alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Kadisperindag Klaim Sudah Ada Koperasi Arak Join Pemegang Izin Miras

04 Maret 2021, 18: 32: 26 WIB | editor : ali mustofa

Nyoman Mangku Merta, perajin arak di Banjar Merita menunjukkan alat distilasi atau penyulingan arak.

Nyoman Mangku Merta, perajin arak di Banjar Merita menunjukkan alat distilasi atau penyulingan arak. (ZULFIKA RAHMAN/ RADAR BALI)

Share this      

DENPASAR - Kasisperindag Bali I Wayan Jatra mengklaim sudah ada beberapa kerja sama atau join yang dibangun antara koperasi perajin arak dengan pemegang izin produksi miras (minuman keras) di Bali. Hal ini menindaklanjuti Pergub Bali Nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi/ Distilasi Khas Bali.

"Sudah ada beberapa pemegang IUI Mikol yang sudah menjalin kerjasama dengan koperasi arak," aku Jatra.

Namun, ketika ditanya berapa koperasi dan koperasi apa saja yang sudah bekerja sama dengan pemegang IUI miras, dia mengaku tak memegang data.

Baca juga: Teriakan Anak Jadi Awal Mula Korban Tewas Dikeroyok Dua Kawanan Maling

Meski Disperindag mengklaim sudah ada koperasi yang bekerja dengan pemegang izin usaha industri (IUI) Mikol, sejauh ini beberapa perajin mengaku belum mendapat manfaat dari Pergub 1 tahun 2020.

Seperti diungkapkan Nyoman Mangku Merta, perajin arak di Banjar Merita, Karangasem belum lama ini. Dia mengatakan, sejak Pergub 1 tahun 2020 itu terbit, tidak ada yang berubah. Sampai saat ini juga belum ada koperasi perajin arak di Banjarnya, meski sebagian besar warga di Merita adalah perajin arak.

Pemasaran arak sendiri, kata Mangku Merta, sudah ada pengepul yang mengambil. Tidak hanya pengepul dari seputaran Bali, namun juga dari luar Bali yakni wilayah Pulau Jawa hingga luar pulau Jawa. Masing-masing industri rumahan arak sendiri telah memiliki pengepul yang membeli arak mereka.

Untuk satu kalor berisi 50 botol air kemasan ukuran 600 mili, ia menjual seharga Rp700 ribu. Namun dia menyesalkan, masih ada saja permainan harga yang diatur oleh para pengepul. Misalnya ketika produksi arak cukup banyak, harga arak justru dihargai murah. Para pembuat arak pun tidak bisa berbuat banyak.

“Ketika araknya banyak maka harganya diturunkan. Nanti oleh pengepul dibuat stok. Ketika musim hujan saat produksi arak tidak ada, arak tersebut dijual dengan harga tinggi," katanya.

"Kami berharap kepada pemerintah dengan adanya aturan Gubernur yang sudah melegalkan arak Bali, ada tata kelola pemasaran arak di Bali lebih baik lagi. Seperti apa bentuknya, yang penting bisa mengangkat perekonomian masyarakat pembuat arak di Merita ini. Misalnya dalam bentuk koperasi atau wadah yang bisa memberi efek peningkatan kesejahteraan para pembuat arak di Merita dan daerah lainnya,” imbuh pria 41 tahun ini.

(rb/zul/ara/yor/mus/JPR)

 TOP