alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
3 Sekawan Di Gianyar Kreatif Saat Pandemi (2)

Pemesan Perabotan dari Batok Kelapa dari Anggota Dewan hingga Restoran

22 Agustus 2021, 15: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

kerajinan tangan, perabotan rumah tangga, batok kelapa, pemesan, Gianyar,

Perabotan rumah tangga berbahan batok kelapa yang dibuat tiga sekawan di Desa Guwang, Sukawato, Gianyar. (IB INDRA PRASETIA/ RADAR BALI)

Share this      

I Gede Arik Adiguna, 34, bersama dua kawannya, I Putu Oka Swardiana, 26, dan I Kadek Bagas Septiawan, 20, mulai menikmati hasil kreativitasnya membuat perabotan rumah tangga dari batok kelapa.

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

Produk perabotan kelapa karya I Gede Arik Adiguna, I Putu Oka Swardiana, dan I Kadek Bagas Septiawan, ditawarkan ke banyak pihak di desanya.

Baca juga: Bandara Ngurah Rai Bali Turunkan Tarif Tes PCR Jadi Rp495 Ribu

Mereka juga menawarkan kepada Anggota DPR RI Dapil Bali asal Guwang, Nyoman Parta. Dari pertemuan dengan anggota dewan ini, Gede Arik diminta untuk berinovasi memperbaiki kualitas.

Sehingga mesin yang biasa dipakai orangtuanya membuat kerajinan perak, dimodifikasi agar bisa memperhalus batok kelapa.

“Modal awal nyaris nol. Karena putar hasil jualan produk pertama saat itu kurang lebih Rp 280.000,” ungkapnya.

Setelah batok dihaluskan menggunakan amplas. Tanpa obat pengkilat sehingga mangkok maupun piring yang dihasilkan, aman dijadikan perabotan rumah tangga.

“Yang halus ini kami perlihatkan lagi ke Pak Man Parta, beliau sangat mengapresiasi. Langsung order dan bantu promosi,” jelasnya.

Produksi ini akhirnya resmi dirintis sejak dua minggu terakhir. Selain anggota dewan, pesanan juga datang dari salah satu restoran di kawasan Canggu.

“Kami diminta membuat mangkok ukuran sedang untuk sajian es buah. Ada tambahan penyangga di bagian bawahnya,” imbuhnya.

Saat ini, Arik dan temannya, juga sedang sibuk memenuhi pesanan. Ada datang dari perorangan untuk kebutuhan rumah tangga. Ada pula ada pengusaha yang berencana membuka usaha kuliner lawar babi.

“Yang dipesan untuk tempat komoh (sup kuah daging khas Bali, Red), paling kecil juga banyak diminati untuk minum arak,” jelasnya.

Untuk mendapatkan kualitas bentuk kelapa yang bulat, Arik tidak lagi asal pungut di sungai. Mereka kini memilih membeli kelapa ke wilayah Payangan. Itu pun kelapa yang sudah dikupas.

“Di awal pernah beli kelapa utuh, setelah dikupas kebanyakan bentuknya lonjong. Kurang bagus dipakai mangkok atau piring. Setelah itu kita beli yang sudah dikupas. Memang harganya sedikit lebih mahal. Yang penting dapat bentuk bagus,” ujarnya.

Namun tidak seluruhnya juga berbentuk bulat. Perbandingannya, dari 100 biji hanya sekitar 10 kelapa yang bulat sempurna. Sisanya, dipastikan ada bentuk-bentuk unik.

Dalam sehari, maksimal tiga sekawan ini bisa mengolah 20 produk. Mulai dari pemotongan, mengelupas isi, menghaluskan manual hingga menghaluskan memakai mesin.

Sementara, isi kelapa dikeringkan menjadi kopra untuk dijual kembali ke pengepul. Harga yang ditawarkan untuk Kau-kau yang sudah cantik kisaran Rp 7.000 hingga Rp 30.000 tergantung ukuran, bentuk, dan motif ukiran. Selain mangkok, mereka juga membuat canting, gayung, dan tempat tirtha.

Arik mengaku bersyukur masih bisa bekerja di masa sulit pandemi ini.

“Astungkara ada jalan, kami bisa bertahan hidup. Khawatir kalau diam saja, Lama-lama bisa jenuh. Lebih baik, tetap sibuk, astungkara ada rezeki,” pungkasnya. (habis)

(rb/dra/yor/JPR)

 TOP