alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Guru Honorer di Buleleng Hilang Kesadaran Usai Divaksin AstraZeneca

Alami Trauma, Tolak Ikuti Vaksin Tahap Kedua

10 Juni 2021, 19: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

KIPI, Vaksin, guru horores, hilang kesadaran, hipoglikemia, sesak nafas, Satgas Covid-19, trauma, AstraZeneca batch CTMAV544,

MENDADAK DROP : Nyoman Mangku Dwarsa Sentosa, seorang guru honorer di Buleleng yang mengaku mendadak drop serta mengalami sesak nafas usai mendapat suntikan vaksin AstraZeneca Bath CTMAV544, di Balai Desa Gerokgak pada pukul 10.00 WITA, Kamis (20/6) lalu (Instagram Dwarsa Sentosa)

Share this      

SINGARAJA– Laporan kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) berat kembali terjadi di Kabupaten Buleleng, Bali.

Nyoman Mangku Dwarsa Sentosa, seorang guru honorer di Buleleng, mengalami hipoglikemia atau penurunan kadar gula dalam darah.

Kejadian itu dialami Nyoman Mangku Dwarsa sesaat setelah mengikuti program vaksinasi.

Baca juga: Baru Terserap 20%, Kanwil DJPb Bali Dorong Pemda Akselerasi Anggaran

Dwarsa mengikuti program vaksinasi massal di Balai Desa Gerokgak pada pukul 10.00, 20 Mei silam.

Saat itu, ia menerima vaksin AstraZeneca batch CTMAV544. Seperti penerima vaksin lainnya, ia harus melewati proses skrining termasuk pengecekan tensi darah.

Dokter pun mengizinkan Dwarsa menerima vaksin, mengingat kondisinya dinyatakan sehat.

Singkat cerita, 15 menit usai menerima suntikan vaksin, kondisi kesehatan Dwarsa langsung drop.

Ia merasakan sesak nafas hingga nyaris kehilangan kesadaran. Tekanan darah bahkan turun dari 90 menjadi 75. Ia bahkan harus menggunakan alat bantu nafas.

“Waktu itu diizinkan, makanya saya lanjut. Setelah menerima, ternyata saya langsung drop. Sempat demam juga selama seminggu. Jujur tidak bisa hilang rasa trauma saya,” kata Dwarsa saat dihubungi Kamis (10/6).

Selanjutnya, akibat kejadian itu, Ia mengajukan permohonan agar tak menerima vaksin kedua karena trayma.

Bahkan ia siap kehilangan pekerjaan sebagai guru honorer. “Saya lebih memilih nyawa. Mending kehilangan pekerjaan ketimbang kehilangan nyawa,” katanya.

Kalau toh memang ia dipaksa menerima vaksin, ia meminta agar divaksin di RSUD Buleleng dengan didampingi dokter dan alat bantu yang memadai.

“Seandainya fatal, biar tidak terlambat penanganannya. Kalau aman, terima kasih banyak. Kalau game over, ya viral,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengaku segera menelusuri KIPI tersebut.

Menurutnya dibutuhkan ketelitian dari tim medis dalam melakukan skrining terhadap pasien yang akan menerima vaksin.

“Ini kejadiannya case by case, tidak bisa digeneralisasi. Setiap orang menerima reaksi yang berbeda. Tapi dari sisi KIPI di Buleleng, kasusnya kecil sekali. Tidak sampai satu persen,”tukas Suyasa.

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP