alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radarbali
Home > Radar Jembrana
icon featured
Radar Jembrana

Sempat Diprotes, Kadis LH Sebut Relokasi Sampah Sudah Disetujui Warga

08 Juni 2021, 17: 27: 22 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Relokasi sampah TPA Peh Jembrana, diprotes warga, Kadis LH Jembrana, warga sudah menerima, sanitary landfill,

Komisi III DPRD Jembrana saat mengecek kondisi TPA Peh, di Desa Kaliakah kemarin. (M. BASIR/ RADAR BALI)

Share this      

NEGARA — Rencana relokasi sampah dengan sanitary landfill dari TPA Peh ke bekas galian C milik warga masih menuai protes. Meski pemilik lahan yang meminta, warga sekitar masih ada yang menolak karena dikhawatirkan justru mencemari lingkungan. 

Karena itu, Komisi III DPRD Jembrana meminta dinas terkait untuk aktif melakukan sosialisasi pada warga, sehingga upaya dinas untuk mengurangi sampah yang sudah melebihi kapasitas bisa berjalan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi III DPRD Jembrana, Dewa Putu Mertayasa, usai mengecek TPA Peh Kaliakah dan bekas galian C milik warga yang akan digunakan untuk relokasi sampah dari TPA.

Baca juga: Jasa Raharja Bebaskan Denda SWDKLLJ untuk Tahun Lewat

Menurutnya, relokasi sampah dengan sistem sanitary landfill di lahan warga ini merupakan salah satu solusi mengurangi tumpukan sampah di TPA Peh dan memperpanjang umur penggunaan TPA.

Namun dinas lingkungan hidup harus memastikan bahwa relokasi sampah yang menumpuk di TPA ke lahan eks galian C milik warga memang aman bagi warga sekitar. 

Karena rencana tersebut masih menuai protes dari warga, dari sosialisasi terhadap 39 warga sekitar tempat relokasi masih ada enam orang yang belum setuju karena dikhawatirkan menimbulkan masalah baru. 

“Pada prinsipnya komisi III mendorong program ini melihat kondisi TPA saat ini yang terus menggunung. Akan tetapi harus tetap dikontrol agar aman bagi warga,” terangnya.

Menurutnya, warga yang sudah menyerahkan lahannya untuk menjadi relokasi sampah dari TPA Peh mendapat manfaat, karena lahan bekas galian C yang tidak produktif bisa dimanfaatkan lagi. Begitu juga pemerintah bisa mengatasi sampah yang menggunung.

Mengenai rencana relokasi tersebut, merupakan program dari Dinas Lingkungan Hidup Jembrana untuk mengatasi sampah yang menggunung di TPA Peh. 

Kebetulan ada warga yang memiliki lahan seluas 10 are bekas galian C, sehingga memohon pada dinas agar menggunakan lahannya untuk sampah. 

”Ini bukan TPA baru dan bukan sampah baru. Ini sampah dekomposisi yang sudah jadi kompos dan busuk menumpuk di TPA dipindahkan ke lahan milik warga dan disetujui juga pemiliknya,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup I Wayan Sudiarta.

Sebelum sampah dipindah, dasar tanah eks galian C yang di relokasi sebelum ditumpuk dengan sampah akan dipasang bio membran agar bila ada serapan air tidak terserap ke tanah dan mencemari sumber air warga. Sehingga sampah yang direlokasi itu tidak menimbulkan pencemaran. 

Menurutnya, rencana relokasi sampah ini meski sudah disetujui pemiliknya memang masih ada warga yang menolak. Setelah sosialisasi bahwa sampah yang dipindah aman bagi warga dan tidak menimbulkan pencemaran pada lingkungan sekitar, warga sudah menerima. Namun warga meminta agar jalan sekitar juga diperbaiki.

Sanitary landfill merupakan sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah. 

Penutupan tersebut nantinya akan mampu mengurangi bau, serta lalat yang banyak di lokasi TPA. Hal itu juga akan mempercepat proses pembusukan. 

Dengan sistem sanitary landfill ke lokasi 10 are milik warga akan mengurangi 80 persen sampah di TPA Peh.

Selain lahan 10 are milik salah satu warga tersebut, jika sudah ada hasil dan tidak ada dampak lingkungan, warga lain yang memiliki bekas galian C juga memohon agar tanahnya bisa diurug sampah dan tanah subur. 

(rb/bas/yor/JPR)

 TOP