alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nestapa Wayan Widiasa; Siswa SD di Gianyar

Ayah dan ibu Tuna Netra, Tak Punya Kuota, Numpang Wifi di Tetangga

05 Agustus 2021, 02: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Wayan Widiasa, tuna netra, kisah miris, belajar daring, bantuan kuota internet, keluarga miskin,

Wayan Widiasa (tengah) diapit kedua orang tuanya yang tuna netra (IB Indra Prasetya)

Share this      

SELAIN terlahir dari keluarga kurang mampu, Widiasa juga lahir dari pasangan tuna netra.

Namun, meski ayahnya I Nyoman Warka, 54, dan Ibunya Ni Made Tangen, 45, tuna netra, namun ia lahir dan tumbuh dengan kkondisi fisik normal.

Kini di tengah pembelajaran daring, iapun mulai kesulitan. Selain tak punya kuota karena bantuan belum turun, kedua orang tuanya juga tak tahu teknologi karena buta.

Baca juga: Selain Tewas Tanpa CD, Polisi Juga Temukan Kon**m Berisi Spe**a di TKP

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

KEHIDUPAN Wayan Widiasa benar-benar bikin miris.

Untuk bisa mencapai rumah dari siswa kelas IV di SD Negeri 3 Saba, Blahbatuh, Gianyar, Jawa Pos Radar Bali harus masuk menyusuri gang kecil di Jalan Raya Saba, Kecamatan Blahbatuh.

Rumahnya merupakan bantuan bedah rumah.

Ditemui di rumahnya di lingkungan Banjar/Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Widiasa, mengaku usai mengerjakan tugas sekolah.

Dia mengaku beberapa bulan ini sudah tidak lagi memperoleh kuota internet gratis dari pemerintah.

“Kalau WiFi, biasanya pinjam sama tetangga untuk belajar online,” ujar Widiasa, Rabu (4/8).

Widiasa mengakui, kedua orang tuanya tidak bisa mengajarinya. Sebab, ibundanya buta sejak lahir.

Sedangkan, penglihatan ayahnya juga kabur.

 “Jadi kalau tidak ngerti pelajarannya, saya diajari sama kakak sepupu,” ungkapnya.

Kakak sepupunya duduk di bangku SMP. “Kalau pelajaran yang sulit, kakak juga sulit mengajari. Paling sulit matematika,” jelasnya.

Apabila ada tugas yang dirasa susah, dia pun akan mencari teman sekolah untuk minta bantuan jawaban.

Selama ini, Handphone yang digunakan Widiasa untuk belajar daring merupakan sumbangan dari donatur, tempat ibunya sekolah di Yayasan Dria Raba Tabanan.

Lantaran orang tuanya tuna netra, Widiasa pun hidup pas-pasan.

Ayahnya merupakan tukang angkut air keliling. Sedangkan ibunya, seorang penjual canang. Meski tuna netra, canang hasil karya sang ibu tergolong rapi.

Ni Made Tangen mengaku jika dirinya punya langganan pembeli canang.

“Tiap hari jualan canang Rp 5000-10.000,” aku Tangen.

Menurutnya, bahan busung kini melonjak mahal. Selain itu, pelanggan menurun dari biasanya karena pandemi.

Suaminya, mengangkut air menggunakan ember bekas cat. Pelanggannya juga tidak tetap.

“Sehari mengirim air lima sampai tujuh kali,” jelasnya.

Setiap satu ember, kata Tangen, dihargai Rp 3000 hingga Rp 5000.

“Kalau sehari ngirim tujuh kali, dapat Rp 15 ribu sehari,” ungkapnya.

Dia berharap suaminya bisa sehat untuk mengangkut air dengan cara jalan kaki.

Untuk air, diperoleh dari mata air. Kemudian dikirim ke rumah pelanggan yang memesan air untuk kebutuhan dapur.

Lanjut dia, dengan hasil itu, dia mencoba bertahan hidup. Uang disisihkan untuk makan dan membesarkan putranya.

“Sebulan saya kumpulkan, pakai dapur. Sekarang saya minta hidup sehat dan anak bisa sekolah saja,” pintanya penuh harap.

Di tengah obrolan hangat wartawan bersama Widiasa dan ibunya,  sang ayah, Warka baru tiba dari mengangkut air.

“Ini sudah jalan bolak-balik tiga kali,” aku Warka.

Dia pun harus mengangkut air lagi. Dengan penglihatan yang kabur, Warka selalu mengangkut air membawa tongkat.

Warka mengaku tidak ada jalan lain dalam hidup. “Begini kehidupan saya. Saya sebenarnya ingin bekerja. Tapi kondisi kami begini. Kalau ada yang memberikan uang di jalan, terima kasih,” pungkas Warka.

(rb/dra/pra/JPR)

 TOP