alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Hujan Es Sebesar Batu Kerikil Terjang Wilayah Kubu Bangli Bali

26 Februari 2021, 18: 30: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

fenomena hujan es, hail, kubu bangli, bali, BPBD, BMKG, angin kencang, pancaroba, cuaca panas, kelembaban, cuaca ekstrem,

Butiran es berbentuk bulat mirip kelereng yang sempat dipotret warga saat hujan es di wilayah Kubu, Bangli, Jumat siang (26/2) (Istimewa)

Share this      

BANGLI-Fenomena hujan es atau hail terjadi di kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Bali, Jumat siang (26/2) sekitar pukul 13.00 WITA.

Meski merupakan fenomena biasa, namun banyak warga setempat yang sempat dibuat kaget dengan jatuhnya butiran es sebesar batu kerikil itu.

Terkait fenonema hujan es yang terjadi di Kubu, Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli, Agus Sutapa, saat dikonfirmasi membenarkan.

Baca juga: Siswa Sekolah Pariwisata Kesulitan Tempat Training karena Hotel Tutup

“Betul, wilayah Kubu terjadi fenomena hujan es,” tandas Agus Sutapa.

Ditambahkan, selama hujan es, di kawasan Kubu, awan tampak berwarna sangat pekat.

Kemudian, hujan deras mengguyur dengan disertai angin kencang.

Menurut Agus Sutapa, saat terjadi hujan es, banyak warga di wilayah Kelurahan Kubu yang menyaksikan. 

Bahkan, beberapa warga sempat memotret butiran es yang berbentuk mirip kelereng itu.

“Astungkara saat hujan es berlangsung tidak terjadi hal yang tak diinginkan,”ujarnya.

Sementara itu, masih terkait fenomena hujan es, Agus Sutapa juga menyatakan bahwa pihak BPBD Bangli sendiri sempat berkoordinasi dengan Balai Meteoroligi Klimatologi Geofisika (BMKG).

Berdasarkan penjelasan Humas BMKG yang diterima oleh BPBD, Agus Sutapa mengatakan bahwa sehari sebelumnya (sebelum fenomena hujan es), atau tepatnya saat Kamis malam (25/2) cuaca di wilayah Kubu terasa lebih gerah dan panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Bahkan cuaca panas itu dirasakan warga dari sejak malam hingga jumat pagi tadi.

Terkait udara panas yang dirasakan warga, Agus Sutapa menjelaskan bahwa dari keterangan BMKG, hal itu terjadi akibat adanya radiasi matahari yang cukup kuat.

Bukti adanya radiasi matahari yang kuat itu ditunjukkan dari nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) dengan nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%).

“Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis). Diantara awan tersebut, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol,”terang Agus.

Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

“Biasanya, hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,”tambahnya menjelaskan.

Jika 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim pancaroba, kata Agus, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang. Baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Penjelasan selanjutnya, luasan hujan es berkisar 5-10 km, dengan waktu sekitar kurang dari 10 menit.

Hal itu lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba). Lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari.

(rb/dra/pra/JPR)

 TOP