alexametrics
Rabu, 22 Sep 2021
radarbali
Home > Politika
icon featured
Politika

Puri Ageng Mengwi dan Mangu Kertha Mandala Gelar Tawur Tulak Tunggul

Doakan Umat Manusia dari Pura Taman Ayun

07 September 2021, 00: 45: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

anggota dpd ri aa gde agung, senator bali aa gde agung, penglingsir puri ageng mengwi, Tawur Tulak Tunggul.

RITUAL SUCI: Penglingsir Puri Ageng Mengwi, Anak Agung Gde Agung dalam ritual Tawur Tulak Tunggul di Madyaning Mandala Pura Taman Ayun, Senin (6/9). (I KADEK SURYA KENCANA/RADAR BALI)

Share this      

BADUNG, Radar Bali - Soma Kliwon, Wuku Landep, Senin (6/9), menjadi momentum bersejarah bagi Puri Ageng Mengwi dan Mangu Kertha Mandala atau Paiketan Bendesa Adat se-Kecamatan Mengwi, Badung.

Dengan semangat ngayah, Penglingsir Puri Ageng Mengwi, Anak Agung Gde Agung bersama 38 Bendesa Adat se-Kecamatan Mengwi menggelar ritual pecaruan Tawur Tulak Tunggul bertempat di Madyaning Mandala Pura Taman Ayun.

Baca juga: Kejutan! Konsumen Honda Dapat Bingkisan di Hari Pelanggan Nasional

Ritual suci ini dipimpin oleh Ida Pedanda Made Pemaron (Pedanda Siwa) dari Griya Gede Sidemen, Pemaron, Munggu, Badung dan Ida Pedanda Gede Ketut Oka Dwipayana (Pedanda Budha) dari Griya Kangin Wanasari Sidemen, Karangasem.

“Tawur Tulak Tunggul ini bersumber dari sejumlah sastra  Ida Sang Sulinggih. Puri Ageng Mengwi bersama Mangu Kertha Mandala mengadakan paruman (rapat, red). Disepakati secara aklamasi upacara suci Tawur Tulak Tunggul dilaksanakan dalam rangka ngrastitiang jagat,” ucap anggota Komite III DPD RI ditemui langsung di lokasi upacara.

Sebelum puncak karya, AA Gde Agung menyebut pada Minggu, 22 Agustus 2021 bertepatan dengan hari suci purnama, 38 Desa Adat se-Kecamatan Mengwi menghaturkan Guru Piduka dan Bendu Piduka di masing-masing Kahyangan Tiga, yakni Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

“Ritual suci ini dilakukan berpegang pada filosofi mulat sarira atau introspeksi diri. Mungkin dalam keseharian kita ada salah yang tidak disadari. Kami bersyukur semuanya berjalan lancar. Semoga pandemi melandai dan terus menurun,” ungkap Bupati Badung 2 periode itu.

Tak hanya dengan 38 Bendesa Adat se-Kecamatan Mengwi, AA Gde Agung menegaskan Tawur Tulak Tunggul yang digelar di wewidangan Kecamatan Mengwi  juga didukung oleh perangkat desa masing-masing.

AA Gde Agung menyebut idealnya cakupannya diperluas ke tingkat kabupaten atau provinsi.

“Sebetulnya lebih baik kalau bisa demikian. Tapi, terserah Beliau yang berwenanglah. Yang pasti, kami di Mengwi sudah berketetapan hati melaksanakan upacara suci ini,” ungkap tokoh kharismatik jebolan Universitas Indonesia kelahiran 25 Mei 1949 itu.

Imbuhnya, tirta (air suci) dari Pura Sad Kahyangan di Kabupaten Badung, yakni Pura Pucak Mangu dan di Pura Uluwatu yang dimantrai dalam Tawur Tulak Tunggul ini menjadi berkah untuk masyarakat.

Rangkaian upacara diakhiri pakelem itik ireng (bebek berbulu hitam,red) di Pantai Seseh. Setelah itu, di batas wilayah Kecamatan Mengwi ditanam tunggul (bendera) sesuai arah mata angin.

Tunggul merah ditanam batas selatan, yakni Seseh; Tunggul hitam ditanam di batas utara, yakni Balangan; Tunggul putih ditanam di batas timur, yakni Penarungan; Tunggul kuning ditanam di batas barat, yakni Bajra; dan di tengah tunggul warna brumbun.

“Tunggul-tunggul yang sudah dirajah oleh Ida Pedanda ini ditanam di batas kecamatan masing-masing. Tujuannya ngrastitiang jagat agar jagat rahajeng, rahayu, lan sukerta. Lewat Tawur Tulak Tunggul disampaikan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar pandemi matilar atau menghilang. Sehingga pandemi melandai dan tidak ada korban jiwa lagi,” ujarnya.

Untuk ngrastitiang jagat, AA Gde Agung menegaskan sejatinya ada tiga unsur yang harus diperhatikan. Pertama, bagaimana nyomiang bhuta kala.

Kedua, bagaimana menyadarkan masyarakat agar mau divaksin dan taat prokes 5 M, yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Ketiga, untuk wilayah atas upacara suci Tawur Tulak Tunggul yang digelar. “Lengkaplah semua upaya kita dalam rangka untuk menghilangkan dampak pandemi Covid-19 untuk keselamatan masyarakat,” ungkap AA Gde Agung.  

Ketua Mangu Kertha Mandala, Made Widiada menegaskan pihaknya tidak bisa lepas dari Puri Ageng Mengwi.

Terangnya, di Bali, khususnya Kabupaten Badung, hanya di Kecamatan Mengwi ada perkumpulan bendesa bernama Mangu Kertha Mandala.

Menariknya, sinergitas yang terjalin tidak hanya berupa ayah-ayahan semata, melainkan juga berupa punia alias urunan.

“Pokok dari karya ini adalah Puri Ageng Mengwi. Kami hanya menambahkan sedikit-sedikit saja dalam proses,” ungkap pria yang juga Bendesa Adat Penarungan itu.

“Tawur Tulak Tunggul ini bertujuan membatasi pengaruh marana Covid-19. Tulak artinya membatasi, tunggul itu bendera. Di masing-masing arah nanti dipasang pataka. Selatan berwarna merah, timur berwarna putih, barat berwarna kuning, utara berwarna hitam, dan di tengah panca warna. Ini berfungsi sebagai penolak penyebarluasan Covid-19. Setelah upacara Rsi Gana dipuput oleh sulinggih Budha dan Siwa, pataka tunggul ini akan ditancapkan segala arah,” ujar Penglingsir Mangu Kertha Mandala sekaligus Bendesa Adat Den Kayu, Nyoman Sukada yang ngayah memutru alias membaca sastra suci. 

(rb/ken/han/yor/JPR)

 TOP