alexametrics
Sabtu, 31 Jul 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Bondalem Manfaatkan Energi Terbarukan

Manfaatkan Panel Surya Guna Menekan Tagihan Listrik

18 Juli 2021, 14: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Desa Bondalem, Buleleng, energi terbarukan, panel surya,

Manajer UPS Air Bersih BUMDes Bondalem Ngurah Dama menunjukkan instalasi panel surya. (EKA PRASETYA/ RADAR BALI)

Share this      

Desa Bondalem berhasil melakukan pengelolaan energi terbarukan. Panel surya menjadi solusi menekan tagihan listrik untuk operasional pompa air. Kini air bersih bukan lagi masalah bagi desa tersebut.

EKA PRASETYA, Singaraja

Baca juga: Tak Boleh Buka, Toko Ponsel Jualan Online dan Janjikan Lebih Murah

 

NGURAH Dama mengendarai sepeda motornya secara perlahan. Ia menyusuri liku gang sempit di wilayah Banjar Dinas Kaja Kangin, Desa Bondalem. Di ujung jalan, ia menghentikan laju kendaraan. Sepeda motornya dibiarkan terparkir di ujung jalan itu.

Ia kemudian menapaki tangga menuju sebuah rumah kosong yang berjarak sekitar 500 meter arah selatan Pasar Desa Bondalem.

“Di belakang itu ada lahan untuk panel surya,” ungkap Dama menunjuk belakang rumah kosong tersebut.

Pagi itu ia mendapat bagian tugas mengecek kondisi panel surya. Memastikan seluruh instalasi panel surya berjalan dengan baik. Entah itu kabel, sekering, inverter. Termasuk panel surya yang terpasang juga harus dipastikan tidak tertutup debu. Agar serapan sinar matahari maksimal.

Pemeliharaan itu dilakukan secara berkala. Setidaknya tiga kali dalam sepekan. Ngurah Dama yang juga Manajer Unit Pengelola Sarana (UPS) Air Minum BUMDes Bondalem Sejahtera itu tak ingin instalasi listrik itu rusak. Karena jadi tulang punggung pengelolaan air bersih di desa.

* * *

PANEL surya itu dibangun Pemerintah Kabupaten Buleleng pada 2017 lalu. Awalnya Desa Bondalem sempat berkonflik dengan Desa Tejakula gara-gara air bersih. Saat itu kedua desa sama-sama memanfaatkan air bersih yang bersumber di Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani yang ada di wilayah hulu.

Tatkala itu warga di Desa Tejakula keberatan bila Desa Bondalem memanfaatkan sumber yang sama. Padahal di Bondalem sudah terdapat beberapa sumber air bersih.

Sedangkan warga di Bondalem kesulitan memanfaatkan sumber air itu. Sebab lokasinya berada di hilir. Sementara sebagian besar warga tinggal di wilayah hulu. Menyuplai air menggunakan pompa listrik dirasa membebani warga. Sebab biayanya terbilang besar.

Masalah air bersih itu terbilang klasik. Sebab telah berlangsung selama belasan tahun, tanpa ujung pangkal. Masalah serupa kembali mencuat pada tahun 2014. Menyebabkan warga dua desa bersitegang.

Baru pada 2015 pemerintah berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Saat itu, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida memberikan bantuan satu unit sumur bor, Pemerintah Kabupaten Buleleng membangun tiga unit sumur bor, dan pihak ketiga membangun satu unit lainnya.

Saat awal dioperasikan, seluruh pompa dioperasikan menggunakan pompa listrik. Biaya operasional dibebankan pada APBDes Bondalem. Saat itu pemerintah desa kelabakan karena biaya tagihan untuk operasional pompa cukup besar. Mencapai Rp 12 juta per bulan untuk tiap unit pompa.

Akhirnya Pemkab Buleleng membangun instalasi panel surya di wilayah Kaja Kangin, Desa Bondalem. Total ada 77 unit panel surya yang dibangun di atas lahan seluas 3 are. Saat itu pemerintah harus menyiapkan biaya sebesar Rp 1,01 miliar.

Puluhan panel surya itu mampu menghasilkan energi sebesar 25 kWp. Energi sebesar itu dimanfaatkan untuk menggerakkan satu unit pompa listrik dengan kekuatan 11 kW.

Instalasi panel surya itu dibangun secara on grid. Saat minim sinar mentari, pompa digerakkan energi listrik yang bersumber dari jaringan PLN. Instalasi itu juga dilengkapi sebuah inverter untuk mengubah listrik DC ke AC agar bisa menyamakan antara energi surya dengan listrik PLN.

Upaya pemanfaatan panel surya dalam menggerakkan pompa air itu pun berbuah manis. Mengacu catatan UPS Air Bersih BUMDes Bondalem Sejahtera, pada Oktober 2020 mereka hanya perlu membayar listrik sebanyak Rp7,74 juta dari beban rata-rata sebanyak Rp12 juta. Itu artinya dalam sebulan pengelola bisa menghemat 35,48 persen.

Penghematan paling banyak terjadi pada bulan Mei 2019 silam. Kala itu UPS Air Bersih hanya perlu membayar biaya listrik sebanyak Rp5,2 juta. Penghematan dari hasil pemanfaatan energi terbarukan, mencapai 56,4 persen.

Pemanfaatan panel surya itu secara tak langsung juga berdampak pada minimnya biaya yang harus dibayarkan pelanggan air bersih. Rata-rata tarif air rumah tangga di Desa Bondalem ialah Rp2.000 per kubik ditambah biaya abonemen sebanyak Rp12 ribu. Biaya ini dikenakan pada 10 kubik pertama. Saat pelanggan memanfaatkan air lebih banyak, otomatis dikenakan tarif progresif.

Murahnya tarif air bersih itu itu dirasakan oleh 900 orang pelanggan air bersih yang bermukim di Banjar Dinas Kaja Kangin, Celagi Bantes, dan Celagi Batur.

“Selama ini sih tidak ada masalah. Memang pas kemarau ini, siang-siang itu susah dapat air. Tapi namanya lagi pandemi, banyak yang pulang kampung, aktivitas banyak di rumah, yang pakai air juga banyak. Jadi ya maklum saja,” kata Gede Jumat Adi Jaya, salah seorang pelanggan air bersih di Bondalem.

Manajer UPS Air Minum BUMDes Bondalem Sejahtera, Ngurah Dama menyebut selama ini panel surya memang cukup membantu menghemat pembayaran listrik. Hanya saja, panel surya baru diaplikasikan pada satu pompa saja. Sementara pihaknya mengelola 5 unit sumur pompa. Sehingga penghematan dirasa belum terlau signifikan.

Apabila teknologi serupa diaplikasikan pada 4 unit pompa lainnya, ia optimistis penghematan akan makin optimal. Hanya saja BUMDes masih ragu-ragu memasang instalasi panel surya serupa di lokasi lain. Hal yang membuat bimbang ialah pemeliharaan instalasi panel surya cukup pelik.

Menurut Dama pada November 2019 lalu, sempat terjadi masalah pada sekring listrik. Insiden itu berdampak pada kerusakan inverter. Akibatnya panel surya tak dapat digunakan selama berbulan-bulan. Panel surya baru dapat digunakan kembali pada bulan April 2020 lalu.

“Syukurnya kan pemeliharaan masih tanggungan Dinas PU. Jadi kami tidak kena biaya apa-apa. Tapi waktu itu prosesnya lumayan panjang. Harus telepon ke Singapura, kemudian ada teknisi datang dari Jakarta perbaiki inverter itu. Belum lagi biaya pesawat, antar jemput, sampai penginapan, itu harus ditanggung,” ceritanya.

Dengan kemampuan keuangan skala desa, Dama menyebut biaya yang dikeluarkan dalam proses pemeliharaan itu cukup memberatkan. Selama ini desa hanya mampu melakukan perbaikan terhadap kerusakan pipa transmisi dan mesin pompa saja.

“Kalau mesin di sumur bor, kami masih bisa perbaiki. Alatnya bisa beli di Surabaya atau Jakarta. Tapi kalau panel surya ini, harus telepon ke Singapura. Alatnya impor. Belum lagi biaya lain-lain. Ya agak was-was juga kalau harus mengembangkan di tempat lain,” katanya.

