alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Di Balik Melonjaknya Kasus Covid-19 Saat PPKM

Tuding PPKM Tak Efektif, Banyak Netizen Gagal Paham, Ini Buktinya

04 Agustus 2021, 17: 00: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

PPKM, vaksinasi, prokes, epidemiolog, capaian vaksinasi, kasus covid-19 Bali, Putu Pande Januraga,

DR Pande Putu Januraga (Istimewa)

Share this      

SEBULAN lebih masyarakat khususnya di Pulau Jawa dan Bali “terkurung”.

Aktivitas dan mobilitas warga tak bisa leluasa karena Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Meski tujuan PPKM salah satunya untuk menekan angka penularan Covid-19. Sayangnya, upaya pemerintah ini dinilai sebagaian netizen tak berjalan efektif dan bahkan dianggap gagal.

Baca juga: Menko Airlangga: Hadapi Covid-19 Butuh Solidaritas Antar Bangsa

Dianggap gagal karena faktanya, angka kasus Covid-19 terus melonjak selama PPKM. Selain itu, warganet juga menilai jika PPKM justru makin memperburuk kondisi perekonomian masyarakat. Benarkah?

DIDIK D.PRAPTONO, Denpasar

PRO dan kontra PPKM masih terjadi di masyarakat.

Terlebih saat pemerintah kembali memutuskan untuk memperpanjang PPKM Level 4 di Pulau Jawa dan Bali mulai 3-9 Agustus 2021 mendatang.

Khusus di Bali, akibat perpanjangan PPKM Level 4, banyak warga yang mengeluh. Meski ada kelonggaran, namun perpanjangan PPMK ini diakui sangat sulit dirasakan.

Mereka yang mengeluh rata-rata karena akibat kondisi ekonomi yang terus terpuruk akibat tak lagi memiliki penghasilan dan gaji bulanan.

Selain itu tingginya beban hidup seperti beban kebutuhan harian, tanggungan pinjaman, biaya sekolah (seperti kuota internet), serta bantuan tak merata, dan lain-lain menjadi faktor yang makin membuat mereka ‘jenuh, bosan,  bahkan marah’.

Terlepas dari pro dan kontra itu, jika melihat dari capaian vaksinasi, sebenarnya Provinsi Bali terbilang cukup sukses, khususnya vaksinasi tahap I.

Terbukti, sesuai data resmi yang dirilis dari Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali hingga Selasa (3/8), dari total target 2.996.060 penduduk penerima vaksin, jumlah masyarakat yang telah memperoleh vaksin tahap I melampaui target dengan total sebanyak 3.073.181 orang ( 102, 64 persen).

Sedangkan vaksin tahap II sebanyak 902.143 orang (31, 36 persen)   

Sayangnya, tingginya capaian vaksinasi itu tak berkorelasi dengan kasus harian.

Bahkan, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Bali secara harian kembali bertambah signifikan.

Sesuai data harian yang dirilis Satgas Nasional Penanganan Covid-19 per 3 Agustus 2021, ada sebanyak 1.408 kasus baru di Bali atau secara kumulatif menjadi 79.917 orang (79.636 WNI & 281 WNA).

Jumlah sembuh pasien sembuh sebanyak 937 atau menjadi 64.304 orang (64.036 WNI & 268 WNA), Meninggal sebanyak 38 orang atau menjadi 2.269 Orang (2.263 WNI & 6 WNA), dan masih menjalani perawatan sebanyak 13.344 Orang (WNI 13.337 & WNA 7).

Terkait masih tingginya kasus harian Covid-19 di Bali, Akademisi yang juga dosen di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) Dr Pande Putu Januraga, menegaskan jika multi faktor menjadi penyebab tingginya kasus penularan Covid-19 di Bali.

Sejumlah faktor itu, imbuh doktor lulusan Flinders University, Australia, ini karena cakupan vaksinasi tahap II belum sepenuhnya memadai.

“Memang vaksin pertama sudah cukup tinggi. Padahal, ukuran vaksinasi adalah vaksinasi lengkap sebanyak dua kali,”terang Januraga.

Selain itu, terkait PPKM level 4, Pande Januraga juga menilai belum sepenuhnya optimal mengurangi mobilitas warga.

Menurut Pande Januraga, mobilitas warga masih tetap berjalan terutama mobilitas dari keluarga ke keluarga.

Terbukti kondisi itu imbuh Pande Januraga terlihat dari tingginya kasus Covid-19 baru yang didominasi dari klaster keluarga

Lebih lanjut, pria yang menjabat sebagai ketua unit Center for Public Health Innovation dan koordinator program S2 IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat), ini juga menilai PPKM level 4 juga belum secara optimal mengurangi kegiatan berkumpul atau kerumunan.

Ketika orang tidak punya pekerjaan, kerumunan skala kecil kata Januraga malah justru terjadi di mana-mana.

Bahkan PPKM juga tidak membuat upacara atau aktivitas berkumpul berkurang jauh.

“Saat musim upacara, gelaran upacara dan kegiatan keagamaan lain masih tetap jalan,” kata Dr Pande Januraga.

Faktor lainnya yang bahkan dinilai banyak terjadi, yakni adanya kejenuhan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara benar.

Salah satu yang ia soroti yakni soal kedisiplinan penggunaan masker. Iapun melihat ada indikasi masyarakat mulau jenuh menggunakan masker.

“Pakai masker di jalan saya bilang yes, tapi saat berkumpul, ngobrol dengan keluarga, kawan, dan sahabat tidak (memakai masker, Red),” ungkapnya.

 Untuk itu, dengan kondisi itu, ia tidak heran jika kasus baru menjadi ribuan akibat banyak warga ‘gagal paham’

“Varian delta jauh lebih ganas dalam hal penularan. Karena kasus baru ribuan, layanan kewalahan dengan kasus indeks, belum bisa optimal kejar kontak erat dan tes serta isolasi segera. Apalagi umumnya, tes setelah bergejala sedang atau berat,” pungkas Pande Januraga.

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP