alexametrics
Senin, 20 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Ketika Bunga Rosella Mendadak Booming

Selain Bibit Gratis, Banyak Tertarik karena Bisa Langsung Dapat Cuan

14 September 2021, 18: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

bunga rosella, booming, tanam bunga rosella, petani di Bali, pandemi, bibit gratis, cari cuan,

Salah satu produk hasil olahan kelopak bunga Rosella menjadi sirup dan selai (Istimewa)

Share this      

MEMILIKI nilai ekonomi tinggi, sejumlah petani di Bali kini mulai menekuni untuk menanam bibit bunga Rosella.

Mereka menanam bibit Rosella dari perusahaan Ruby Rosella Jam yang bermarkas di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.

Selain mendapatkan bibit secara gratis, para petani ini juga dijanjikan kepastian pemasaran dan langsung mendapat cuan saat panen bunga Rosella. Seperti apa? 

Baca juga: Menko Airlangga: Tidak Ada Provinsi Level 4 di Minggu Ini

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

ROSELLA saat ini mulai banyak ditanam oleh petani.

Kelopak bunga tersebut bisa menghasilkan sirup dan selai. Untuk cara kerja penanaman rosella ini dijelaskan oleh Sales Marketing Ruby Rosella Jam, I Ketut Suarnata. 

Suarnata mengatakan, pemberian bibit kepada petani mulai dilakukan sejak Februari 2021.

Sengaja diberikan saat situasi pandemi. Tujuannya untuk memberdayakan petani lokal Bali yang mau mengembangkan potensi pertanian.

"Kami memang ingin membangkitkan perekonomian petani saat pandemi," ujarnya, kemarin (13/9).

Saat mengawali mengajak petani beralih ke Rosella cukup berat.

"Saat kami ajak berdiskusi, kebanyakan petani khawatir dengan pemasaran. Maka kami berikan jaminan. Hasil panennya kami yang beli," jelas mantan pekerja kapal pesiar itu. 

Untuk bibit Rosella, didatangkan khusus dari Thailand.

Jumlahnya pun terbatas. Hanya sebanyak kemasan kotak rokok kecil. Beberapa petani yang mendapatkan bibit, tersebar di Desa Sukawati, Desa Celuk, Desa Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Desa Tegallalang, dan salah satu Desa di Tabanan.

"Kami juga edukasi bagaimana cara menanam, merawat hingga panen," jelas pria asli Klungkung ini. 

Para petani binaan, mengawali bertanam Rosella dengan luas lahan sekitar 1 sampai 2 are.

Setelah berusia 3 (tiga) bulan, kelopak dan bunga Rosella pun siap dipanen.

"Yang membuat petani bersemangat, Rosella ini bisa dipanen setiap saat," ungkapnya.

Petani pun rutin memasok kelopak dan bunga rosella basah maupun kering ke Ruby Rosella Jam setiap dua minggu sekali.

"Jadi setelah 3 bulan masa tanam, panennya bisa dilakukan setiap minggu. Petani sudah menikmati hasil. Kami beli, hasilnya lumayan melebihi yang ditanam sebelumnya," ungkapnya.

Melihat potensi tersebut, kata Suarnata para petani binaan ini tambah semangat untuk memperluas area tanam.

Bahkan, petani di sekitar ikut tertarik menanam Rosella.

"Memang banyak yang kemudian tertarik, ingin minta bibit. Tapi kami ingin fokus dulu dengan petani binaan. Harapannya, petani lain bisa belajar dari petani binaan kami," jelasnya.

Pria plontos yang akrab disapa Ketut Thole itu menambahkan, kelopak merah dan bunga Rosella, diolah menjadi beragam produk organik. Tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan.

Bahkan, diklaim tinggi kandungan vitamin C.

Dua diantaranya sirup dan selai yang sudah mendapatkan izin edar atas rekomendasi badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) RI. 

Mengingat situasi pandemi Covid, bahan baku maupun produk yang sejatinya diminati pangsa pasar internasional ini belum bisa diekspor.

Sementara pemasarannya di wilayah Bali. "Ada di satu supermarket dan beberapa minimarket.

Kami lebih cenderung door to door. Bisa juga menghubungi kami di 081916782878 atau di email ketutsuarnata0@gmail.com ," jelasnya. 

Untuk peminat sirup dan selai Rosella ini dari kalangan ekspatriat dan warga lokal Bali. Salah satu petani binaan Ruby Rosella Jam adalah Made Duarsa.

Awalnya Made Duarsa bertani cabe kemudian mencoba peruntungan dengan menanam bunga Rosella di lahan seluas 1 are di kawasan Banjar Gelumpang, Desa/Kecamatan Sukawati.

(rb/dra/pra/JPR)

 TOP