alexametrics
Kamis, 23 Sep 2021
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

DTW Tetap Berusaha Eksis di Tengah Pandemi

27 Juli 2021, 18: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

DTW, Daya Tarik Wisata, Wisatawan, Pokdarwis PASSIH, Dusun Sumbersari, Desa Melaya, Karang Impian Beach, CHSE,

Destinasi wisata Karang Impian Beach Swing and Camping Ground sebelum penutupan karena PPKM. (Istimewa)

Share this      

NEGARA– Sejak pandemi Covid-19 melanda, pariwisata salah satu sektor yang paling terdampak.

Kunjungan menurun drastis. Ditambah dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dalam salah satu poin mengatur bahwa destinasi wisata agar tidak beroperasi,

namun demikian pihak pengelola destinasi wisata masih berupaya dan selalu berusaha untuk tetap  merawat objek wisata dengan harapan setelah pandemi berakhir bisa tetap eksis menjadi destinasi kunjungan wisatawan.

Baca juga: Fery Siap Didenda karena Belum Divaksin, Bukan Diusir dari Rumah

Seperti yang dilakukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  PASSIH, Dusun Sumbersari, Desa Melaya, yang mengelola destinasi wisata Karang Impian Beach Swing and Camping Ground.

Sejak pandemi terjadi dan aturan penutupan destinasi, kunjungan wisatawan sangat menurun drastis bahkan tidak ada sama sekali  sehingga membuat pihak pengelola / kelompok  kencangkan ikat pinggang untuk biaya perawatan

“Kami berusaha agar tetap bisa bertahan dengan swadaya anggota merawat destinasi,” ujar Ketua Pokdarwis Passih I Ketut Subanda.

Menurutnya, selama penutupan destinasi wisata, seluruh anggota kelompok secara swadaya rutin datang dan membersihkan destinasi wisata.

Tujuannya, pada saat dibuka lagi objek wisata nanti, destinasi wisata yang menawarkan panorama pantai Bali Barat ini tidak sampai membuat kecewa pengunjung.

“Pada umumnya, karena ada dampak dari penutupan destinasi wisata ditinggalkan pengelola sehingga tidak terawat lagi. Kami tidak ingin terjadi seperti itu,” ujar Subanda.

Sambil menunggu pembukaan pariwisata, selain melakukan perawatan destinasi wisata yang dikelola, promosi tetap dilakukan mulai dari media sosial dan media promosi lainnya.

“Tetap kami ikuti aturan pemerintah mengenai penutupan destinasi, tetapi promosi tetap kami gencar lakukan sehingga saat objek wisata dibuka bisa dan dapat menarik kunjungan lebih banyak lagi,” tambah Penasehat Pokdarwis PASSIH I Ketut Pasek Arsa Bedoleng.

Selain destinasi wisata yang dikelola kelompok sadar wisata Passih, di tengah penutupan destinasi wisata juga dilakukan kelompok sadar wisata lainnya konsisten merawat destinasi wisatanya. Salah satunya kelompok sadar wisata Desa Banyubiru yang mulai membangun destinasi wisata di pesisir Pantai Pebuahan.

Terpisah Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi mengatakan, saat penutupan destinasi wisata ini hingga nantinya dibuka lagi berharap pengelola destinasi wisata lebih memperkuat penerapan CHSE.

Yakni, Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment (ramah lingkungan). “Karena saat ini pandemi, protokol kesehatan juga harus ketat,” ungkap Pasek Arsa Bedoleng.

Karena aturan PPKM tidak memperbolehkan destinasi dibuka, sambil menunggu dibukanya pariwisata pihaknya menekankan agar pengelola untuk mempersiapkan diri dengan melakukan penataan dan perawatan destinasi wisata dan administrasi kelompok sadar wisata diperbaiki lagi yang belum bagus.

“Kami dari dinas membantu untuk memfasilitasi,” imbuhnya, pejabat cantik ini.

Mirah menambahkan, destinasi wisata di Jembrana saat ini yang ditetapkan pemerintah daerah sebanyak 30 destinasi dan kelompok sadar wisata sebanyak 26 kelompok.

Jumlah kelompok sadar wisata, hampir setiap tahun meningkat jumlahnya karena masyarakat semakin bersemangat untuk mengelola potensi yang ada di daerahnya.  (adv)

(rb/bas/pra/JPR)

 TOP