alexametrics
Sabtu, 31 Jul 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Perjuangan Memberantas Buta Aksara di Kubu

Sambil Ngempu dan Tinggalkan Ternak, Agar Bisa Baca Saat ke Kota

06 Juli 2021, 22: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

buta aksara, banjar Dalem, Tianyar Tengah, buta aksara, Pemkab Karangasem, keterbatasan fasilitas,

I Nengah Karya membimbing salah satu peserta belajar yang tak lagi muda (Maulana Sandijaya)

Share this      

USIA dan segala keterbatasan fasiltas tidak menjadi penghalang bagi 20 orang warga Banjar Dalem, Desa Tianyar Tengah, Kubu, Karangasem untuk belajar membaca dan menulis. 

Kaum ibu-ibu belajar sambil ngempu, sedangkan bapak-bapak rela meninggalkan ternak. Mereka tetap semangat.

MAULANA SANDIJAYA, Karangasem

Baca juga: Pedagang Kaki Lima Mulai Keluhkan Pembatasan Jam Saat PPKM Darurat

 

MOTIVASI mereka ikut belajar bermacam-macam. Salah satu peserta perempuan mengaku ikut belajar karena dipaksa anaknya. Sebagian lagi mengatakan ikut belajar karena diajak temannya.

Sedangkan peserta laki-laki ikut belajar karena alasan yang menggelitik. Kelak, saat pergi ke kota bisa membaca tulisan-tulisan yang terpampang di tepi jalan. Selama ini setiap ke kota sering melihat tulisan, tapi tidak tahu bacaannya.

Karya terlecut mengajar karena sebagian warga yang buta huruf ada pada usia produktif. Menurut Karya, sebagian peserta juga tidak bisa bahasa Indonesia.

Terbukti, ketika Karya menyapa selamat siang, hanya segelintir yang menjawab. Sebagian lagi bengong. Walhasil, wartawan Jawa Pos Radar Bali ini harus menggunakan bahasa Bali dengan dibantu Karya saat melakukan wawancara.

Yang menarik, meski buta aksara, mereka ternyata cakap dalam berhitung. Terutama menghitung uang.

“Mereka tidak bisa membaca. Tapi, kalau masalah menghitung uang, saya kalah cepat,” seloroh I Nengah Karya. 

Salah satu peserta yang terlihat bersemangat adalah Ni Nengah Suarni. Namun, saat ditanya umur, ia mengaku tidak tahu, sebelum akhirnya dikasih tahu oleh anak gadisnya.

“Umur ibu 43 tahun,” ujar anak gadis Suarni yang berdiri tidak jauh di belakang. Setelah diberitahu umurnya, Suarni terkekeh.

Anak gadis Suarni pula yang menyemangati ibunya agar ikut belajar membaca dan menulis. Sambil mengantar ibunya, gadis berambut sebahu itu memomong adiknya yang masih balita.

Beberapa kali anak balita Suarni menangis karena haus minta asi. Setelah belajar selesai, barulah Suarni memberikan Asi.

Tiyang milu melajah pang bisa maca (Saya ikut belajar agar bisa membaca, Red),” ujar Suarni.

Maklum, ibu tiga anak itu hingga usia 43 tahun belum pernah sekolah. “Tyang sing demen melajah, panak tiyang ane ngorin (Sebenarnya saya tidak suka belajar, anak saya yang menyuruh),” imbuh Suarni.  

Selain Suarni, ada juga peserta lain yang mengajak balita. Sambil memangku anaknya, perempuan yang usianya lebih muda dari Suarni itu menulis huruf A, B, dan C. Tidak lama kemudian, di sela-sela proses belajar, anak balita perempuan itu tertidur pulas di sebelah ibunya.

Sementara peserta lain bernama Ni Nengah Reti mengaku ikut belajar karena diajak temannya. Reti yang usianya masih 27 tahun itu mengatakan sangat suka diajak belajar. “Tyang demen melajah (saya suka belajar),” ucapnya sambil tersipu malu.

Semangat belajar tinggi juga ditunjukkan Ketut Siwa Gati. Pria 39 tahun itu mengatakan, dirinya tidak malu ikut belajar meski tak lagi muda. Setelah mencarikan rumput empat ekor sapinya, Siwa bergegas ikut belajar.

Gawen tiyang bek, tapi perlu melajah apang bisa maca. Bin pidan tiyang pesu pang bisa maca tulisan di jalan (Pekerjaan saya banyak, tapi perlu belajar biar bisa membaca. Saya ingin saat keluar bisa membaca tulisan di jalan),” tutur Siwa dengan bahasa Bali logat Karangasem.

Di tempat yang sama, pegiat literasi asli Karangasem, I Komang Sukayasa, 31, mengaku tulus ikhlas membantu pemberantasan buta huruf di Banjar Dalem. Menurutnya, menggalangkan melek aksara adalah salah satu cara untuk mengimplementasikan gerakan litetasi.

Dijelaskan Sukyasa, gerakan literasi masyarakat harus menyentuh langsung masyarakat. Sehingga literasi dapat mengakar serta mampu mencerahkan dan memberdayakan masyarakat.

“Kita mulai dari dari baca tulis untuk orang dewasa yang buta aksara, agar mereka mampu menggapai literasi dasar yang selanjutnya,” tandas ayah satu anak itu.

Karya pun terenyuh dengan semangat peserta belajar. Apalagi mereka yang diajar benar-benar dari nol, belum pernah pegang pensil dan buku.

Sebagian besar umur muridnya jauh lebih tua dari Karya. Saat mengajar, Karya memanggil Bli (sebutan untuk kakak laki-laki) dan Mbok (kakak perempuan) untuk menghormati lebih tua.

Karya dalam mengajar menciptakan suasana yang rileks. Sesekali ia menyelipkan guyonan agar pelajaran cepat ditangkap. Misalnya menggunakan istilah bulan asibak atau bulan separuh untuk mengenalkan guruf C.

“Sekarang ini baru dapat 20 orang. Ke depan, target saya dan teman-teman relawan 100 orang peserta,” terangnya.

Karya mengaku banyak kendala untuk mencapai target 100 orang. Menurutnya, jumlah tunaaksara di desanya mencapai ratusan. Namun, sebagian besar dari mereka merasa malu ikut belajar karena sudah berumur.

Kendala lainnya adalah fasilitas. Dengan perlengkapan seadanya, diakui Karya sangat memengaruhi proses belajar mengajar.

Ia mencontohkan buku dan pensil didapat dari sumbangan. Alumni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu pun mengajak kepada semua pihak untuk ikut peduli dengan pemberantasan buta huruf di desanya.

“Kalau ada pihak yang mau membantu, kami sangat bersyukur sekali karena msayarakat sangat membutuhkan fasilitas untuk belajar. Kalau tidak ada, kami tetap semangat untuk memberantas buta huruf,” tukasnya.(habis)

(rb/san/pra/JPR)

 TOP