alexametrics
Jumat, 07 May 2021
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Telaga Tirtanadi: Pancoran Solas di Tabanan yang sedang Naik Daun

Dimanfaatkan untuk Mandi hingga Melukat

28 April 2021, 16: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Telaga Tirtanadi, mata air, Pancoran Solas, Desa Selanbawak, Marga, Tabanan, Naik Daun, tempat melukat, Bali,

Tempat pemandian Telaga Tirtanadi di Banjar Selanbawak Kaja, Desa Selanbawak, Marga yang memanfaatkan sumber mata air pancoran solas. (JULIADI/ RADAR BALI)

Share this      

TABANAN – Sumber mata air pancoran solas di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Tabanan ternyata menyimpan potensi yang bagus. Setelah dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Selanbawak, pancoran solas ini pun naik daun.

Pokdarwis Desa Selanbawak mengembangkan sebuah lokasi tempat pemandian lokal. Lokasi pemandian tersebut diberi nama Telaga Tirtanadi letaknya berada dekat dengan Tukad Yeh Sungi yang berlokasi di Banjar Selanbawak Kaja.

Menariknya lokasi pemandian yang kini sudah menjadi lokasi wisata air juga dipadukan dengan wisata spiritual dengan memanfaatkan Pancoran Solas dijadikan tempat melukat. Pancoran Solas yang sudah diwariskan leluhur tersebut letaknya berdampingan dengan kolam baru yang dibuat.

Baca juga: Distan Denpasar Tiba-Tiba Cek Unggas di Pasar Kumbasari, Ada Apa?

Pantauan di lapangan Selasa (27/4) siang, sejumlah masyarakat mulai berdatangan di kolam Telaga Tirtanadi. Ada tiga bagian kolam yang dibuat Pokdarwis Desa Selanbawak untuk bisa dinikmati wisatawan. Paling utara kolam untuk balita, paling tengah kolam untuk remaja, dan paling selatan kolam untuk orang dewasa.

Yang paling menarik dari kolam yang dibuat ini, air yang digunakan tak dicampur bahan kimia (kaporit), melainkan memanfaatkan air beji pancoran solas. Praktisnya air tersebut tanpa harus dikuras sudah dibuat mengalir setiap saat.

Ketua Jejaring Pokdarwis Kabupaten Tabanan I Ketut Aryana menerangkan kolam pemandian Telaga Tirtanadi diresmikan 25 April lalu bertepatan di hari Umanis Kuningan. Saat pertama kali dibuka kunjungan dari masyarakat berlibur cukup mulai ramai. Bahkan masyarakat diluar kabupaten sudah ikut mengunjungi.

"Sayangnya kita belum hitung jumlah kunjungan per hari itu kami buka. Namun sempat mendapat donasi sekitar Rp 900 per hari," ungkapnya.

Dikatakan awal dibuat Telaga Tirtanadi ini berdasarkan sejumlah referensi. Karena Tukad Yeh Sungi terbelah menjadi 2 bagian, utamanya aliran air yang ke kanan kecil banyak warga yang membendung secara manual.

“Kemudian ada mata air pancoran solas yang belum terkelola airnya dengan baik. Pertimbangan kami daripada terbuang begitu saja lebih baik kami manfaatkan. Sehingga sebelum pandemi direncanakan buat kolam permanen,” ujarnya.

Berdasarkan ide tersebut akhirnya diusulkan bantuan ke tingkat kecamatan untuk mendapat biaya pembangunan. Gayung bersambut, bantuan ternyata direalisasikan melalui kecamatan.

"Untuk itu kami sangat berterimakasih kepada pemerintah yang sudah mendorong dan membantu dari segi anggaran," kata Aryana.

Sementara terkait dengan tiket masuk untuk bisa menikmati wisata baru tersebut diakui Aryana masih belum dipatok. Sifatnya masih berupa donasi seikhlasnya. Donasi diberlakukan karena kawasan masih belum ditata sempurna lagi pula toilet masih belum rampung.

"Sifatnya masih donasi (punia), belum ada tiket masuk untuk dapat menikmati kolam Tirta Nadi ini," katanya.

Menurut Aryana kedepan kawasan tersebut terus akan dikembangkan oleh Pokdarwis dan bekerjasama dengan Sekaa Teruna di Banjar Selanbawak Kaja.

“Pengembangan wisata ini akan dipadukan dengan wisata spiritual di Pancoran Solas. Sebab selama ini untuk kunjungan ke Pancoran Solas selalu ramai utamanya wisatawan Eropa. Tiap bulan hampir ada saja  wisatawan Eropa yang berkunjung," pungkasnya.

(rb/jul/yor/mus/JPR)

 TOP