alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Dari Cerita Pasutri Asal Busungbiu, Buleleng

Anak Ketiga Lahir dengan Kelamin Ganda, Ragu Saat Mau Berikan Nama

25 Februari 2021, 23: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

bayi berkelamin ganda, nestapa pasutri, pasutri asal Busungbiu, Dinsos Buleleng, keluarga miskin, Pemkab Buleleng, kasus kelamin ganda,

Kondisi bayi berkelamin ganda saat digendong ibunya (kiri) di rumahnya di Desa Sepang, Busungbiu, Buleleng. (Eka Prasetya)

Share this      

I Dewa Made Rai Sudarsana dan Made Giriantini, pasutri asal Desa Sepang, Busungbiu, Buleleng, Bali tengah dirundung rasa bimbang.

Hati mereka bergejolak antara senang namun juga gelisah.

Kegaluan pasutri ini, setelah anak ketiganya lahir dengan kelamin ganda. Seperti apa?

Baca juga: Usai Nonton Film, Seorang Bapak di Denpasar Tega Setubuhi Anak Kandung

EKA PRASETYA, Busungbiu

WAJAH Rai Sudarsana terlihat nelangsa. Ia benar-benar dibuat bingung sekaligus bimbang dengan kondisi anak bungsunya.

Anak bungsu itu lahir pada Selasa (16/2) lalu.

Yang membuat Rai bingung, karena kondisi organ reproduksi anaknya tak seperti bayi lainnya.

Sang anak terlahir dengan organ reproduksi atau alat kelamin ganda.

Ditemui di rumahnya yang sangat terpencil dan jauh dari hiruk pikuk keramaian, I Dewa Made Rai Sudarsana pun menceritakan awal kegaluannya.

Kegelisahan Dewa Made Rai, itu berawal saat sang istri, Jro Made Giriantini merasakan mulas pada perut, Sabtu (13/2) pagi. Selama beberapa hari, istrinya masih bisa menahan sakit dan beraktivitas seperti biasa.

Pada Selasa pagi ternyata air ketuban dalam rahim Giriantini pecah. Rai akhirnya melarikan istrinya ke Puskesmas Busungbiu II yang terletak di Desa Pucaksari.

Berjarak sekitar 12 kilometer dari rumahnya. Begitu sampai di rumah sakit tim medis, langsung menyarankan agar Giriantini dievakuasi ke rumah sakit, lantaran membutuhkan penanganan dan peralatan medis yang lebih lengkap.

Selanjutnya, tepat pukul 18.00 Selasa sore, Giriantini melahirkan anak bungsunya di RS Karya Dharma Husada (KDH) Singaraja.

Saat itu sang anak lahir dengan berat 3,2 kilogram lewat proses persalinan operasi caesar. “Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata ada kelainan pada alat kelamin anak saya,” ujar Rai Sudarsana, Kamis (25/2).

Ia menuturkan pada bagian kelamin terbentuk organ yang menyerupai vagina. Namun di tengah-tengah muncul penis, hanya saja buah zakarnya belum terbentuk.

Lewat penis itu pula, sang anak disebut bisa buang air kecil.

Karena kondisi sang ibu dan anak saat itu relatif sehat, pihak rumah sakit pun mengizinkan ibu dan anak pulang.

Rencananya mereka akan melakukan kontrol lanjutan pada tim medis pada Jumat (26/2) siang.

Selama proses kehamilan istrinya, Rai menyebut tidak ada masalah sama sekali.

Istrinya rutin memeriksakan diri ke bidan. Selama masa kehamilan juga rutin melakukan pemeriksaan USG.

Terkait kondisi sang anak, Rai mengaku sempat melakukan konsultasi dengan dokter. Hanya saja mereka diminta melakukan pengecekan menyeluruh lewat laboratorium swasta.

Mengingat kondisi laboratorium di RS swasta itu masih terbatas. Kondisi itu membuat Rai bimbang, sebab ia hanya bekerja sebagai petani penggarap lahan. Saat istrinya melahirkan pun, ia hanya mengandalkan KIS.

“Dokter sih menyarankan nanti tunggu 3 bulan, biar bisa USG. Kami harap bisa cepat, biar jelas kelamin anak saya. Biar cepat bisa kasih nama,” ujarnya.

Sementara itu, Perbekel Sepang I Putu Agung Mahardika mengatakan, dirinya baru menerima informasi tersebut pada Senin (22/2).

Mahardika mengaku sudah membuat surat pengantar pada Dinas Sosial Buleleng, agar sang bayi dapat difasilitasi bantuan KIS.

“Harapan dari keluarga kan supaya cepat tertangani, dan biar tidak terbebani biaya. Karena tradisi kita di Bali, setelah upacara tiga bulanan, diberi nama. Kalau kondisinya seperti ini kan serba ragu memberikan nama,” kata Mahardika.

Menurutnya, ini bukan kasus pertama yang terjadi di Desa Sepang. Pada tahun 2010 lalu, juga lahir seorang bayi yang memiliki kelamin ganda.

Kini sang bayi sudah berusia 10 tahun. Semestinya anak itu dioperasi pada tahun 2020 lalu. Namun karena kondisi pandemi, proses operasi menjadi tertunda.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Buleleng I Putu Kariaman Putra mengatakan, setelah melihat langsung kondisi bayi tersebut, memang dibutuhkan langkah-langkah penanganan yang cepat.

Kariaman menyebut saat ini sang bayi belum terdaftar sebagai peserta KIS. Sementara orang tua dan kedua kakaknya sudah terdaftar.

“Langkah awal bayinya ini harus didaftarkan KIS dulu. Hari ini kami sudah buatkan pengantar pada BPJS, agar segera didaftarkan. Biar keluarga ini tidak terbebani biaya. Karena untuk proses pengobatan, operasi, dan lainnya itu pasti butuh biaya banyak,” kata Kariaman.

Nantinya Dinas Sosial Buleleng akan berkoordinasi dengan RSUD Buleleng. Rencananya pemerintah juga akan melakukan pendekatan pada pihak RS Swasta, agar pasien dapat dirujuk ke RSUD Buleleng. Hal itu dilakukan semata-mata demi memudahkan proses perawatan dan koordinasi di bawah pengawasan pemerintah.

“Kalau KIS-nya sudah terbit, perawatan dan rujukan nanti kan gratis. Ini akan kami kawal supaya bisa terselesaikan. Minimal KIS-nya harus selesai. Supaya keluarga ini tidak terbebani dengan masalah pembiayaan,” tukas Kariaman. 

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP