alexametrics
Kamis, 23 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Ada 11 Ancaman Bencana di Karangasem, BPBD Imbau Masyarakat Waspada

04 Agustus 2021, 19: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

bencana, cuaca ektrem, ancaman bencana, BPBD, bencana nasional, karangasem,

Kondisi longsor di Banjar Dinas Pejeng, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Selasa pagi (3/8) kemarin. (Istimewa)

Share this      

AMLAPURA-Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Senin hingga Selasa kemarin mengakibatkan sejumlah bencana di Karangasem. Seperti tanah longsor, hingga pohon tumbang hingga mengakibatkan bangunan milik warga rusak.

Laporan yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem, mencatat setidaknya ada 4 laporan bencana di sejumlah titik.

Seperti Kecamatan Bebandem, Selat dan paling parah terjadi di Kecamatan Rendang yang mengakibatkan korban jiwa.

Terkait hal ini, Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, IB Ketut Arimbawa menegaskan intensitas hujan yang terjadi sejak bulan Juli hingga saat ini menjadi perhatian bahwa cuaca saat ini sulit diprediksi.

Baca juga: Dilaporkan ke Polda Bali, Dr Somvir: Saya Fokus Bantu Masyarakat

“Berubah-ubah. Agustus yang seharusnya memsuki musim kemarau justru hujan. Dari ramalan cuaca BMKG ada anomali cuaca yang berubah tiba-tiba dan sulit diprediksi,” ujarnya ditemui Selasa (3/8) kemarin.

Pihaknya pun sudah sering melakukan sosilaisasi dengan gencar menyampaikan kepada masyarakat, terutama yang bermukim di wilayah dataran tinggi hingga di seputaran daerah aliran sungai untuk tetap waspada.

“Masyarakat agar selalu waspada dan siaga. Terlebih di wilayah perbukitan yang berisiko terjadi pergerakan tanah secara tiba-tiba,” imbaunya.

Sejak bulan Juli hingga saat ini, setidaknya ada 56 laporan bencana yang diterima BPBD Karangasem.

Dia menjelaskan, dari 14 ancaman bencana nasional, sebelas di antaranya ada di Karangasem.

Sejumlah ancaman bencana itu, diantaranya bencana longsor dan banjir bandang. Potensi bencana pun terjadi di delapan Kecamatan di Karangasem. “Apabila terjadi hujan lebat agar segera bergeser ke tempat yang lebih ama untuk menghindari ancaman bencana,” terangnya.

Namun kata Arimbawa, masyarakat tidak punya pilihan untuk mencari tempat yang aman. “Ya karena tanah yang ditempati itu milik mereka. Kami hanya bisa menguatkan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi untuk tetap waspada,” tandasnya. 

(rb/zul/pra/JPR)

 TOP