alexametrics
Senin, 01 Mar 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tipu Dokter Rp 1,5 Miliar, Oknum Dokter Asal Klungkung Jadi Pesakitan

Modusnya Janjikan Korban Diterima di FK Unud

22 Februari 2021, 20: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

oknum dokter, dokter asal Klungkung, klungkung bali, Fakultas Kedokteran Unud, spesialis Kulit, dokter menipu, dokter jadi pesakitan, Kejari Denpasar,

Ilustrasi (today.line)

Share this      

DENPASAR– Seorang oknum dokter asal Klungkung, Bali harus jadi pesakitan gara-gara melakukan tindakan penipu.

Dia adalah Irfana, pria berusia 42 tahun dan berprofesi sebagai dokter ini harus jadi pesakitan gara-gara menipu korban Elizabeth Lisa Ernalis, 29, yang sama-sama berprofesi sebagai dokter.

Seperti dibenarkan Kasi Pidum Kejari Denpasar, I Wayan Eka Widanta, Senin (22/2).

Kata Eka Widanta, modus pria kelahiran Klungkung 9 Oktober 1978 ini, yakni dengan menjanjikan saksi korban Elizabeth Lisa Ernalis, 29, bisa diterima kuliah spesialis dokter kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud).

“Pelakunya dokter, korbannya juga dokter. Jadi dokter menipu dokter. Kerugian korban Rp 1, 5 miliar,” ujar Eka Widanta usai sidang daring.

Sementara itu, terkait kronologi hingga kasus ini bergulir ke meja hijau, Eka menjelaskan, bahwa terungkapnya perkara ini berawal dari saksi korban datang ke rumah terdakwa di Klungkung untuk silahturahmi menjenguk istri terdakwa yang baru saja melahirkan, yaitu saksi dr. Argya Ayu Perwitasari, pada 24 Juni 2018 lalu.

Saat berada dirumah terdakwa, saksi dr. Argya Ayu Perwitasari menawarkan saksi korban untuk masuk spesialis kedokteran kulit pada Fakultas Kedokteran Unud.

Terdakwa juga meyakinkan korban dengan mengatakan punya banyak kenalan di Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, dan Unud.

“99 persen berhasil (jadi dokter spesialis), 1 persen kita serahkan kepada Tuhan” ujar JPU Agus menirukan perkataan terdakwa pada korban.

Selanjutnya, pada 21 Juli 2018 terdakwa menelepon dan juga mengirim pesan melalui WhatsApp (WA) pada korban. Terdakwa mengatakan sudah ada orang yang memastikan membantu korban kuliah di Fakultas Kedokteran Unud.

Selanjutnya, pada 25 Juli 2018, terdakwa bersama ibunya datang ke rumah terdakwa di Klungkung.

Terdakwa menyatakan bisa membantu saksi korban untuk kuliah spesilalis dokter kulit dari awal persiapan sampai akhir.

“Terdakwa meminta uang sebesar Rp 2 miliar pada korban. Namun, korban menawar Rp 1, 5 miliar,” beber JPU Kejari Denpasar itu.

Kemudian, pada 26 Juli 2018 sekitar pukul 13.00 WITA, saksi korban bertemu dengan terdakwa untuk meminta uang sebagai tanda jadi. Saat itu juga saksi korban mentransfer uang sebesar Rp 50 juta ke rekening terdakwa melalui mesin ATM yang ada didekat kampus Unud Denpasar.

Keesokan harinya atau pada 27 Juli 2018, saksi korban kembali mentransfer uang sebesar Rp 450 juta ke rekening terdakwa melalui Bank BCA Komplek Grand Sudirman di Jalan PB Sudirman Denpasar.

Pada14 September 2018, terdakwa datang ke rumah saksi korban di Jakarta untuk menagih kekurangan uang sebesar Rp 1 miliar.

Korban sempat menanyakan kembali pada terdawka, apakah benar bisa membantu. Terdakwa meyakinkan korban, bahwa dirinya bisa membantu. Korban yang sudah yakin akhirnya mentransfer uang ke rekening terdakwa.

Korban mentranfser uang ke rekening terdakwa secara bertahap hingga 12 kali dalam beberapa hari.

Untuk meyakinkan saksi korban dan ibunya, terdakwa menyerahkan cek kepada saksi korban pada 27 Juli 2018  berupa cek BCA senilai Rp 500 juta.

Terdakwa mengatakan tidak mungkin menipu. “Apabila tidak lulus, maka H+1 (satu hari setelah ujian) cek tersebut pasti bisa dicairkan,” kata terdakwa.

Kemudian, pada 14 September 2018, terdakwa menyerahkan dua lembar cek BCA masing-masing senilai Rp 500 juta di rumah  saksi korban di Jakarta.

“Kamu tenang saja, uangmu tidak saya pakai dan hanya sebagai jaminan. Cek ini sebagai jaminan yang bisa dicairkan pada H+1 dan pasti ada dananya,” imbuh terdakwa berusaha meyakinkan.

Pada 28-30 Oktober 2018, saksi korban mengikuti seleksi penerimaan  mahasiswa  baru spesialis kedokteran kulit di Fakultas Kedokteran Unud.

Namun, pada saat pengumuman 9 November 2018, nama saksi korban tidak muncul sebagai mahasiswa yang diterima mengikuti kuliah pada spesialis kedokteran kulit di Fakultas Kedokteran Unud. Korban pun merasa ditipu oleh terdakwa.

Selanjutnya, pada 10 November 2018 saksi korban menelepon terdakwa dengan maksud akan mencairkan  ketiga lembar cek yang sebelumnya diberikan oleh terdakwa.

Namun, terdakwa menyebut cek tersebut karena sudah kedaluwarsa dan pada tanggal 16 November 2018.

Menariknya, meski tak dapat memenuhi janjinya, terdakwa tetap percaya diri datang ke rumah saksi korban di Jakarta dan menyerahkan empat lembar cek BCA.

Tiga lembar cek  masing-masing senilai Rp 500 juta dan satu lembar cek senilai Rp 15 juta.

Jatuh tempo ke empat lembar cek tersebut pada Desember 2018.

Namun, setelah bulan Desember 2018 keempat lembar cek tersebut dicairkan karena tidak ada dananya.

Kini atas perbuatannya, terdakwa Irfana didakwa dengan Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP dengan ancaman pidana penjara empat tahun.

(rb/san/pra/JPR)

 TOP