alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Dari Pelestarian dan Koleksi Karya Seni

Gandeng ISI, Jadi Lokasi Kuliah Nyata

26 September 2021, 02: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

pariwisata bali, bangkit lagi, dispar bali, pemprov bali, pemerintah pusat,

Pangeran Kerajaan Georgia Juan De Bacration Mukhrani bersama sang putri Christine mengunjungi museum Arma, Ubud Gianyar. (dok.radarbali)

Share this      

Setidaknya ada 32 museum di Bali. Dari jumlah itu 90 persen lebih di antaranya adalah museum swata. Fokus pada pelestarian dan koleksi hasil karya seniman Pulau Dewata.

DIAKUI atau tidak? Keberadaan museum swasta di Bali memberi andil besar bagi pelestarian seni dan budaya. Pun menjadi salah satu daya magnet bagi wisatawan berkunjung ke Pulau Seribu Pura.

Demikian, sampai saat ini tak banyak bantuan pemerintah untuk membantu museum swasta bertahan.

Baca juga: Bupati: Tenganan Tak Boleh Tergerus Budaya Lain

Apalagi saat masa pandemi saat ini. Pengelola museum swasta tetap berusaha bertahan, meski terseok-seok.

"Kunjungan memang anjlok," kata Asisten Direktur Museum Arma Ketut Kariasa mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Bali.

Selama pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak 2020, Museum Arma di Kecamatan Ubud, tetap membuka pintu bagi turis domestik maupun mancanegara yang masih berada di Bali.

Kunjungan anjlok di banding sebelum covid. Upaya buka museum dilakukan untuk menjaga koleksi lukisan dari kelembaban ruangan dan rayap.

Museum dibuka tidak penuh. Namun tetap mengacu pada protokol kesehatan (prokes). "Sehari dua atau tiga orang. Kadang nggak ada. Namun kegiatan selalu kami adakan," ujarnya.

Kariasa pun memperlihatkan aksi melukis oleh dua seniman tua yang rutin digelar di masa pandemi. "Seperti kegiatan melukis di sini. Memang tiap hari berkarya di sini. Tetap diadakan. Di samping relaksasi, mereka (seniman) biar tidak jenuh," jelasnya.

Meski pandemi sepi kunjungan, tapi dalam setahun terakhir, tetap bisa mengadakan pameran. Di antaranya, pameran Mega Rupa 2020. Dilanjutkan pada 2021, menggelar pameran Hulu Pulu dan Kanda Rupa. "Sampai sekarang (selama pandemi) kami jalin kerjasama dengan ISI Denpasar, terkait pendirian Prodi baru di ISI (Institut Seni Indonesia)," ungkapnya.

Lanjut dia, museum Arma kini menjadi tempat perkuliahan bagi mahasiswa. "Kami berikan kuliah secara nyata dan implementasi. Misalnya tata kelola museum. Dengan sentuhan berbeda. Selain koleksi, kami sediakan halaman luas dengan koleksi tanaman dan kegiatan seniman. Kami sediakan workshop. Jadi bisa observasi langsung. Dapatkan teori dan pelaksanaan," jelasnya.

Ada beberapa kegiatan yang diambil oleh mahasiswa. Yakni tata kelola museum, tata kelola pameran secara online. "Apalagi mulai memasuki digital dengan revolusi 4.0. Harus bergerak maju, cenderung ke online. Maka tata kelola online disini. Biasa kami disini pameran offline, sekarang bagaimana caranya online," jelasnya.

Arma dulu sudah biasa menggelar performance reguler. Seperti Bali Spirit. "Kami jadi tempat pembelajaran itu. Ada panggung terbuka maupun indoor. Ada juga musik online. Nanti bagaimana mengemas, kegiatan bersifat online bisa dinikmati," ungkapnya.

Dengan gaya pameran baru melalui online, diakui akan ada feeling yang agak beda. "Bagaimana mengemas, agar audience di pameran online seperti nyata. Harus sekarang bergerak maju," jelasnya.

Selain itu, kegiatan yang akan berlangsung pertengahan Oktober adalah pameran Mega Rupa yang diadakan Provinsi Bali. "Untuk kegiatan lainnya tidak saklek. Kalau ada proposal masuk untuk kerja sama, kami tidak menutup diri," ujarnya.

Dengan sejumlah kegiatan di masa pandemi, Kariasa mengaku situasi museum yang dikelola berbeda dengan lain. "Yang lain seperti tutup, kalau disini masih tetap ada aktivitas," jelasnya.

Yang membedakan selama pandemi adalah dari segi keuangan yang membebani. "Biaya operasional, listrik dan tenaga kerja. Itu jadi beban tersendiri. Apalagi pemasukan jauh. Lebih banyak pengeluaran daripada masuk," ujarnya.

Dulu sebelum pandemi, kunjungan sehari rata-rata 50 orang. "Dari penjualan tiket Rp 100 ribu per orang, lumayan, biaya operasional tertutupi. Masih ada lebih, untuk pembiayaan lainnya," jelasnya.

Bahkan, sebelum pandemi, setahun bisa ada beberapa kali kegiatan reguler. "Bagi seniman yang ingin mendapat apresiasi, kami adakan museum. Sekaligus dijual. Dari sana kami peroleh prosentase keuntungan. Makanya dari sana dapat, tiket, pertunjukan, workshop, menari, megambel. Banyak," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, dulu dalam setahun, dari workshop saja bisa memperoleh ratusan juta pemasukan. "Kalau dari tiket di atas Rp 1 miliar setahun. Yang lainnya, disini ada hotel, dari hotel mengcover. Sekarang hotel tidak ada tamu," tandasnya.

Kondisi sulit juga diungkapkan Gusti Ayu Putu Eni Puspawati selaku Manajer Operasional Museum Pasifika. Pandemi Covid-19 kunjungan ke museum menurun drastis. Memang sebelum pandemi kunjungan ke museum di wilayah Badung ini juga tidak begitu juga banyak. Biasanya rata-rata 30 orang per hari nya. Namun di masa pandemi Covid-19 ini kunjungan sangat sepi sekali.

“Untuk kunjungan tamu sangat sepi sekali. Paling ada satu atau dua orang saja,” beber perempuan asal Jembrana ini.

Tidak hanya pengaruh kunjungan, karyawan juga terkena dampaknya. Staf museum yang sebelumnya berjumlah 13 orang, kini dipangkas hanya dipekerjakan 9 orang. Selain itu, mengenai biaya operasional, ia mengakui semua kebutuhan operasional ditanggung langsung owner museum tersebut. Mulai dari biaya listrik, operasional karyawan dan lainnya.

 “Kami juga ada pengurangan  jam kerja, karena tidak ada tamu. Jadi kita manfaatkan waktu untuk bersih-bersih, renovasi,” sebut dia.

(rb/gup/don/dwi/dra/yor/JPR)

 TOP