alexametrics
Sabtu, 16 Oct 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Di Balik Maraknya Kasus Narkoba di Tabanan

Demi Uang, Banyak Eks Pekerja Pariwisata dan Pesiar Beralih Jadi Kurir

25 Februari 2021, 20: 30: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Kasus narkoba, pandemi, Polres Tabanan, kasus narkoba meningkat, pesiar jadi kurir, demi uang, eks pekerja pariwisata, korban PHK, pekerja dirumahkan,

Lima tersangka kasus narkoba di Mapolres Tabanan, Kamis (25/2) (Juliadi)

Share this      

TABANAN-Selama pandemi ini, kasus narkoba di Polres Tabanan mengalami peningkatan drastis.

Peningkatan angka kejahatan narkoba di wilayah hukum Polres Tabanan, itu diduga tak lepas dari krisis ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 yang belum juga reda.

Bahkan dari sejak awal Januari 2021, sudah tercatat ada tujuh kasus dengan delapan orang ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga: Temukan Patahan Ranting, Diduga Korban Tewas Saat Menikmati Sunset

Bahkan yang mengejutkan, dari data para tersangka narkoba yang ditangkap selama pandemi, hampir sebagian besar adalah pemain baru.

Mirisnya lagi, dari latar belakang para tersangka, selain pekerja freelance atau tenaga lepas, hampir sebagian besar adalah pekerja sektor pariwisata yang dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Seperti disampaikan Kasat Narkoba Polres Tabanan AKP I Gede Sudiarna Putra, Kamis (25/2).

Didampingi Kasubag Humas Polres Tabanan, Iptu Nyoman Subagia, ia menyebutkan, bahwa sejak dirinya menjabat sebagai kasat pada 2020 lalu, tercatat sudah ada 40 tersangka narkoba dari 31 kasus yang diungkap di Tabanan.

Menurut AKP Sudiarna, dengan kondisi ekonomi yang sulit dan alih-alih bisa memperoleh penghasilan, saat ini, banyak dari masyarakat yang justru terjerumus dan mengambil jalan pintas ke dunia narkotika.

Bahkan, selain pekerja sektor pariwisata lokal Bali, beberapa tersangka juga sebelumnya bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) atau yang lebih dikenal sebagai pekerja kapal pesiar.

“Berdalih karena pandemi, mereka malah nekat menjadi kurir narkoba,”ujar AKP Sudiarna Putra menyesalkan.

Lebih lanjut, Sudiarna Putra menjelaskan, bahwa dari pengakuan para tersangka, hampir sebagian besar mengaku terjerumus ke dunia narkoba lantaran upah yang diterima juga cukup menggiurkan.

“Dalam sekali 'tempel' para pengedar ini biasanya menerima upah antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Bisa dibayangkan dalam sehari ia nempel beberapa kali,” imbuhnya.  

Seperti saat penangkapan terbaru terhadap lima tersangka kasus narkotika.

Dari lima tersangka, dua diantaranya adalah residivis. Sedangkan tiga lainnya pemain baru.

Kelima tersangka ini, yakni masing-masing I Wayan Eka Putra alias Eka alias Malen, 37, ditangkap di Jalan Rambutan, Delod Peken, Tabanan. (Residivis dengan barang bukti 18 paket sabu seberat 3,45 gram);

Mohamad Zahri Amin alias Robin alias Saipul, 31, Ditangkap di Jalan A.Yani Kediri, Tabana (Residivis dengan BB 3 paket sabu dengan berat 135,10 gram);

I Wayan Suryantika alias Penyok, 33, ditangkap di Selemadeg Timur (BB sebuah paket sabu berat 0,30 gram);

serta Teguh Eko Susanto alias Ekok, 42 dan I Kade Agus Sandiawan alias Dogler, 29, keduanya ditangkap di Banjar Sema, Kediri, Tabanan ( BB 7 buah paket sabu seberat 1,45 gram).

Atas perbuatannya, kelima tersangka Akibat perbuatannya kelima tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat (1) atau kedua Pasal 112 ayat  (1) UU nomor 35 Tahun  2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda paling sedikit Rp 1 miliar dan maksimal Rp 10 miliar.

(rb/jul/pra/JPR)

 TOP