alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Warga Miskin di Pelosok Buleleng, Bali

Pilih Tinggal di Hutan sekeluarga, Nasi Jadi Makanan Paling Istimewa

04 Agustus 2021, 01: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kisah keluarga miskin, Keluarga Gede Wangi, tinggal di hutan, pelosok buleleng, kisah miris,

Kondisi keluarga Gede Wangi yang tinggal di kawasan hutan Negara (Eka Prasetya)

Share this      

KELUARGA Gede Wangi, hidup dalam garis kemiskinan. Mereka menggantungkan hidup dengan meramu makanan yang didapat di areal hutan negara. Bisa memakan nasi, sudah jadi keistimewaan bagi keluarga mereka.

EKA PRASETYA, Buleleng

RUMAH itu amat sederhana. Dindingnya berupa anyaman bambu. Atapnya berupa rumbia. Tiada sambungan listrik, sonder kamar mandi.

Baca juga: AgenBRILink Ini Bantu Sediakan Layanan Keuangan Bagi Pelaku UKM

Seekor anjing terus menggonggong, saat koran ini mengunjungi rumah tersebut.

Rumah itu merupakan milik Gede Wangi, 62. Tak mudah mencapai lokasi itu. Patokan paling gampang, ialah mencari bangunan panel listrik untuk air bersih di Banjar Dinas Silagading, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.

Dari bangunan tersebut, Jawa Pos Radar Bali harus melaju menanjak ke arah perbukitan Desa Sambirenteng, menyusuri jalan tanah setapak.

Setelah menempuh jarak sekitar 500 meter, jalan berakhir di sekitar pohon jambu mete yang rimbun.

Perjalanan belum berakhir. Untuk menuju rumah Gede Wangi, harus berjalan kaki sekitar 400 meter ke arah bukit.

Secara administratif, kawasan itu sejatinya masuk dalam kawasan hutan negara di Kecamatan Kintamani. Sementara Gede Wangi, secara status kependudukan, tercatat sebagai warga Desa Sambirenteng.

Konon Gede Wangi sudah tinggal di kawasan itu sejak tahun 1996 silam. Ia tinggal di sana bersama istrinya, Made Rakta, 61. Pasangan suami istri (pasutri) ini memiliki tiga orang anak, masing-masing Nyoman Merta Yasa, 35; Ketut Yasa, 33; dan Luh Sudarmini, 21.

Putranya, Nyoman Merta Yasa kini bekerja sebagai buruh di Denpasar.

Anak bungsunya, Luh Sudarmini, bekerja di Bangli. Sementara putrinya, Ketut Yasa, masih tinggal bersama dirinya. Ketut Yasa juga mengajak anaknya, Gede Sudiana, yang baru berusia 8 tahun.

Ketut Yasa mengaku sempat menikah. “Tyang nak ten normal pak. Sakit-sakitan tyang, ngelah penyakit ayan. Sing normal tyang, uliange meriki. Niki panak tyang, keajak masi deriki,” tutur Yasa.

Meski sudah berusia sekolah, Gede Sudiana tak pernah mengenyam pendidikan. Namanya juga tak tercantum dalam kartu keluarga keluarga Gede Wangi. Saat Jawa Pos Radar Bali datang, Sudiana lebih banyak meringkuk di belakang punggung neneknya, Made Rakta.

Cucun tyang nak takut ningalin nak rame pak. Tyang masi sing ngelah biaya, sekolah joh, angkalange sing asukang tyang,” jelas Gede Wangi.

Wangi bersama keluarganya, sengaja memilih tinggal di wilayah hutan. Menyendiri. Jauh dari warga lainnya. Ia mengaku tinggal di wilayah hutan negara bersama beberapa keluarga lain. Hanya dia yang tinggal paling dekat dengan Desa Sambirenteng.

Ada pula 5 kepala keluarga lain yang memilih tinggal di kawasan hutan negara. Namun mereka tinggal di kawasan Batu Lompeh. Sekitar 2,5 kilometer mendaki bukit arah selatan dari tempat tinggalnya.

Kehidupan Wangi sangat memprihatinkan. Ia hanya mengandalkan bangunan gubug beratap rumbia sebagai lokasi tidur.

Untuk mendapatkan air bersih, ia harus mendatangi saluran pipa air bersih yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

Di sana ia menampung air pada jerigen. Kemudian air yang sudah tertampung dibawa ke bak penampungan di rumahnya. Biasanya tiap pagi dan sore ia melakoni rutinitas itu.

Sementara untuk makan sehari-hari, ia hanya mengandalkan ketela pohon yang telah dikeringkan. Terkadang dicampur jagung. Bila punya cukup uang, ia menyempatkan diri membeli nasi, tahu, maupun tempe sebagai tambahan.

Tapi pada musim kemarau seperti tahun ini, tiada jagung yang bisa ditanam. “Bulan enam tyang sampun nanem jagung. Tapi abesik sing ade mentik. Jani kanggeang cacah sela kemanten,” katanya pasrah.

Beruntung ada orang yang memberikan Wangi kesempatan memelihara seekor sapi betina. Kini sapi itu sudah memiliki seekor anak. Sehingga anak itu menjadi hak milik Wangi.

Sejatinya keluarga Gede Wangi sempat terdaftar dalam program Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Anak bungsunya, Luh Sudarmini juga sempat merasakan program Kartu Indonesia Pintar. Namun pada tahun 2018 lalu, bantuan itu terputus hingga kini.

Sekretaris Desa Sambirenteng, Made Setiawan menuturkan, kondisi keluarga Gede Wangi secara faktual memang masuk keluarga miskin. Terakhir kali keluarga ini menerima bantuan pada tahun 2017 lalu. Yakni bantuan beras sejahtera. Setelah itu Wangi tak pernah lagi terdata sebagai penerima bantuan.

Setelah dicek, ternyata keluarga Gede Wangi masuk dalam kategori data ganda. Pihak desa pun masih menelusuri masalah yang ada. Entah terjadi duplikasi nomor kartu keluarga, atau terjadi tumpang tindih data dalam sistem.

Menurut Setiawan, beberapa tahun lalu, keluarga Gede Wangi juga sempat didata sebagai calon penerima bantuan bedah rumah. Namun usulan itu kandas.

“Karena beliau tidak punya tanah milik. Sebenarnya ada keluarganya yang mau memberikan bantuan tanah, tapi beliau tidak mau menerima (bantuan tanah untuk tempat tinggal, Red),” jelas Setiawan.

Solusinya pihak desa akan membersihkan kembali data kependudukan Gede Wangi. Serta memastikan Nomor Kartu Keluarga dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam kondisi aktif.

Setelah itu, keluarga ini akan diusulkan masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) lewat Musyawarah Desa (Musdes) pada bulan Oktober mendatang. (*)

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP