alexametrics
Minggu, 01 Aug 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Dampak Belajar Daring, Angka Telat Bicara pada Anak Meningkat

21 Juni 2021, 13: 45: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Dampak Belajar Daring, pembelajaran tatap muka, angka telat bicara, speech delay, meningkat,

Anak-anak yang memiliki keterlambatan kemampuan berbicara dan berkebutuhan khusus yang belajar di TK Paud Taman Agustus, Tabanan. (JULIADI/ RADAR BALI)

Share this      

TABANAN – Lambatnya kemampuan berbicara pada anak atau speech delay di tengah perkembangandunia teknologi sekarang ini kerap kali ditemui. Bahkan trennya meningkat setiap tahunnya.

Selama pandemi Covid-19 dengan seiring berlakunya pembatasan kegiatan belajar tatap muka sejak setahun terakhir di dunia pendidikan dialihkan menjadi pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online, angka anak yang mengalami speech delay terus meningkat.

Tak ayal, mereka yang mengalami keterlambatan kemampuan untuk berbicara ini menjadi anak-anak berkebutuhan khusus atau special need.

Baca juga: Cok Ace Sadar Pertanian Tahan saat Pandemi, Faktanya Minim Anggaran

Mereka memerlukan interaksi dan aktivitas sosialisasi yang lebih tinggi. Sehingga mereka terlatih untuk berani berbicara. Menyampaikan keinginannya. Seraya memperkaya kosakatanya.

Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Tabanan, Ni Gusti Ayu Made Eka Budiati mengatakan, pembatasan pembelajaran tatap muka dengan belajar pola daring dan sosialisasi atau interaksi juga dibatasi, turut mempengaruhi kemampuan anak yang memiliki masalah dalam kemampuan berbicara.  Karena speech delay terjadi pada anak-anak berkebutuhan khusus.

"Sejak awal pembatasan kegiatan pendidikan dan pembahasan PTM, mereka ini, anak-anak berkebutuhan khusus, tidak diperhitungkan (pola belajarnya)," sebut Bunda Nini, sapaan akrabnya, dihubungi Minggu (20/6).

Dikatakan, keterlambatan kemampuan bicara cenderung dialami pada anak-anak yang tumbuh dan besar di lingkungan pemukiman modern atau lingkungan perkotaan. Ini disebabkan, karena mereka lebih dominan berada didalam rumah. Ketimbang berkomunikasi atau berinteraksi dengan teman-temannya.   

"Mereka minim berinteraksi dan mendapatkan sosialisasi. Dengan adanya pandemi Covid-19 mereka tidak pergi ke sekolah," jelas Wakil Ketua Himpaud Bali ini.

Awal tahun ini, sambung dia, anak-anak dengan keterlambatan bicara lebih mudah dijumpai. Biasanya ini disadari para orang tua mereka.

Bahkan belakangan, kesadaran para orang tua terhadap kemampuan berbicara anaknya yang lambat itu diketahui lebih cepat.

"Semakin ke sini sadarnya lebih cepat. Biasanya mereka yang anak-anaknya usia dua tahunan. Anak lain sudah bisa bicara, anak mereka belum. Kalau dulu lebih lama lagi. Di usia empat tahun. Pas anak mereka mau masuk TK," jelasnya.

Pihaknya di PAUD Taman Agustus, tempatnya mendidik, sulit untuk menolak orang tua dengan kebutuhan khusus seperti itu dengan pertimbangan kemanusiaan.

"Di sisi lain (belajarnya) harus bertemu. Bahkan dalam berapa kasus, ada anak yang besarnya sama neneknya yang lagi stroke," imbuhnya.

Sementara, lanjutnya, menyekolahkan mereka ke Sekolah Luar Biasa atau (SLB) tidak tepat. Karena grade mereka samar. Secara fisik mereka sehat. Tidak ada ada gejala.

"Tetapi begitu menginginkan sesuatu mereka menangis. Tantrum. Tidak sanggup menyampaikan secara verbal apa yang diinginkan," sambungnya.

Dengan situasi seperti itu, kata dia, bagaimana anak di usia balita bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Padahal mereka sedang berada di tahap golden periode.

"Bagaimana mereka bisa tumbuh berkembang tanpa mengenal sekitarnya. Kosakata mereka terbatas. Saya rasa ini PR (pekerjaan rumah) semua. Ya, orang tua dari anak itu sendiri. Kemudian lembaga-lembaga terkait di bidang pendidikan," tandasnya.

(rb/jul/yor/JPR)

 TOP