alexametrics
Rabu, 22 Sep 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Balada Pasutri Darma dan Sarmini di Denpasar

Tukang Sapu Kantor Gubernur Punya 6 Anak, 4 Lumpuh, Kena Pandemi Pula

02 September 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

I Nyoman Darma, Nyoman Sarmini, pasutri, anak lumpuh, tukang sapu, Kantor Gubernur Bali,

Keluarga dari pasangan suami istri, I Nyoman Darma, 45, dan Nyoman Sarmini, 40, di Denpasar. (Marcell Pampur/ Radar Bali)

Share this      

Beban hidup yang dipikul oleh pasangan suami istri, I Nyoman Darma, 45, dan Nyoman Sarmini, 40, sungguh berat. Dengan penghasilan seadaanya, mereka menghidupi enam orang anaknya dengan tertatih-tatih. Dari enam anaknya itu, empat menglami kelumpuhan.

 

 

Baca juga: Miris! Bupati Akui Pasien Covid di RS Masih Dipungut Biaya Penguburan

MARCEL PAMPUR, Denpasar

 

EMPAT dari enam anak pasangan suami istri I Nyoman Darma dan Nyoman Sarmini memang mengalami kelainan otot saraf. Akibatnya, anak-anak dari pasutri ini lumpuh. Sedangkan dua anaknya yang lain hidup dengan kondisi fisik yang normal.

Sebagai tukang sapu di Kantor Gubermur Bali, penghasilan Darma pas-pasan. Bisa dibilang tak cukup untuk menafkahi keluarga, apalagi dalam kondisi empat anaknya yang lumpuh begitu.

Sedangkan sang istrinya, Nyoman Sarmini hanya bekerja sebagai tukang suwun di pasar.

Di masa pandemi covid-19 ini, kondisi ekonomi keluarga mereka pun kian memprihatinkan. Kini mereka menempati dua kamar kos di Jalan Nangka Utara, Gang Nangka 2, Banjar Tangun Titi, Denpasar. 

Ditemui di tempat tinggal mereka pada Kamis (2/9/2021), I Nyoman Darma menerangkan empat orang anaknya yang mengalami disabilitas itu sudah terlihat gejalanya sejak mereka usia tiga bulan.

"Makin besar, makin terlihat begini," katanya.

Yang mengalami kelumpuhan pada kaki adalah anak pertama, I Wayan Sudarma, 25, Kadek Sudarsana, 19, anak keemapt Ketut Suartama, 17 dan anak kelima, I Luh Nanda, 10.

Sedangkan anak ketiga bernama Nyoman Marianti, 19, tidak mengalaminya dan kini sudah menikah dan tinggal di rumah sang suami. Lalu anak terakhir bernama Gede Adi Gunawan, 7 terlahir normal.

I Nyoman Darma menceritakan, bahwa dirinya dan istri sudah melakukan berbagai upaya medis dan non medis. Namun hingga kini tak pernah menunjukan adanya perubahan.

"Sudah pernah dibawa ke dokter. Diterapi di Sanglah. Hasil medis katanya saraf. Semuanya kena saraf. Kata dokter itu tidak ada obatnya. Sekarang tak bisa berbuat apa. Keadaan seperti ini tak bisa diapakan lagi," katanya.

Dia dan istri juga tak bisa berbuat banyak. Biaya pengobatan cukup mahal. Tak sebanding dengan penghasilan mereka.

I Nyoman Darma menceritakan, saat ini keluargannya hanya mengharapkan bantuan masyarakat. Ditanya bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali, dia menggeleng.

Menurutnya dia telah bekerja sebagai tukang sapu di kantor Gubernur Balj sejak zaman Mangku Pastika. Saat itu keluarganya diperhatikan. Mereka bahkan diberikan tempat tinggal di tanah milik Pemprov di kawasan Renon Denpasar. Namun belakangan lahan itu bermasalah sehingga mereka tersingkir. 

"Di Pemprov kerjanya kontrak. Sejak masa Gubernur Mangku Pastika. Gajinya sebulan 2,7 dan masih ada potongan BPJS, (iuran) suka duka. Bersihnya sekitar 2,5 (juta),” jelas Darma.

Dia menjelaskan bahwa Dinas Sosial sudah tahu kondisi yang dialami keluarganya. Dia pun berharap masih ada perhatian dari Pemerintah Provinsi Bali terkait keluarganya ini.

Ditanya apakah Gubernur Bali Wayan Koster pernah memperhatikannya, dia menggeleng.

“Zaman Pak Mangku saja saya diperhatikan," tandasnya 

Sementara itu, salah satu warga bernama Jero Mangku Elvys yang selama ini berperan sebagai relawan yang banyak membantu keluarga ini juga berharap agar Pemerintah Provinsi Bali bisa memperhatikan.

Apalagi di tengah pandemi sekarang, kondisi ekonomi keluarga tersebut makin memprihatinkan.

"Kondisi pandemi ini semakin memprihatinkan. Mereka paling butuh yang namanya sembako dan sarana kesehatan saat pandemi," ujarnya.

Dia pun berharap agar masyarakat juga bisa membantu sebisanya. 

"Kami berharap masyakarat juga ikut bantu. Jika membawa bantuan ke sini jangan lupa terapkan protokol kesehatan. Mematuhi 3M. Menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan," tandasnya.

(rb/mar/yor/JPR)

 TOP