alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
NESTAPA PUTU EDWIN CANDRA NATA SEPTIAWAN

Kakek dan Ayah Meninggal, Ibu Nikah Lagi, Masih Terbebani Urusan Adat

31 Juli 2021, 18: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Putu Edwin Candra Nata, bocah yatim, KPPAD Bali, ibu nikah lagi, ayah meninggal, kakek meninggal, hidup sebatang kara, kisah miris,

Komisioner KPPAD Bali, Made Ariasa saat menemui bocah yatim yang ditinggal ayah dan kakeknya di Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Sabtu (31/7) (Istimewa)

Share this      

KONDISI miris dialami Putu Edwin. Di usianya yang masih 4 tahun, Putu Edwin harus hidup sebatang kara.

Makin mirisnya lagi karena tumpuan hidup yang selama ini ia gantungkan pada kakek dan ayahnya sudah tak ada lagi.

Ayah dan kakeknya baru saja meninggal dunia. Sedangkan ibu kandungnya sudah menikah lagi dengan lelaki lain jauh sebelum ayah dan kakeknya meninggal.

Baca juga: Menko Airlangga: Vaksin Nasional Harapan untuk Kebutuhan Dalam Negeri

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

PUTU Edwin Candra Nata Septiawan menjadi salah satu potret kehidupan miris di Gianyar, Bali.

Di usianya yang masih sangat belia dan butuh sosok pengasuh, balita laki-laki yang tinggal di Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar ini harus kehilangan orang-orang tercintanya.

Bahkan sebagai anak laki-laki asli Bali dan pewaris keturunan, bocah yatim ini dibebankan tanah warisan desa.

Putu Edwin sudah masuk warga adat dan tiap bulan harus membayar iuran ke desa. Namun karena masih bocah, Putu Edwin tidak ikut tedun ngayah.

Kondisi itulah yang kemudian memantik respon dan empati dari Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali. Atas kondisi yang dialami Putu Edwin, Sabtu (31/7) tim dari KPPAD Bali mendatangi rumah Putu Edwin.

Terkait kondisi Putu Edwin, Komisioner KPPAD Bali, Made Ariasa berjanji akan mencarikan Putu Edwin orang tua asuh dan 'kail' sebagai bekal hidup masa depan.

“Tidak cukup memberikan ikan (sumbangan, red) berapapun banyaknya, tetap akan lebih baik memberikan bekal kail (alat pancing, red). Agar si Putu (sapaan bocah yatim, red) kelak bisa meraih masa depannya,” ujar Ariasa.

Ariasa menjelaskan, kail yang ia maksud yakni bekal untuk tetap menjaga warisan orang tua maupun leluhurnya termasuk meneruskan tanggung jawab kewajiban yang cukup berat menempati tanah ayah desa.

Komisioner asal Desa Mas, Kecamatan Ubud itu menambahkan, permasalahan yang dihadapi Putu Edwin bukan sekedar kebutuhan hidup makan minum, kesehatan, bermain dan pendidikan saja.

“Kedepannya tetap masalah terkait kewajiban adat di luar ayah-ayahan. Misalnya, ada hak PKH (Program Keluarga Harapan) yang ternyata masih dipegang oleh kakak tirinya. Infonya (kakak tiri, red) tidak lagi merawat dan menghidupinya,” tambah Ariasa.

Ariasa berharap, nasib Putu Edwin ini bisa menjadi perhatian semua pihak.

“Mulai dari pemerintah banjar, desa, kabupaten di dinas terkait,” sebut Ariasa.

Apalagi, dengan keterikatan Putu Edwin dengan adat, Ariasa menilai perlu peran Majelis Desa Adat (MDA) Gianyar.

“Termasuk MDA kecamatan dan kabupaten, terhadap beban tanggung jawab adat tersebut serta pengembalian hak PKH warisan orang tuanya,” pintanya.

Ariasa yang merupakan KPPAD Bidang Pendidikan akan ikut berusaha mengupayakan pendidikan berkelanjutan.

“Salah satunya mengupayakan orang tua asuh untuk keberlangsungan masa depan pendidikannya sebagai bentuk bekal kail masa depannya. Bukan untuk memancing tapi untuk bekal bekerja lebih baik,” jelasnya.

Bahkan terkait orang tua asuh, Ariasa optimistis banyak orang tua asuh yang akan mau mengulurkan sebagian kecil rezekinya. “Sebagai wujud syukur atas segala berkah Tuhan selama ini,” ujarnya penuh harap.

Bahkan ia meyakini, potret kehidupan miris Putu Edwin ini bukan merupakan satu-satunya terjadi di Bali.

“Bukan hanya si Putu yatim piatu ini saja. Masih ada anak-anak lain yang mengalami kesulitan masa depan pendidikan. Semoga di masa pandemi covid-19 saat ini semakin meningkat semangat bergotong royong masyarakat Bali yang ekonominya masih di atas rata-rata lainnya,” pungkas Ariasa. 

(rb/dra/pra/JPR)

 TOP