alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

PPKM Darurat, Bos PO Gunung Harta; Pelan Pelan Kita Mati!

15 Juli 2021, 05: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

PPKM, PPKM Darurat, PO Gunung Harta, Wayan Sutika, Owner Gunung Harta, jasa transportasi, perusahaan otobus,

Salah satu armada PO Gunung Harta (Juliadi)

Share this      

TABANAN-Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali membuat para pemilik jasa transportasi terancam gulung tikar.

Tak terkecuali bagi para pemilik perusahaan otobus di Pulau Dewata Bali.

Seperti diakui Ower Perusahaan Otobus (PO) Gunung Harta I Wayan Sutika, Rabu (14/7).

Baca juga: Sering Cek-cok, Pelaku Habisi Nyawa Kakak Kandung karena Dendam

Bahkan saat disinggung soal PPKM Darurat, Sutika langsung melontarkan kata-kata “Pelan-Pelan Kita Mati”.

Kata plesetan yang dilontarkan Sutika ini sebagai bentuk ketidakberdayaannya dengan masih berlangsungnya wabah Covid-19.

Mengaku terpuruk, kondisi ini diakui Sutika makin diperparah dengan penerapan PPKM Darurat Covid-19 dari tanggal 3 Juli 2021 lalu. Selaku pengusaha jasa transportasi, dirinya mengaku sangat terdampak.

Bahkan, dampak penurunan itu dialaminya sejak adanya pemberlakukan larangan mudik lebaran. Akibat larangan mudik, jumlah penumpang yang menggunakan jasa transportasi miliknya drop.

“Sekarang makin terdampak lagi dengan adanya PPKM Darurat, ditambah lagi dengan aturan baru pembatasan pergerakan pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) antar Jawa dan Bali,”terang Sutika.

Akibat pembatasan berupa penyekatan pergerakan PPDN dari Pulau Jawa menuju Pulau Bali maupun sebaliknya, jumlah penumpang kendaraan angkutan umum non logistik seperti bus, angkutan travel lintas Jawa-Bali dan sejenisnya langsung terjun bebas.

Dalam aturan terbaru ini, layanan penyeberangan untuk empat jenis pengguna jasa di atas yang selama ini beroperasi 24 jam terhitung sejak Rabu tanggal 14 Juli 2021 Pukul 20.00 WITA, akan beroperasi mulai Pukul 06.00 WITA sampai dengan Pukul 20.00 Wita.

“Dengan adanya kebijakan baru ini jujur tambah berat dan susah sebagai pengusaha jasa angkutan umum. Sudah tahu kan, karena pandemi ini di Bali sudah banyak jasa transportasi tidak beroperasi dan mati usahanya,” keluh Sutika.

Bahkan, pengusaha berusia 68 tahun asal Desa Wongaya Gede, Penebel ini juga sedikit mengkritik kebijakan PPKM Darurat.

“Pelaku perjalanan dalam negeri terlalu banyak aturan. Misalnya soal surat keterangan vaksin bagi masyarakat yang keluar kota. Masyarakat mau melakukan vaksin, namun pemerintah tidak menyediakan lokasi vaksinasi di pelabuhan,”kata Sutika.

Bahkan, ketika pelaku perjalanan menggunakan fasilitas kesehatan seperti puskesmas, Sutika juga menilai tidak efektif.

“Kalau mereka menunggu di Puskesmas atau lokasi fasilitas kesehatan terlalu lama mengantri dan jadwal keberangkatan bus bisa tertunda. Jadi bisa solusi bagi pelaku perjalanan yang belum divaksin pemerintah menyediakan lokasi vaksin di pelabuhan,” ungkapnya.

Sutika mengaku, saat ini dari 80 bus yang ada dengan trayek keluar Pulau Bali seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jakarta. Rata-rata bus yang beroperasi mengangkut penumpang keluar pulau Bali sebanyak 6 bus setiap hari.

Itu pun dengan penumpang bus yang terisi dibawah 50 persen dari kapasitas yang sebenarnya.

Misalnya kapasitas penumpang 60 orang, setengahnya tidak mampu terisi. Bisa setiap kali bus berangkat hanya terisi 24 sampai 29 penumpang.

“Itu juga syukur-syukur ada penumpang. Kalau tidak ada kepentingan mendesak dan penting, orang tidak mau pulang kampung dan naik bus. Karena ribetnya aturan,” ungkapnya.    

Bahkan diakui Sutika meski masih beroperasi saat ini, tetapi tidak menutupi biaya operasional. Omset turun drastis.

Saat pandemi ini, sejumlah trayek angkutan bus miliknya mulai dikurangi. Salah satunya trayek Surabaya karena sepinya penumpang digabungkan dengan trayek Madura.

“Hampir semua trayek kita gabung agar usaha jasa transportasi yang kami rintis mulai tahun 70-an ini tetap bertahan. Kalau untuk menaikkan harga tiket tidak tega, karena kondisi masyarakat lagi susah. Intinya agar bisa bertahan saja,” pungkasnya.

(rb/jul/pra/JPR)

 TOP