alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Events
icon featured
Events

Sambut WCD 2021, Ini Gebrakan LDII Untuk Lestarikan Bumi

20 September 2021, 05: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

World Cleanup Day, LDII,  kampanye pilah sampah, WDCI, lingkungan,

Pembukaan acara gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 bersama warga LDII, Minggu (19/9) kemarin (Ist)

Share this      

LEMBAGA Dakwah Islam Indonesia (LDII) membuat gebrakan dalam rangka menyambut World Cleanup Day (WCD) 2021.

Gebrakan itu adalah kampanye pilah sampah dari rumah. 

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso saat membuka acara  gerakan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) 2021 bersama warga LDII, menyebut gerakan WCD Indonesia 2021 menyampaikan keprihatinannya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Menurun, Ruang Isolasi Mulai Dialihkan

Mengutip data National Plastic Action Partnership, ia menyebut, volume plastik sampah di indonesia pada tahun 2020 sudah mencapai 6,8 juta ton dan tumbuh sebesar lima persen setiap tahun.

"Penyelesaian sampah harus dari hulu yakni rumah tangga. WCD 2021 jadi momentum LDII untuk mengedukasi warganya, memilah sampah untuk mengatasi persoalan lingkungan global," tegas Chriswanto, Minggu (19/9) kemarin.

"Persoalan sampah itu seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, karena sampah itu berawal dari kita masyarakat, dan kita yang berada di ujung itu harus melakukan pemilahan secara bijak," imbuhnya.

Ia juga menyitir data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang pada 2019 mencatat timbunan sampah mencapai 67,8 juta ton per tahun yang terdiri dari sampah organik 57 persen, sampah plastik sebesar 15 persen dan kertas 11 persen sedangkan lainnya sekitar 17 persen.

"Tentu kita ingin menjaga lingkungan ini jauh lebih baik, maka kami mengajak lagi dalam rangka hari bersih-bersih sampah dunia untuk mulai memilah sampah dengan benar, bukan hanya membersihkan dunia, insyaallah ini bisa juga menjadi penopang ekonomi warga." imbuhnya.

Menurutnya, untuk peduli terhadap lingkungan, DPP LDII telah membentuk Kader Gemilang.

Mereka adalah pemuda yang peduli lingkungan hidup, “Kami juga mendorong pondok-pondok pesantren melestarikan lingkungan dengan mengolah dan memilah sampah,” ujarnya.

Menurutnya sampah yang tak dikelola dengan baik, bisa merusak lingkungan. 

Sementara itu, Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam dan Lingkungan (LISDAL) Sudarsono mengatakan manusia akan selalu menghasilkan sampah. 

"Sayangnya, masih banyak manusia yang mempunyai anggapan bahwa asalkan sampah yang dihasilkan sudah tidak ada di rumahnya, maka otomatis masalah sampah telah hilang,” ujar Sudarsono yang juga guru besar  di Institut Pertanian Bogor. 

Padahal kenyataannya, sampah tersebut tidak hilang dan ujung-ujungnya akan berakhir di suatu tempat.

“Bayangkan kalau satu keluarga rata-rata menghasilkan sampah organik setengah kilogram dan sampah anorganik satu ons per hari.

Satu kampung yang terdiri atas 1.000 anggota keluarga akan menghasilkan setengah ton sampah organik dan satu kwintal sampah anorganik per hari,” paparnya. 

Bila dikalikan 365 hari dalam setahun dan bayangkan berapa timbulan sampah yang dihasilkan?

“Oleh karenanya, sampah sampai saat ini masih selalu menjadi masalah, terutama di perkotaan,” pungkasnya. 

DPP LDII, menurutnya melihat rumah tangga memiliki peran strategis dalam penanganan sampah di hulu.

Katanya, bila setiap keluarga mampu menangani sampah organiknya sendiri di rumah masing-masing dan tidak harus berakhir di TPA, maka sebagian besar masalah sampah sudah teratasi. 

“Sisanya, sampah anorganik yang ada bisa dipilah mana yang dapat di-upcycle (didonasikan kepada pengguna yang lain), di-recycle (diolah kembali) dan sisa yang tidak termanfaatkan baru ditangani khusus. Insya Allah masalah sampah dapat teratasi,” urainya.

Sementara itu, ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI), Hayu S. Prabowo mengapresiasi DPP LDII, sebagai ormas Islam yang peduli dengan persoalan lingkungan hidup.

Tidak hanya perhatian, menurutnya LDII selalu berkomitmen serta memiliki agenda pelaksanaan yang konsisten, dimana masih sedikit organisasi keagamaan yang pimpinan tertingginya memiliki perhatian penuh terhadap lingkungan hidup. 

“Karena yang diurus oleh pegiat lingkungan hidup umumnya yang kotor-kotor, bau-bau. Selain itu kita perlu menyiapkan tenaga dan biaya. Seperti halnya kita membersihkan lingkungan kita sendiri, jadi tidak ada yang bayar. Itu umumnya yang terjadi di organisasi kita apabila kita masuk dalam kegiatan atau program lingkungan hidup,” kata Hayu Prabowo.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2020, 54 persen dari total sampah plastik masih terbuang di lingkungan, termasuk terbuang di air. Ketua LPLH SDA MUI menyayangkan perilaku warga yang membuang sampah di tempat-tempat yang terdapat air seperti, selokan, sungai, maupun laut.

Ia menegaskan membuang sampah di air adalah dosa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. (rba)

“Padahal ada hadist Rasulullah SAW yang menyatakan: ‘Takutlah pada tiga tempat yang dilaknat. Membuang kotoran pada sumber air yang mengalir, di jalan dan di tempat berteduh. Kita lihat bagaimana sampah-sampah kita di sungai. Itu adalah dosa yang nanti bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

(rb/san/pra/JPR)

 TOP