alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Menilik Toleransi Umat Beda Agama di Tabanan

Turun Temurun Rawat Keharmonisan dengan Tradisi Ngejot dan Mejenukan

31 Juli 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kerukunan umat, tradisi ngejot, mejenukan, umat beda agama, Kementerian Agama,

Salah seorang umat muslim sedang mejenukan atau melayat di rumah umat Hindu di Banjar Malkangin, Desa Dajan Peken, Tabanan, Bali. (Maulana Sandijaya)

Share this      

MESKI berbeda keyakinan, kehidupan masyarakat di Banjar Dinas Malkangin, Desa Dajan Peken, Kabupaten Tabanan, Bali, selalu harmonis.

Kerukunan itu bisa dilihat dalam tradisi ngejot dan mejenukan.

Ngejot adalah tradisi saling menghantar makanan dengan tetangga atau kerabat.

Baca juga: Jasa Raharja Kenalkan “SIVERA”

Sedangkan mejenukan adalah tradisi melayat ke rumah warga yang meninggal dunia. Seperti yang terlihat pada Senin pagi, 26 Juli 2021.

Umat muslim mejenukan ke salah satu rumah warga Hindu yang meninggal dunia.

“Begitu dapat kabar ada saudara Hindu yang meninggal, kami yang muslim ini tanpa diperintah langsung datang untuk mejenukan,” ujar Imam Kambali.

Suasana mejenukan sendiri terasa sangat harmonis. Kambali diterima dengan hangat perwakilan keluarga yang berduka.

Sebagai muslim yang taat, Kambali mengenakan peci hitam. Sementara keluarga yang berduka mengenakan pakaian adat madya Bali. Mereka berbaur dalam perbedaan.

Enam hari sebelumnya, pada 20 Juli 2021, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1442H, umat muslim juga ngejot atau membawakan daging hasil kurban ke rumah warga yang beragama Hindu.

Daging dimasukkan ke dalam besek atau kotak yang terbuat dari bambu.

“Dari dulu, orang tua kami sudah mengajarkan ngejot ke tempat nyama (saudara) Bali. Sampai sekarang, tradisi tersebut kami jaga. Semoga sampai anak cucu bisa lestari. Mejenukan dan ngejot adalah simbol persaudaraan,” ujar Slamet Riyadi.

Slamet sendiri merupakan generasi kedua warga muslim yang ada di Malkangin.

Menurut Slamet, umat muslim menganggap umat Hindu sudah seperti saudara sendiri. Bahkan, Slamet tidak pernah merasa menjadi orang asing di tengah mayoritas masyarakat yang beragama Hindu.

“Kita yang beragam ini harus rukun dan kompak. Sebab, kerukunan dan kekompakan inilah yang menjadi salah satu kekuatan kita menghadapi tantangan zaman,” imbuh kakek satu cucu itu.

Sementara itu, Klian Adat Banjar Malkangin, Ketut Agus Suteja, 37, mengaku senang dengan kerukunan antarumat beragama di Malkangin.

Menurutnya, Banjar Malkangin yang terletak di jantung Kabupaten Tabanan merupakan etalase kehidupan harmonis antarumat beragama.

“Semua umat beragama di sini menjaga toleransi, saling menghormati dan rukun. Kerukunan dan kekompakan inilah yang harus terus dirawat. Kami sangat mengapresiasi dan berterimakasih kepada umat muslim,” tegas Agus.

Hal senada diungkapkan Kelian Adat Banjar Malkangin, I Komang Gede Wijaya.

“Saya sudah 25 tahun menjadi prajuru (pengurus) adat di Banjar Malkangin. Saya menyaksikan dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada masalah. Benar-benar Bhineka Tunggal Ika,” tutur Wijaya. 

Pria 56 tahun itu berharap semua pihak bisa mempertahankan kerukunan dengan warga setempat.

Wijaya pun siap membantu keamanan dengan melibatkan pecalang atau keamanan adat jika umat muslim membutuhkan.

“Tidak usah sungkan-sungkan dengan kami. Yang penting komunikasi dan koordinasi. Toh, selama ini hubungan kita sudah sangat baik,” tandasnya.

Menurutnya, nilai-nilai keragaman ini harus terus dipupuk hingga generasi muda. Hidup berdampingan meski berbeda keyakinan. Ketika masyarakat hidup tenang dan damai, maka pembangunan bisa melaju, sehingga masyarakat bisa sejahtera.

Kabupaten Tabanan sendiri, pada Februari 2017 menerima Harmony Award atau Anugerah Kerukunan Umat Beragama dari Menteri Agama RI.

Hal itu membuktikan kehidupan beragama di Tabanan sangat harmonis, meski berbeda keyakinan. (maulana sandijaya)

(rb/san/pra/JPR)

 TOP