alexametrics
Sabtu, 31 Jul 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nasib Toko Upacara Ngaben kena PPKM di Bali

Miris! Dulu Omzet Rp20 Juta, Saat Pandemi Rp1 Juta, Tutup karena PPKM

18 Juli 2021, 06: 45: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

toko upacara ngaben, usaha nonesensial, tutup, dampak, PPKM darurat, Klungkung,

Anak Agung Istri Ngurah Sonaka, pedagang peralatan upacara adat di Jalan Sahadewa, Kelurahan Semarapura Klod Kangin, Klungkung ketika diminta tutup toko selama PPKM Darurat oleh Kapolres Klungkung, AKBP I Made Dhanuardana. (DEWA AYU PITRI ARISANTI/ RADAR BALI)

Share this      

Instruksi Mendari Nomor 18 tahun 2021 yang ditindaklanjuti dengan SE Gubernur Nomor 10 tahun 2021 makan banyak korban. Banyak usaha yang dianggap nonesensial harus menutup usaha saat PPKM. Padahal, itu adalah usaha mereka agar dapur tetap mengebul. Salah satunya yang terdampak adalah toko penyedia alat upacara adat seperti ngaben.

 

Baca juga: Heboh Mayat Wanita Mengapung, Diduga Kuat Korban Bunuh Diri

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Klungkung

  

UPACARA Ngaben secara massal digelar di beberapa desa di Kabupaten Klungkung sejak beberapa pekan terakhir. Hal itu sangat ditunggu para pedagang peralatan upacara adat.

Setiap “musim” ngaben, para penjual perlengkapan atau peralatan upacara bisa meraup omzet puluhan juta rupiah dalam satu hari saat musim Ngaben massal saja.

Hanya saja hal berbeda dirasakan Anak Agung Istri Ngurah Sonaka, pedagang kain dan peralatan upacara adat, Jalan Sahadewa, Kelurahan Semarapura Klod Kangin di momen musim Ngaben massal tahun ini.

Bila sebelum pandemi Covid-19 ia mengaku bisa meraup omzet Rp 10 juta per hari di hari biasa, menurutnya saat musim Ngaben massal omzetnya bisa mencapai Rp 20 juta per hari.

“Sejak pandemi ini, omzet turun drastis. Penurunnya sampai 99 persen,” katanya.

Sejak pandemi Covid-19, ia mengaku omzet terbesarnya hanya Rp 1 juta per hari. Begitu pun saat musim Ngaben massal kali ini, omzet terbesarnya berkisar Rp 1 juta -Rp 1,5 juta.

“Mungkin karena kesulitan ekonomi akibat terdampak Covid-19, orang-orang lebih mengirit dan membeli hal-hal yang sangat penting saja,” terangnya.

Meski mengalami penurunan omzet cukup signifikan, Sonaka memilih tetap mempekerjakan ketiga pegawainya. Walau keuntungan yang diperoleh kadang tidak bisa menutupi upah para pegawai.

“Kasihan kalau diberhentikan. Mereka butuh uang untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kondisi itu kian diperparah dengan adanya imbauan tutup selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Semakin sepi.

Bahkan, tokonya didatangi aparat lantaran ia masih nekat membuka tokonya. Bahkan, Kapolres Klungkung AKBP I Made Dhanuardana yang langsung memimpin anak buahnya untuk menutupi usaha-usaha yang dianggap nonesensial. Termasuk usaha milik Gung Istri Sonaka.

Setelah didatangi personel Polres Klungkung, ia mengaku akan berjualan secara online. Meski pelanggannya sebenarnya lebih sering berbelanja langsung ke toko.

“Tetapi akan kami coba untuk memaksimalkan penjualan secara online dengan kondisi seperti ini,” tandasnya.

(rb/ayu/yor/JPR)

 TOP