Sekretaris Desa Bondalem Komang Agus Satria Jaya mengungkapkan, instalasi panel surya itu sebenarnya hendak dihibahkan pada pemerintah desa. Namun pemerintah desa masih ragu-ragu menerima hibah aset tersebut.

“Kalau tidak salah tahun 2018 dan 2019 itu sempat ada kerusakan. Saat mau diserahkan, kami juga masih ragu. Apalagi ini teknologi baru. Kami masih belum berani terima. Khawatirnya kan pemeliharaanya tidak mampu. Setelah diserahkan, malah mangkrak, masalah lagi nanti,” kata Agus. 

 

Perlu Penguatan SDM

Dosen Fakultas Teknik dan Kejuruan Universitas Pendidikan Ganesha (FTK Undiksha) I Wayan Sutaya mengungkapkan, penerapan teknologi panel surya pada pompa air sejatinya sudah tepat. Panel surya bahkan bisa diaplikasikan secara off grid, tanpa harus bergantung lagi dengan jaringan PLN. Dengan catatan proses perencanaan harus matang.

Sutaya pun memberikan ilustrasi. Menurutnya pompa cukup dinyalakan pada pagi hingga sore hari. Air yang disedot dari sumur pompa, kemudian ditampung pada reservoar di hulu. Selanjutnya, air tinggal didistribusikan pada pelanggan.

“Selama ada matahari, tampung saja terus airnya. Buatkan reservoar yang besar. Kalau perlu yang cukup memenuhi kebutuhan selama tiga hari. Untuk air bersih, kalau perencanaannya tepat, biaya listriknya bisa nol,” kata Sutaya.

Untuk pompa dengan kapasitas 28ribu watt misalnya, bisa diatasi dengan instalasi panel surya dengan kekuatan 28 kWp.

“Itu kan nol biaya listriknya. Tinggal berpikir biaya perawatan, perbaikan jaringan air bersih, dan operasional teknisi saja,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sutaya mengatakan, tantangan terbesar dalam pengelolaan energi terbarukan adalah pemeliharaan instalasi. Teknologi energi terbarukan - seperti panel surya - terbilang teknologi baru. Sehingga teknisi yang memahami teknologi ini pun sangat minim.

Idealnya pengembangan teknologi tersebut, harus diikuti dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola. “Kalau misalnya mau dikelola di desa, ya masyarakat desa harus dilatih melakukan pemeliharaan. Kalau tidak begitu, seterusnya tidak akan bisa dikelola dengan baik. Apalagi teknologi ini masih relatif baru, jadi tantangannya memang dalam hal pemeliharaan,” kata Sutaya. 

Sementara itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng I Putu Adiptha Ekaputra mengatakan, panel surya bisa dibilang teknologi baru. Sehingga banyak masyarakat di Kabupaten Buleleng yang masih awam dengan teknologi ini.

Mengacu data Dinas PUTR Buleleng, kini panel surya telah diaplikasikan di tiga desa. Selain di Bondalem, panel surya juga diaplikasikan di Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan dan Desa Tembok Kecamatan Tejakula.

Instalasi panel surya di Desa Bukti merupakan hibah dari PT. Indonesia Power. Sementara di Desa Tembok dibeli menggunakan dana APBD Kabupaten Buleleng Tahun 2018. Seluruhnya dimanfaatkan untuk pengelolaan air bersih.

Adiptha pun tak memungkiri pengelolaan panel surya kini terkendala oleh SDM. Seperti yang terjadi di Desa Bondalem. Pemerintah sejatinya telah menyusun program peningkatan kapasitas SDM pengelola di desa tersebut pada semester I tahun 2020 lalu.

Pandemi memaksa rencana itu ditangguhkan. Rencananya program tersebut akan dilaksanakan pada kuartal ketiga tahun 2021 mendatang. Sehingga UPS air bersih dapat melakukan pemeliharaan dan pengelolaan instalasi dengan lebh optimal.

“Sebenarnya sudah kami rencanakan. Mulai dari perawatan, sampai pelatihan perbaikan kalau terjadi kerusakan. Tapi tahun lalu banyak sekali program kami di Dinas PU yang harus dilakukan refocusing. Sehingga programnya kami susun ulang kembali pada tahun ini,” demikian Adiptha.

(rb/eps/yor/JPR)

 TOP