alexametrics
Sabtu, 31 Jul 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Kiat Sukses Petani Buah Naga di Gianyar

Modal Rp 40 Juta untuk Penerangan, Kewalahan Layani Order Saat Pandemi

10 Juli 2021, 04: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kiat sukses, petani buah naga, gede wahyu, pandemi, toko buah, kewalahan order, modal usaha, buah lokal, buah organik,

Gede Wahyu saat memamerkan buah naga di kebunnya (IB Indra Prasetya)

Share this      

USAHA kebun buah naga di Banjar Kesian, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, justru moncer selama pandemi Covid-19.

Di tengah lesunya ekonomi, para petani buah naga justru Berjaya. Bahkan, mereka sampai mengaku kewalahan melayani order atau pesanan para pedagang dan toko buah. Seperti apa?

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

Baca juga: Berpotensi Picu Kerumunan, Tahapan Pilkel Buleleng Ditunda

CAHAYA terang begitu kontras bersinar dari belakang SDN 1 Lebih saat malam hari. Di belakang SD itu, terdapat kebun buah naga milik Gede Wahyu, 44.

"Banyak yang bilang dari jauh seperti kobaran api. Karena ratusan lampu nyala kalau malam," ujarnya sambil tersenyum, ditemui di kebunnya, pertengahan pekan ini.

Wahyu merinci, ada sekitar 550 lampu yang ia pasang di kebun miliknya.

Per lampu berdaya 15 Watt, dengan daya listrik di kebun mencapai 7700 volt ampere (va).

"Setiap malam lampu menyala bertahap. Separo bagian barat dari sore sampai jam sebelas malam. Terus nyambung yang bagian timur dari jam satu sampai lagi besoknya," ujarnya.

Dengan membayar biaya pulsa listrik Rp 1 juta per 10 hari, listrik sangat berguna bagi kebun miliknya.

"Manfaat listrik untuk kebun nyata. Mulai dari narik air, meningkatkan produksi juga iya," ujarnya.

Lulusan SMAN 4 Denpasar yang memulai menanam buah naga pada 2018 lalu menghabiskan modal Rp 40 juta hanya untuk lampu penerangan saja.

"Modal lampu Rp 40 juta. Ternyata dalam 2 bulan modal lampu balik," ujarnya sumringah.

Sehingga pemasangan lampu untuk menstabilkan produksi terus dilakukan setiap malam.

Menurutnya, buah naga hidup berdampingan dengan sinar.

"Dalam setahun, ada bulan yang malamnya panjang. Sehingga kami bantu dengan sinar lampu. Seperti malam ini selalu kami hidupkan," jelas pria yang hobi bertani dan belajar pertanian secara otodidak itu.

Dengan mengandalkan tenaga lampu, sekali panen, dengan luas kebun 98 are, secara komulatif per bulan mencapai 1-2 ton.

Bahkan selain buah naga, Wahyu juga menyelipkan tanaman kapuk sela-sela tanah buah naga.

"Jadi kapuk ini untuk pakan kambing. Kami pelihara kambing, kotoran kambing untuk pupuk," jelasnya.

Dengan pola tanam seperti itu, dia bisa berhemat banyak.

"Jadi di sini (kebun) muter di sini," ujarnya.

Wahyu tergolong petani beruntung, meski baru merintis usaha buah naga pada 2018, ia sudah banyak memetik hasil

"Lalu tahun 2019 kami jual. Kami tawarkan buah ke teman-teman dulu. Memang rencana tawarkan ke Moena Fresh (toko buah, red). Momen usaha kami bergeliat justru saat awal pandemi," kenangnya.

Saat pandemi Covid pada Maret 2020 lalu, arus masuk buah dari luar ke Bali tersendat.

"Kesempatan itu membuat kami masuk ke pasar, ke toko buah. Ketahuan kami punya kebun buah naga, dari toko buah sekarang yang cari ke sini. Dari sana tanpa basa basi langsung start," terangnya.

Apalagi, buah naga yang dihasilkan dari kebunnya organik.

"Bali menurut saya punya pasar unik. Toko kami tidak mau jual buah jumbo. Orang Bali milih pakai gebogan (hiasan Banten upacara) kalau sekilo isi 3, mending beli ini.

Makanya ada toko di Klungkung, minta buah naga yang kecil, bukan besar," ujarnya.

Menurut dia, harga buah naga juga bisa terkerek ketika ada rahinan atau hari suci yang biasa menggunakan buah sebagai sarana upacara.

Harga buah seharga Rp 20 ribu sekilo. Dan yang rijek atau kulit bintik-bintik seharga Rp 10 ribu sekilo. "Jadi buah kami bisa terkerek Rp 1000-2000," ungkapnya.

Diakui, selama pandemi, pemerintah membatasi masyarakat ke pura. "Tapi di rumah masing-masing di sanggah, Merajan masing-masing masih ada upacara. Ini yang kami sediakan," ujarnya.

Situasi itu pun membuatnya kekurangan buah. "Kami kekurangan buah untuk dijual. Kewalahan kami layani toko-toko buah dari Klungkung, Gianyar, dan Denpasar," ujarnya.

Dia juga menantang pemuda di Bali untuk menjadi petani.

"Kalau ada yang mau jadi petani buah naga silahkan. Kami tidak tersaingi, karena pasar banyak sekali," pungkasnya sembari mengajak masyarakat menanam buah naga. (*)

(rb/dra/pra/JPR)

 TOP