alexametrics
Senin, 21 Jun 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Dituntut 20 Tahun, Pembunuh Wanita Slovakia di Sanur Bali Syok

10 Juni 2021, 23: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pembunuhan sadis, pembunuhan wanita slovakia, Polsek Sanur, Sidang tuntutan pembunuhan, pembunuhan berencana, terdakwa pembunuhan syok,

Terdakwa Lorens Parera saat menjalani sidang dengan agenda pembacaan surat tuntutan secara daring, Kamis (10/6) (Adrian Suwanto)

Share this      

DENPASAR– Terdakwa Lorens Parera, 31, langsung syok begitu JPU menuntutnya dengan pidana penjara selama 20 tahun.

Pria asal Sorong, Papua Barat, itu dianggap bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap bule asal Slovakia bernama Adriana Simeonova.

Belakangan terungkap, bahwa korban adalah mantan pacar terdakwa.

Baca juga: Bahas Pemulihan Pariwisata Bali, Koster Temui Jokowi ke Istana

“Perbuatan terdakwa Lorens Parera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP,” ujar JPU I Made Lovi Pusnawan dalam sidang daring kemarin (10/6).

Terdakwa kelahiran 15 April 1990 itu terus menunduk saat JPU membacakan tuntutan.

Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah rumah Jalan Pengiasan III, Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Denpasar pada 20 Januari 2021.

Sehari setelah korban ditemukan tewas, petugas kepolisian berhasil meringkus pelaku di tempat kerjanya di Quicksilver Day di Jalan Pratama, Tanjung Benoa, Badung.

“Saat diinterogasi, terdakwa melakukan pembunuhan karena sakit hati diputusakan sepihak oleh korban,” beber JPU. 

Selain mengamankan terdakwa, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa sebilah pisau.

Pisau tersebut dibeli terdakwa di Slovakia saat diajak korban ke negaranya.

Diamankan pula, satu buah HP merk Samsung warna hitam dalam kondisi patah terbagi dua milik korban.

Polisi juga mengamankan satu unit Sepeda motor Kawasaki warna merah nomor kendaraan DK 4196 FI, satu pasang mantel / jas hujan berbentuk baju dan celana warna hijau dan barang bukti lainnya.

Korban ditemukan setelah saksi AN gagal mencoba menghubungi korban dengan pesan WA.

Saksi pun merasa khawatir dengan keadaan korban, dan beberapa kali menelepon ponsel korban namun tidak aktif. 

Sehari kemudian, sekitar jam 08.45 saksi mendatangi rumah korban. Setiba di sana, saksi berulang kali menggedor pintu gerbang dan memanggil korban namun tidak ada jawaban.

Saksi lalu masuk ke dalam rumah korban sembari memanggil-manggil nama korban. 

Saat berada di depan bar dan menoleh ke arah dapur, saksi melihat korban sudah tergeletak dengan posisi menengadah dan bersimbah darah.

Mengetahui hal itu, saksi langsung berlari keluar sambil menangis, dan mencoba menghubungi polisi.

“Yang Mulia, menanggapi tuntutan JPU, kami akan mengajukan pembelaan secara tertulis,” kata Aji Silaban, pengacara yang mendampingi terdakwa.

Selanjutnya atas penyataan kuasa hukum terdakwa, Majelis hakim memberikan waktu sepekan untuk menyusun pledoi. 

(rb/san/pra/JPR)

 TOP