alexametrics
Rabu, 22 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Cara Warga Rayakan Pagerwesi Saat PPKM

Waktu Ziarah Dibatasi dan Bergilir, Desa Adat Awasi Ketat

02 September 2021, 01: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

hari raya pagerwesi, ziarah, PPKM, upacara adat, buleleng, Bali,

Suasana peringatan hari raya pagerwesi di Setra Desa Adat Buleleng (Eka Prasetya)

Share this      

WARGA di Buleleng Bali merayakan hari raya Pagerwesi.

Perayaan ini berbeda bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Ada penyesuaian yang dilakukan selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 dilaksanakan.  Seperti apa?

Baca juga: Tahapan Pilkel Serentak di Klungkung Mundur, Biaya Membengkak

EKA PRASETYA, Buleleng

SUASANA di Pura Dalem Desa Adat Buleleng terlihat lengang.

Kondisi itu tentu jauh berbeda  sebelum pandemi melanda. Sebelum pandemi, Pura Dalem selalu ramai dengan umat yang melaksanakan persembahyangan.

Rabu (1/9) pagi, hanya terlihat beberapa orang yang datang ke Pura Dalem, melakukan persembahyangan serangkaian Hari Raya Pagerwesi.

Pagerwesi sebenarnya merupakan hari raya besar bagi umat hindu di Buleleng. Umat akan memadati Pura Dalem, Pura Prajapati, maupun setra adat. Mereka mendoakan para leluhur yang telah berpulang.

Biasanya di setra adat, umat akan bersembahyang menggunakan banten punjung atau banten penek.

Setelah menghaturkan banten, biasanya mereka akan menyantap hidangan bersama dengan keluarga besar. Tapi sejak pandemi melanda, tradisi itu tak lagi terlaksana.

Seperti yang dialami Gede Sudarsana. Pria yang mukim di Banjar Adat Pakraman Banjar Bali itu mendatangi pusara paman dan bibinya, yang dikubur di areal Setra Penataran.

Keluarganya meninggal pada tahun 2016 lalu. Keluarganya belum melalui proses ngaben.

Gede Sudarsana mengaku suasana hari raya Pagerwesi pada masa pandemi ini sangat berbeda.

Saat berziarah kemarin, ia hanya datang bersama keluarga inti yang berjumlah 4 orang. Dulunya sebelum pandemi, ia akan berkumpul bersama keluarga besarnya.

“Biasanya di grup WA itu janjian, jam berapa mau ke setra. Akhirnya kan kumpul keluarga besar di setra.

Bisa ngobrol banyak, keluarga dari Denpasar juga datang. Sekarang pandemi begini kan dibatasi. Akhirnya kalau mau ziarah ya sendiri-sendiri,” ujar Sudarsana.

Bendesa Adat Buleleng Jro Nyoman Sutrisna mengatakan, pada masa pandemi umat harus melakukan sejumlah penyesuaian.

Terlebih pada masa penerapan PPKM Level 4 yang telah berlangsung sejak awal Juli lalu.

Sutrisna menuturkan, pada hari raya Pagerwesi, desa adat telah melakukan langkah pencegahan.

Seperti menyiapkan masker dan hand sanitizer. Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta pecalang dikerahkan melakukan pengawasan.

Di Pura Dalem Desa Adat Buleleng misalnya. Umat datang secara bergantian sejak pukul 06.00 hingga pukul 12.00 siang.

Pecalang mengatur alur masyarakat yang masuk maupun keluar pura. Sehingga potensi berpapasan minim. Umat juga melakukan persembahyangan sendiri-sendiri, tanpa dipimpin oleh pemangku pura.

“Di Pura Prajapati juga sama. Memang kali ini lebih ramai di Pura Prajapati ketimbang di Pura Dalem. Karena pada masa pandemi ini, lebih banyak yang mekingsan ring geni.

Jadi mereka sembahyangnya ke Pura Prajapati,” ungkap Sutrisna.

Umat yang melakukan ziarah juga dibatasi. Maksimal 6 orang dalam satu keluarga. Tercatat hanya ada 30 keluarga yang melakukan ziarah ke pusara keluarga mereka.

Itupun datang secara bergiliran dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 09.00 pagi. Sehingga tidak ada kerumunan.

“Mereka juga tidak berlama-lama. Hanya sekitar 15 menit saja. Dengan luas setra kita 1,9 hektare, dengan jumlah orang sebanyak itu, tidak ada kerumunan.

Memang pada masa pandemi ini harus ada penyesuaian, tanpa menghilangkan esensi dari proses ibadah dan tradisi yang sudah berjalan,” pungkas Sutrisna. 

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP