alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Mengenal Banjar Mahindra Bali

Satu-satunya Banjar di Australia, Krama Aktif Megambel dan Tari

Juga Miliki Pemangku dan Padmasana Sendiri

26 September 2021, 06: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Banjar Mahindra Bali, krama bali, Australia, Melbourne,

AKTIVITAS: Warga Bali yang tergabung dalam Banjar Mahindra Bali saat megambel (Istimewa)

Share this      

JUMLAH krama Bali yang menetap di Benua Australia terbilang cukup banyak. 

Bahkan ada yang menikah dengan penduduk di sana selanjutnya beranak-pinak.

Meski demikian, hanya ada satu Banjar di sana. Yakni Banjar Mahindra Bali. Seperti apa?


CANDRA GUPTA, Denpasar


JAUH dari tanah kelahiran, bukan berarti krama Bali di Negeri Kangguru melupakan tanah leluhur. 

Dari awalnya saling bertemu dan sambung rasa, akhirnya mereka tercetus gagasan untuk pendirian sebuah banjar seperti layaknya banjar ala di Bali. 

Baca juga: Gandeng ISI, Jadi Lokasi Kuliah Nyata

Aktivitas krama Bali di Australia saat berlatih tari

Aktivitas krama Bali di Australia saat berlatih tari (Istimewa)

Banjar itu bernama Banjar Mahindra Bali di Melbourne.

"Mahindra Bali berdiri kurang lebih sudah 30 tahunan. Tiang (saya) mulai netap di Melbourne tahun 1996 dan banjarnya sudah ada," papar Made Rudy, Ketua Banjar Mahindra Bali. 

Setidaknya ada 150 krama Bali yang aktif dalam kegiatan di banjar. 

Banjar tak hanya sebagai wadah suka duka, tapi juga pelestarian seni dan budaya Bali. 

Biasanya, anggota banjar berlatih menari dan megambel di KJRI Melbourne. Namun karena masih pandemi Covid-19, untuk sementara kegiatan di hentikan. 

"Sebelum pandemi kami aktif latihan dan ikut parade dalam acara di Melbourne bersama KJRI. