alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
YUK TANYA-TANYA BBPOM DENPASAR

Jaga Pangan Pasar Aman dan Cegah Penularan Covid-19

Oleh: Ni Putu Ekayani

14 September 2021, 07: 45: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

bbpom denpasar, yuk tanya tanya bbpom denpasar, si oma

HIGIENIS: Petunjuk keamanan pangan di pasar tradisional. (BBPOM DENPASAR FOR RADAR BALI)

Share this      

PASAR tradisional adalah jantung perekonomian masyarakat. Agar perekonomian tetap berputar serta pedagang dan masyarakat sehat, Rubrik Si OMA atau Edukasi Obat dan Makanan Aman kali ini akan mengupas soal pangan aman di pasar tradisional.

Penggunaan bahan berbahaya pada pangan tentu harus dihindari agar tidak merugikan masyarakat. Yuk kita simak pertanyaan seputar keamanan pangan, cara ritel yang baik di pasar tradisional dan modern, serta langkah penting terhindar dari penularan Covid-19.

Baca juga: Aktivitas Vulkanik Menurun, Gunung Agung Normal Lagi

Apa sih pangan aman itu? Mengapa penting pangan yang dikonsumsi aman?

Si OMA : Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.

Pangan aman terbebas dari bahaya biologis, kimia, dan fisik atau cemaran benda asing. Bebas bahaya biologi contohnya pangan tidak tengik atau berjamur.

Bebas bahaya kimia artinya tidak mengandung borax, formalin, pewarna tekstil Rhodamin B dan Methanol Yellow. Kalau di Bali disebut kesumba. Bebas bahaya fisik artinya tidak tercemar oleh rambut, kuku, streples, kerikil, dan sejenisnya.

 

CRPB atau cara ritel pangan olahan yang baik sedang ramai dibicarakan untuk menjamin penjualan makanan yang memenuhi standar. Apa CRPB itu?

Si OMA : CRPB adalah acuan ritel pangan dalam rangka pengawasan keamanan pangan di sarana ritel pangan, baik pasar tradisional maupun modern.

Pedoman cara ritel pangan yang baik di pasar tradisional merupakan acuan bagi pengelola pasar dan pelaku usaha pangan di pasar tradisional. Pengelola pasar dapat berupa pihak pemerintah setempat atau organisasi  swadaya masyarakat.

Apa saja kewajiban pedagang pasar tradisional sebelum dan saat proses jual beli?

Si OMA : Yang paling sederhana yaitu wajib mandi sebelum bekerja di pasar. mencuci tangan dengan sabun, kuku rapi dan tidak panjang, tidak makan, minum dan merokok selama bekerja, tidak bersin, batuk dan bercakap-cakap di depan makanan, tidak memakai perhiasan.

Aturan ini sering terlupakan, padahal sangatlah penting memperhatikan hygiene pekerja atau pedagang di pasar tradisional apalagi selama masa pandemi Covid-19.

Apa virus Covid-19 bisa menular melalui makanan?

Si OMA : Makanan tidak akan menjadi penularan virus Covid-19 asalkan pada saat penyiapan pangan atau proses produksi sesuai dengan CPPOB (Cara Pembuatan Pangan Olahan yang Baik).

Pekerja atau personil yang menyiapkan pangan harus taat prokes. Berdasarkan Peraturan BPOM No 5 Tahun 2015, cara distribusi dan ritel yang baik juga sangat penting diperhatikan.

Mulai dari proses penerimaan pangan di pasar, penyimpanan, pengolahan, pemajangan yang tepat dan penyerahan kepada konsumen.

Beredar isu ada makanan kaleng impor mengandung virus Covid-19. Apakah benar?

SI OMA : Itu merupakan modifikasi isu alias hoaks lama terkait kandungan dan virus HIV dalam makanan kaleng impor dengan beberapa penggantian redaksi dikaitkan dengan isu virus corona.

Corona merupakan jenis virus yang tidak mampu bertahan hidup lama jika berada di luar inang (makhluk hidup).

Makanan kaleng yang diproduksi secara komersial merupakan pangan steril komersial yang mendapat perlakuan menggunakan suhu tinggi, sedangkan virus corona tidak dapat bertahan pada suhu di atas 56°C selama 30 menit.

Bagaimana kiat membersihkan peralatan pengolahan pangan siap saji di pasar tradisional?

Si OMA : Ada sejumlah kiat. (1) Hilangkan sisa pangan dan kotoran lain dari permukaan alat; (2) Gosok dengan larutan detergen (untuk peralatan kecil bisa direndam dalam larutan detergen) guna menghilangkan kotoran dan lapisan tipis yang dibentuk oleh bakteri; (3) Bilas dengan air untuk menghilangkan kotoran dan sisa deterjen; (4) Lakukan sanitasi sesuai dengan prosedur sanitasi pada masing-masing peralatan.

Sanitasi peralatan dapat dilakukan dengan pembilasan menggunakan air yang diklorinasi atau dengan air panas. Berbagai bahan kimia dapat digunakan sebagai sanitiser, namun yang paling banyak dan mudah adalah klorin.

Larutan klorin dapat disiapkan dengan cara melarutkan 1 sendok teh (5 ml) larutan klorin (mengandung 5.25% sodium hipoklorit) ke dalam 1 galon air yang akan menghasilkan sekitar 65 ppm klorin. (5) Setelah proses sanitasi, peralatan dikeringkan dengan lap bersih atau ditiriskan pada tempat yang bersih.

Kain lap yang digunakan untuk membersihkan peralatan yang bersentuhan dengan pangan harus dibedakan dengan kain lap untuk membersihkan bahan pangan mentah. Kain lap tersebut sebaiknya dicuci secara rutin dan disimpan di tempat terpisah yang jauh dari cairan pembersih.

(6) Peralatan yang bersih dan kering disimpan pada tempat dan dengan cara tertentu yang dapat mencegah pencemaran. Untuk wadah sebaiknya disimpan dalam keadaan tertelungkup untuk menghindari jatuhnya debu. (penulis adalah PFM Ahli Madya BBPOM di Denpasar) 

(rb/han/ken/yor/JPR)

 TOP