alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Dari Matinya Ribuan Burung Pipit di Gianyar

Penyebab Pasti Masih Misterius, Distan Duga karena Cuaca Ekstrem

14 September 2021, 06: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

fenomena unik, heboh, burung pipit, ribuan burung mati, Dinas Pertanian dan Peternakan gianyar,  BKSDA Bali, BBVET Denpasar, cuaca ektrem,

Ribuan burung Pipit yang jatuh di bawah pohon Asem di Setra Banjar Sema, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kamis (9/9) lalu. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR – Fenomena matinya ribuan burung pipit di area Setra (kuburan) Banjar Sema, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali masih menyisakan misteri.

Pasalnya, meski pihak Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Bali dan tim Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar telah mengambil sampel dan membawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. Namun hingga saat ini, belum ada hasil pasti dari Balai Besar Veteriner (BBVET) Denpasar.

"Belum ada hasilnya (belum selesai). Sempel sudah dibawa ke Balai Besar Veteriner di Denpasar," terang Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar Made Santiarka, Senin (13/9/2021).

Baca juga: Oka Sulaksana Tertantang Taklukan Ombak Papua

Untuk itu, pihaknya belum berani mengambil kesimpulan, sebab secara teknis sampel masih dalam proses uji dan pemeriksaan di laboratorium BBVET Denpasar.

“Kami tidak mau bilang itu keracunan, karena saya belum mendapat jawabannya. Masih menunggu hasil laboratorium. Kalau hanya menebak-nebak kan nanti ada yang tersinggung. Apakah petani itu menggunakan disinfektan mereka nanti bisa tersinggung," ujar Santiarka.

Meski tak mau menebak, namun dari temuan di lapangan, Santiarka mengatakan, bahwa memang saat kejadian cuaca di lokasi matinya burung pipit sedang ekstrem.

Selain hujan lebat dan angin kencang, ukuran burung pipit yang kecil dan berkelompok juga bisa menjadi faktor penyebab.

"Iya burung kecil, waktu itu kondisi cuaca juga ektrem sekali. Hujan juga lebat sekali dan anginnya keras. Dan itu populasinya tidur di dua pohon asem terlalu melebihi kapasitas. Bukan hanya bertengger di kayu saja, tapi juga bertengger di tubuh teman-temannya," ungkapnya.

Selain itu, dari informasi yang diperoleh di lapangan, keberadaan burung pipit di pohon asem setinggi 10 meter di area Setra Banjar Sema juga sudah ada sejak puluhan tahun.

"Pohon lain tidak disinggahi. Kadung sudah di sana dan numplek gitu. Mungkin dia lebih memilih tidur di pohon asem. Mungkin kayu asem yang disinggahi burung mungkin hangat atau bagaimana," pungkasnya. 

(rb/ara/pra/JPR)

 TOP