk meminimalkan pengangkutan sampah, utamanya sampah non organik ke TPA Temesi.

“Karena seperti diketahui, TPA memiliki keterbatasan. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti pasti akan terjadi masalah,” ujarnya.

Contoh kecil yang terjadi beberapa minggu ini, jadwalnya sering agak kacau karena kondisi cuaca dan kendala teknis di TPA.

Maka dari itu, sejak awal, pihaknya bermimpi suatu saat yang dibawa dari desa Batuan ke TPA hanya berupa residu. “Dan, sisanya dimanfaatkan dan jadikan potensi ekonomi. Salah satunya adalah Bank Sampah,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, Bank Sampah ini hasil kerjasama dengan Griya Luhu. Sehingga bisa digital dan berbasis aplikasi untuk yang mau menggunakan aplikasi.

Cara kerjanya, aplikasi itu disediakan oleh Griya Luhu. Setiap PKK punya alamat akun di aplikasi Griya Luhu. Kemudian pengurus bisa membuka akun dengan memasukkan nomor.

Di akun itulah kemudian data nasabah penabung sampah tercatat. Namun pihaknya juga masih menginput data berbasis manual. Sebab tidak semua fasih dengan teknologi.

“Kami lakukan dengan melibatkan kader PKK masing-masing banjar dan Karang Taruna,” jelas Ari Anggara lagi.

Dari aplikasi tersebut, masyarakat yang sudah menabung sampah bisa mengetahui berapa saldo mereka. “Tabungannya akan dicairkan setiap menjelang hari raya Galungan,” imbuhnya.

Ari mengalkulasi, jika setiap bulan, nasabah memiliki saldo Rp 50 ribu, dikalikan 6 bulan maka saat hari raya Galungan, saldo tabungan sampah mencukupi untuk kebutuhan upacara.

“Minimal menutupi untuk membeli daging untuk lawar atau balung,” ungkapnya. Maka dari itu pihaknya berharap semakin banyak keluarga yang sadar memilah dan menabungnya ke Bank Sampah.

Dan tahun ini, Desa Batuan juga sedang berjuang membangun TPS3R di Desa Adat Negara. TPS3R ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah sampah organik.

Jika TPS3R terbangun, maka sedikit tidaknya membantu mengurangi beban masalah persampahan. “Saya orang yang percaya masalah sampah harus dikeroyok dari semua sisi,” bebernya.

Sejumlah program sudah dilakukan guna menekan peredaran sampah di desa Batuan. Mulai dari Bank Sampah, Edukasi, membangun TPS3R, dan membuat Biopori.

“Termasuk mungkin Plastik Exchange (tukar sampah dengan beras, red) sesekali untuk memberikan semangat dan reward,” jelasnya.

Tapi kata dia, dari semuanya ini tetap yang terpenting adalah membangun kesadaran di rumah tangga sendiri. “Yang terpenting semuanya sadar tentang ini,” pungkas perbekel lulusan magister UGM tersebut. (*)

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP