alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi
Dari Rencana Integrasi BUMN Pelabuhan (1)

Siapkan Konsep Matang, Implementasikan Perencanaan Berbasis Aplikasi

14 September 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Pelabuhan indonesia, Pelindo Bali-Nusra, integrasi pelabuhan, konektivitas pelabuhan, indonesia port, era disrupsi,  indonesia tumbuh, program strateg

Aktivitas di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali (Istimewa)

Share this      

PT PELINDO III (Persero) tengah menyiapkan konsep peleburan BUMN pelabuhan (PT Pelindo I hingga Pelindo IV) secara matang.

Di tengah menyiapkan konsep, ada banyak tantangan baru untuk mewujudkan sinergitas integrasi Pelabuhan Indonesia khususnya dalam upaya meningkatkan pelayanan pelabuhan dari timur ke barat.

Lalu apa saja persiapan dan tantangan Pelindo III (Persero) Regional Bali-Nusra untuk peningkatan pelayanan pelabuhan, dan bagaimana juga mereka menghadapi tantangan di tengah arus perkembangan teknologi yang pesat dan masih berlangsungnya pandemi Covid-19?

Baca juga: Menko Airlangga: Aplikasi KEK Beri Kemudahan Badan dan Pelaku Usaha

DIDIK DWI PRAPTONO, Denpasar

SEBAGAI penyedia fasilitas jasa kepelabuhan, Chief Executif Officer (CEO) PT Pelindo III Regional Bali-Nusra I Wayan Eka Saputra tak menampik jika untuk menjamin kelangsungan, kelancaran angkutan laut, serta tersedianya prasarana transportasi laut yang memadai, Pelindo III saat ini tengah dihadapkan pada era disrupsi.

Era disrupsi, itu lanjut Eka Saputra yakni bukan hanya soal tantangan perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Namun, dengan masih berlangsungnya pandemi Coronavirus disease 2019 (Covid-19) juga diakui menjadi tantangan baru bagi PT Pelindo III (Persero) Regional Bali-Nusra untuk meningkatkan pelayanan pelabuhan.

Apalagi kata Eka Saputra, sebagai bagian dari Pelindo III, PT Pelindo III Regional Bali-Nusra mengelola sebanyak 11 pelabuhan yang tersebar di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal itu imbuh Wayan Eka Saputra, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 47 Tahun 2004.

Lebih lanjut, Wayan Eka Saputra juga menegaskan, meski dihadapkan pada tantangan baru,  PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Region Bali-Nusra sangat berkomitmen mendukung program pemerintah terkait dengan perbaikan Logistic Performance Index (LPI).

Adapun langkah atau upaya mendukung pemerintah untuk perbaikan LPI, itu yakni melalui penyediaan fasilitas (infrastruktur dan suprastruktur) guna memberikan layanan kepelabuhanan yang efektif.

Selain itu, PT Pelindo III Regional Bali-Nusra juga telah melakukan banyak perbaikan dan penambahan alat kerja pelabuhan di wilayah Indonesia bagian timur terutama di wilayah Bali, NTB dan NTT.

“Tujuannya tentu untuk menunjang percepatan pembangunan dan konektivitas pelabuhan di wilayah tersebut (Bali, NTB, dan NTT),”terang Wayan Eka Saputra yang didampingi Humas PT Pelindo III Regional Bali-Nusra Siti Juariah kepada radarbali.id beberapa waktu lalu.

Eka Saputra menambahkan, untuk merealisasikan konektivitas antara arus barang dengan cruise di pelabuhan Bali, NTB dan NTT, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) utamanya Pelabuhan Benoa, Bali telah menerapkan manajemen mutu ISO 9001.

Selain itu, Pelindo III juga menyiapkan implementasi perencanaan kapal dan barang berbasis aplikasi, serta penyediaan SDM (sumber daya manusia) dengan kompetensi handal.

Guna merealisasikan konetivitas antar pelabuhan di lingkungan Regional Bali-Nussra, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dikatakan Eka Saputra juga secara berkala terus melakukan koordinasi dengan stakeholder (agent cruise, main line operator, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, asosiasi, dan lain-lain) untuk merencanakan dan mengintegrasikan antar pelabuhan.

Termasuk untuk mewujudkan target kunjungan kapal pesiar, melalui program strategis Bali Maritime Tourism Hub (BMTH), Eka Saputra menyatakan, PT Pelindo III (Persero) terus konsisten dan berkomitmen memajukan pariwisata Indonesia melalui pengembangan Pelabuhan Benoa menjadi Turn-Around Port for Cruise.

“Sehingga kedepannya destinasi wisata di Indonesia tidak hanya menjadi transit point semata, tetapi juga menjadi tujuan utama dengan proses embarkasi dari Pelabuhan Benoa,”terang Eka Saputra.

Adapun untuk saat ini, program strategis BMTH yang ditargetkan rampung 2023 mendatang itu telah terealisasi lebih dari 10 persen.

Melalui implementasi BMTH, pihaknya berharap program strategis ini diharapkan dapat menjadi pusat keberangkatan cruise ship ke destinasi wisata di Indonesia.

Sehingga durasi kapal sandar, jumlah penumpang, dan durasi penumpang tinggal di Bali akan meningkat signifikan.

“Kedepannya setelah BMTH rampung kami harapkan semoga cruise-cruise dengan panjang di atas 200 meter dan dengan penumpang di atas 1.000 orang bisa sandar lebih dari sehari di Pelabuhan Benoa.

Sehingga program ini benar-benar memberikan dampak multiplier effect bagi masyarakat di Bali,”harap Eka Saputra.

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP