alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarbali
Home > Radar Buleleng
icon featured
Radar Buleleng

Tegallinggah Diyakini Jadi Pusat Peradaban Kuno Bali Masa Neolitikum

07 April 2021, 11: 10: 59 WIB | editor : ali mustofa

desa tegallingah, pusat peradaban kuno, peradaban kuno, masa neolitikum, balai arkeologi bali

Tim dari Balai Arkeologi Denpasar dan BPCB Bali saat melakukan penelitian di Desa Tegallinggah (Disbud Buleleng for Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Desa Tegallinggah di Kecamatan Sukasada diyakini sebagai salah satu pusat peradaban kuno di masa neolitikum.

Keyakinan itu muncul dari para peneliti di Balai Arkeologi Bali, seiring dengan temuan sebuah sarkofagus di desa tersebut.

Tim dari Balai Arkeologi Bali dan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali telah melakukan penelitian di Desa Tegallinggah pada Sabtu (3/4) pekan lalu.

Baca juga: Soal Retribusi Menara Telekomunikasi, Buleleng Usulkan Tarif Tunggal

Dari hasil penelitian, ditemukan fakta bahwa temuan sarkofagus itu terbilang unik. Karena tidak sama dengan temuan-temuan sarkofagus di tempat lain.

Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, sarkofagus berfungsi sebagai peti kubur pada masa lalu.

Tak semua orang dikubur menggunakan sarkofagus. Menurut Suarbhawa, hanya orang dengan status tertentu saja yang berhak dikubur menggunakan sarkofagus.

“Bisa dibilang status orang yang dikubur pada peti batu itu terbilang tinggi. Entah dari ekonomi atau kedudukan sosial.

Kalau jaman sekarang, orang tertentu menggunakan bade tertentu. Jadi sarkofagus ya semacam itu,” kata Suarbhawa.

Para peneliti di Balai Arkeologi meyakini bahwa Tegallinggah dan Desa Selat sempat menjadi pusat peradaban pada masa kuno.

Terbukti dengan temuan sarkofagus tersebut. Uniknya bahan batuan yang digunakan sebagai sarkofagus, tidak ditemukan di sekitar Tegallinggah.

“Jadi butuh energi lebih untuk membuat sarkofagus. Bisa dibilang peradaban di sini cukup maju pada masa itu.

Apalagi menurut penuturan masyarakat, banyak ditemukan peti batu. Sayangnya sudah hancur dan dibuang, karena masyarakat juga tidak paham fungsinya untuk apa,” imbuhnya.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP