alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Jabat Kades, Jual Tanah Warga 5 Hektare, Kini Jadi Tersangka

14 September 2021, 20: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

tersangka mantan kades, jual tanah warga, luas 5 hektare, ditangkap polda bali, polda bali, bpn bali,

I Ketut Tamtam dengan tangan terikat saat diamankan di Mapolda Bali. (Marcell Pampurs/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR-Polda Bali menangkap mantan Kepala Desa (kades) Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung. Pria bernama lengkap I Ketut Tamtam, 53, itu ditetapkan jadi tersangka karena menjual tanah milik orang lain sebanyak 5 hektare. Dia diduga telah melakukan tindak pidana pemalsuan surat, penipuan dan penggelapan.

Direktur Reskrimum Polda Bali, Kombes Pol Ary Satriyan saat saat gelar jumpa pers di Mapolda Bali, Senin (14/9) mengatakan aksi itu dilakukan pelaku saat masih menjabat sebagai kepala desa. "Karena saat itu dia masih menjabat kepala desa, dengan mudah dia melakukan pemalsuan surat. Kini kasusnya sudah P21 dan segera tahap II," kata Kombes Satriyan kepada awak media.

Kombes Satriyan menjelaskan, aksi tersangka dilakukan sejak tahun 2012. Awalnya, pria yang menjabat sebagai kepala desa selama dua periode itu dimintai bantuan oleh warganya untuk balik nama surat tanah seluas kurang lebih 5 hektare atas nama I Nyoman Tangkas dan Gusti Ketut Indra. Semua surat dan kelengkapan persyaratan diberikan kepada tersangka.

Baca juga: Dari 40 Peserta hanya Satu yang Lulus Uji Kompetensi

Bukannya membantu, tersangka malah membalik nama tanah yang terdiri dari empat sertifikat itu atas namanya sendiri. Saat itu, kejahatannya itu lolos saat diurus di BPN Klungkung. Setelahnya, di tahun 2016, tersangka lalu mencari pembeli tanah tersebut.

Singkat cerita tahun 2018 tanah itu berhasil dijual kepada Ni Made Murniati dan dibuatkan perjanjian jual beli dihadapan notaris. Tanah seluas 5 hektare itu disepakati seharga Rp 832 juta. Kemudian dibuatkan PPJB antara tersangka dan Murniati. Tanah Itupun oleh Murniati dipasang plang.

Melihat plang yamg terpasang pada tanah tersebut, Nyoman Tangkas dan Gusti Ketut Indra selaku pemilik aslinya pun kaget. Keduanya lalu mengajukan menggugat Ketut Tamtam dan Murniati di PN Semarapura. Diputuskan Ketut Tamtam dan Murniati kalah. Ketut Tamtam lalu mengajukan banding. Putusannya menguatkan putusan PN Semarapura. Tersangka Ketut Tamtam tak mau menyerah. Dia mengajukan kasasi dan hasilnya tetap kalah juga.

"Karena kalah Muniarti melaporkan Ketut Tamtam ke Polda Bali. Laporan polisi dengan nomor LP/135/III/2021/SPKT tanggal 16 Maret 2021 dugaan tindak pidana pemalsuan surat, penipuan, dan penggelapan. Dalam menangani kasus ini kami kerja sama dengan Kanwil BPN Bali," beber Kombes Ary.

Sejumlah barang bukti juga disita dari kasus tersebut. Mulai dari empat dokumen fotocopy legalisir minuta akta PPJB, foto copy empat SHM atas nama Ni Made Murniati, foto copy warkah penerbitan sertipikat yang dilegalisir dan foto copy gugatan perdata pada PN, PT, dan Kasasi.

Tersangka akhirnya dijerat Pasal 266 atau Pasal 378, atau Pasal 372 KHUP tentang Penggelapan dengan ancaman pidana penjara di atas 5 tahun.

Sementara itu, Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Bali, Rudi Rubijaya yang juga hadir dalam konferensi pers itu menyatakan, penentuan target dalam mafia tanah minimal ada dua aspek. Pertama, mengandung aspek pidana. Kedua, aspek hukum administrasi pertanahan. Sehingga dalam satu tahun, pihaknya menargetkan mengungkap setidaknya tiga kasus mafia tanah.

"Aspek pidana menjadi tugas dari penyidik. Sementara aspek hukum pertanahan ada pada kami di BPN. Pengungkapan kasus ini mudah-mudahan memberi efek jera bagi para mafia tanah lainnya," tegasnya.

(rb/mar/don/yor/JPR)

 TOP