alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Indahnya Agrowisata Munduk Nangka Jembrana di Tengah Pandemi

12 Agustus 2021, 12: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Agrowisata Munduk Nangka, Banjar Tangimeyeh, Desa Berangbang, Kecamatan Negara, Jembrana,

Agrowisata Munduk Nangka, Banjar Tangimeyeh, Desa Berangbang, Kecamatan Negara, Jembrana. (M. BASIR/ RADAR BALI)

Share this      

NEGARA - Agrowisata Munduk Nangka, Banjar Tangimeyeh, Desa Berangbang, Kecamatan Negara, menjadi salah satu daya tarik wisata di Jembrana yang terdampak pandemi Covid-19.

Agrowisata yang dibuat Pokdarwis Mekar Sejati sejak 2018 dan dibuka untuk umum akhir tahun 2020, sempat menjadi tempat primadona warga untuk berwisata.

Namun sejak pandemi, ditambah dengan pemberlakukan PPKM yang harus menutup tempat wisata, kunjungan mengalami penurunan drastic. Sehingga pengelola harus mengencangkan ikat pinggang untuk perawatan agar tetap menjadi jujukan warga berwisata.

Baca juga: Bupati Klungkung Potong Gaji PNS untuk Disumbangkan kepada 15 Ribu KK

Agrowisata Munduk Nangka yang berada di tengah sawah Subak Pangkung Jelepung 1, selain menyajikan panorama alam sawah dengan terasering di sekitarnya, juga menyediakan tempat unik untuk swafoto.

Pengunjung juga disuguhi pemandangan alam Jembrana dari ketinggian melalui rakitan bambu yang dirakit seperti menara Eiffel Prancis.

Ketua Kelompok Sadar Wisata I Made Widi Astika mengatakan, di tengah sepinya pengunjung karena pandemi Covid-19 tetap melakukan perawatan dan menambah daya tarik lagi.

“Kami juga masih menyiapkan tempat untuk camping ground dengan panorama alam sawah dan kota Negara dari ketinggian,” ujar pria yang juga klian banjar Tangimiyeh.

Karena lokasi agrowisata berada di tengah sawah, salah satu kendala yang masih belum ditata adalah akses jalan, ketika musim hujan tidak bisa dilalui karena berlumpur.

Sebelumnya, pihak desa sudah menganggarkan rabat beton, karena pandemi Covid-19 direfokusing anggaran sehingga batal dirabat.

Pengelolaan agrowisata ini, dilakukan secara swadaya kelompok sadar wisata dibawah naungan badan usaha milik desa. Sedangkan lahan, tanah pribadi milik warga dengan sistem kerjasama dengan pengelola.

“Harapannya, pemerintah daerah juga membantu dalam melakukan penataan agrowisata ini,” tandasnya.

(rb/bas/yor/JPR)

 TOP