alexametrics
Kamis, 05 Aug 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Bank Sampah PKK di Desa Bengkel (1)

Jika Niat Awalnya Mencari Untung, Maka Tak Akan Berhasil

21 Juni 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

bank sampah, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, menjaga lingkungan, memilah sampah,

Ibu-Ibu PKK Desa Bengkel saat mengumpulkan sampah plastik, Jumat (18/6/2021). (MAULANA SANDIJAYA/ RADAR BALI)

Share this      

Meski hidup di desa, ibu-ibu di Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan. Mereka mampu memilah sampah dari sumbernya langsung, yaitu dari rumah tangga.

 

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan

Baca juga: Empat Pengedar Pil Koplo dan SS Ditangkap di Gianyar, Satu Masih Anak

 

SIANG itu di Balai Banjar Adat Bengkel Gede terlihat agak ramai. Lima orang perempuan berusia 25-30 tahun duduk menghadap meja sambil mencatat sesuatu. Dua orang lagi sibuk menaikkan sampah plastik ke atas timbangan duduk. Perempuan-perempuan itu adalah anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Bengkel.

Di halaman wantilan ada puluhan kampil (bekas karung beras) berisi sampah plastik yang sudah dipisahkan berdasar jenisnya. Mulai dari bungkus ciki atau jajan, gelas dan botol air mineral, kardus, hingga rongsokan kipas angin dan aki bekas. 

Di antara tumpukan sampah itu, Luh Putu Shanti Utami Dewi sibuk memberikan arahan. Perempuan 38 tahun itu adalah koordinator bank sampah unit di Desa Bengkel. Sosok Shanti lah yang menyemangati warga, khususnya ibu-ibu agar tidak membuang sampah sembarangan. Hal itu dilakukan Shanti selama lima bulan terakhir ini.

Shanti menuturkan, untuk mengurus bank sampah, hal pertama yang harus dimiliki adalah tidak boleh memiliki niat mencari keuntungan ekonomi. Sebab, jika mendirikan bank sampah demi mencari uang, maka tidak akan berhasil. Kalaupun jalan tidak akan berumur panjang.

“Niat yang pertama agar sampah plastik tidak mengotori lingkungan, misalnya sungai. Butuh waktu ratusan tahun untuk menguraikan sampah plastik. Ini yang harus ditanamkan,” tegas Shanti saat ditemui Jawa Pos Radar Bali, Jumat (18/6).

Menurut Shanti, nilai ekonomi sampah plastik sangat kecil. Ia lantas menunjukkan daftar harga sampah per kilogramnya (kg). Misal bungkus ciki atau mi instan per kilonya hanya Rp 800. Kemudian botol air mineral hanya Rp 2.000/kg. 

Harga lebih murah lagi untuk botol bir. Botol bir ukuran besar per kilonya dihargai Rp 600, sedangkan botol bir kecil dihargai Rp 200. Botol minuman berenergi harganya lebih murah lagi, tidak sampai 100 perak, yakni Rp 25.

Barang dengan harga tertinggi adalah tembaga, Rp 20.000/kg. Sedangkan sampah dari jenis logam seperti alumunium tebal atau panci dihargai Rp 7.000/kg. Alumunium tipis seperti kaleng dihargai Rp 5.500/kg.

“Sekarang kalau dihitung ekonomi, pasti gak ada untungnya, kan?. Untuk apa sih, capek-capek ngumpulin barang bekas, dapatnya hanya Rp 2.000. Tapi, tujuannya bukan itu, Tujuannya lingkungan bersih,” tukas istri perbekel Bengkel I Nyoman Wahya Biantara, 38, itu. (bersambung)

(rb/san/yor/JPR)

 TOP