alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Dari Rebutan Anak hingga Ribut di Denpasar

Ibu Kandung Sampai Ngesot Mau Jemput Anak, Tuding Ibu Tiri Menghalangi

05 Agustus 2021, 09: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Hak asuh anak, Rhoddiyah Martak, Zakariyah Ba'awad, ribut, terhalang ibu tiri,

Proses eksekusi hak asuh anak antara mantan pasutri Rhoddiyah Martak dan Zakariyah Ba'awad di Denpasar berlangsung tegang hingga akhirnya batal hari itu. (Marcell Pampur/ Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Kasus rebutan hak asuh anak antara Rhoddiyah Martak dengan mantan suami Zakariyah Ba'awad kini masih bergulir. Berdasarkan putusan Pengadilan Agama Tuban, Jawa Timur, Rhoddiyah Martak memang sudah menang mendapatkan hak asuh terhadap dua anaknya, berinisial Zee, 9 dan Zai, 7.

Namun, proses eksekusi yang terjadi pada Selasa (3/8/2021) di rumah mantan suami di Jalan Gunung Abang, lingkungan Bhuana Asri, desa Tegal Kerta, Denpasar Barat gagal. Kedua belah pihak tidak menemui kesepakatan. Bahkan proses itu sempat diwarnai ketegangan dan keributan kedua belah pihak. Kedua anak itu pun belum diserahkan ke pangkuan ibu kandungnya. 

Terkait hal itu, Nang Engki Anom Suseno selaku kuasa hukum dari Rhoddiyah Martak selaku pemenang hak asuh anak mengatakan, bahwa kisruh yang terjadi pada Selasa (3/8/2021) bukanlah pembatalan eksekusi.

Baca juga: Beraksi 5 Menit, Perampok Cirkle K Gatsu Denpasar Hanya Modal Linggis

"Sebenarnya kemarin itu bukan pembatalan. Kita melihat eksekusi itu belum sepenuhnya dengan teknis yang maksimal," katanya saat dikonfirmasi media ini pada Rabu (4/8/2021).

Artinya, kata dia, kliennya dalam hal ini Rhoddiyah Martak seharusnya diberikan kesempatan lebih oleh pihak termohon, atau pihak mantan suaminya agar dirinya bisa mengobrol dengan kedua anaknya tersebut.

Hal itu untuk memunculkan chemistry antara dirinya dan dua buah hatinya itu. Dengan begitu, tidak akan ada kesan bahwa kedua anaknya itu tidak mau ikut dan bertemu dengan ibu kandungnya tersebut. 

"Harusnya si ibu ini dikasih waktu dengan anak-anaknya dulu untuk ngobrol tanpa ada halang-halangan. Kemarin anak itu dipeluk sama ibu tirinya. Ketika sedikit tersenyum sama ibunya, dipeluk lagi sama ibu tirinya. Saya pikir ini kurang fair lah. Saya memahami eksekusi anak itu adalah faktor psikologis yang diperhatikan,"kata Anom Suseno.

Bahkan, kata dia, Rhoddiyah Martak sempat ngesot, dan memposisikan dirinya seperti pengemis untuk meminta kedua anaknya itu ke pangkuannya. Namun, ibu tiri kedua anaknya itu tidak memberikan izin.

"Sampai sedih ngesot-ngesot kayak pengemis. Anaknya gak dikasih sama ibu tirinya," ujarnya. 

Dijelaskan lebih jauh, bahwa sebenarnya dua orang yang berperkara yakni Zakariyah Ba'awad dan kliennya Rhoddiyah Martak awalnya memiliki itikad baik. Di mana setelah adanya putusan Pengadilan Agama Tuban Jawa Timur, dan hak asuh anak jatuh ke tangan Rhoddiyah Martak, kedua belah pihak sepakat untuk merawat kedua buah hati mereka bersama. 

"Setelah putusan itu in kracht (kekekuatan hukum tetap), maka serahkanlah anak itu. Ayo dirawat berdua. Tapi kami melihat iktikad yang kurang baik, sehingga sampailah pada proses eksekusi. Persoalan orang berpendapat anak ini gak mau sama ibunya, apakah kita melihat secara komprehensif bahwasannya ibunya tidak dapat akses. Itu sudah melanggar hak anak. Apakah kita sudah melihat secara komperhensif selama anak dipisahkan dari ibunya ada gak doktrin atau dugaan cerita bahwa ibunya sudah meninggal atau apa, kita juga tidak tahu," bebernya lagi.

Anom Suseno menjelaskan lebih jauh, meski gagal saat eksekusi hak asuh anak pada Selasa (3/8/2021), pihaknya akan tetap melakukan upaya hukum.

"Eksekusi memang belum bisa dipaksakan karena kita melihat kondisi yang begitu panas. Saya berharap yang namanya manusia saya yakin pasti punya hati nurani. Mau kita berbicara A sampai Z tentang hak anak, saya harap berbicara dengan komprehensif. Si Rhoddiyah Martak ini adalah ibu kandung yang dipisahkan dari anaknya. Padahal secara sah dan hukum jelas dia punya hak. Upaya pasti akan kita lakukan. Kita tunggu perkembangan psikologi anak dan ibunya. Karena ini berhubungan dengan hati," tandansya. 

Sementara itu, sehari sebelumnya, Selasa (3/8/2021) proses eksekusi hak asuh anak itu berlangsung panas. Suanana memanas saat pihak Pengadilan Agama Tuban tiba rumah termohon bersama penggugat. Mereka juga didampingi aparat kepolisian dan juga tim pengacara.

Situasi panas itu bermula saat Mu'adz Masyadi selaku kuasa hukum Zakariyah Ba'awad selaku termohon menanyakan apakah pihak pemohon sudah berkoordinasi dengan pihak Satgas Covid-19 atau belum. Alasannya PPKm dilarang berkumpul.

Kemudian terjadilan perdebatan. Akhirnya pihak pemohon dari Rhoddiyah Martak diizinkan masuk ke dalam rumah dan berupaya untuk membujuk kedua anak kandungnya Zee, 9, dan Zai, 9, untuk mengikuti dirinya. Pasalnya, dialah yang memenangkan perkara hak asuh anak tersebut.

Lebih dari satu jam, upaya dari pihak Rhoddiyah Martak membujuk kedua anaknya itu gagal. Proses eksekusi itu akhirnya dibatalkan hari itu karena adanya beberapa pertimbangan dari pihak pengadilan dan dari kedua belah pihak.

(rb/mar/yor/JPR)

 TOP