alexametrics
Senin, 12 Apr 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Duh, Tabanan Stop Karantina Pasien OTG, Kontrak Tracer Jadi Korban

Beban Kerja Tracer Diserahkan ke Puskesmas

08 April 2021, 07: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pandemi covid-19, zona merah, stop karantina, pasien otg, stop kontrak tracer, beban kerja tracer, puskesmas, diskes tabanan

Ilustrasi (Adrian Suwanto/Radar Bali)

Share this      

TABANAN – Satgas Covid-19 Tabanan membuat keputusan tak biasa di tengah upaya meredam penyebaran pandemi Covid-19 di Tabanan.

Selain menyetop pembiayaan karantina di hotel untuk pasien berstatus orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan (GR),

Satgas Covid-19 memutuskan tidak memperpanjang kontrak relawan yang bertugas melakukan pelacakan kontak (contact tracing).

Baca juga: Kakek Renta Ternyata Pensiunan TNI, Polisi Bongkar Aksi Brutal Suweca

Di Tabanan sendiri ada ratusan relawan yang bertugas melakukan contact tracing. Penghentikan kontrak kerja diputuskan menyusul

kebijakan BNPB yang tak memperpanjang masa kerja mereka dengan alasan anggaran pembiayaan honorer sudah tak ada.    

Praktis dengan tak adanya bantuan tersebut, petugas kesehatan di Puskesmas yang ada di Tabanan bakalan kelabakan lantaran tidak ada lagi petugas tracing.

Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, dr Nyoman Suratmika tak menampik perihal tidak diperpanjang tugas dari tenaga kesehatan Tabanan yang bekerja melakukan pelacakan terhadap pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Dia mengaku petugas kontak tracking pasien positif yang direkrut langsung oleh BNPB itu sudah tak lagi bekerja per 31 Maret.

 “Di Tabanan sendiri ada sebanyak 100 tenaga orang tenaga kesehatan yang tak lagi bekerja melakukan pelacakan pasien Covid-19,” kata dr. Suratmika.

Dia menyebut relawan petugas kesehatan tersebut sudah bekerja selama lima bulan yang lalu. Mereka mulai bertugas sebagai tracer sejak 1 Nopember 2020.

Menurutnya, keberadaan relawan petugas kesehatan BNPB sangat membantu kinerja petugas kesehatan yang ada di puskemas ketika menangani pasien Covid-19.

Mereka bekerja untuk memantau perkembangan setiap pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri, mencari rujukan rumah sakit dan tempat karantina

terpusat bagi pasien yang tidak bisa isolasi mandiri dan melakukan tracing kepada warga yang pernah kontak erat dengan pasien Covid-19. Sekaligus melaporkan data.

"Jujur saja, mereka sangat membantu kami di lapangan karena tugas tracking tersebut sangatlah berat. Mulai dari mendata, edukasi dan segala hal lainnya," terang dr. Suratmika.

Dia melanjutkan, dengan diputusnya kontrak 100 tenaga tracking kontak tersebut, praktis beban berat dikembalikam ke Puskesmas masing-masing di Tabanan.

Hanya saja mereka akan dibantu oleh Bidan Desa serta Bhabinkamtibmas yang sudah mendapat pelatihan sebelumnya.

“Sehingga, tugas berat kedepan adalah penelusuran kasus kembali diambil alih oleh tenaga surveilans Puskesmas, Bidan Desa, Satgas Desa, dan bhabinkamtibmas di seluruh desa yang ada.

Pihaknya berharap pemerintah pusat dapat melanjutkan program tersebut karena sangat membantu penelusuran di lapangan.

Mereka yang sebagai petugas tracer meski orang baru, namun tamatan sekolah kesehatan minimal perawat, bidan atau S1 tamatan sekolah kesehatan.

“Kalau tidak ada mereka (relawan) saya rasa tugas dari tenaga yang ada di Tabanan akan cukup berat,” pungkasnya. 

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP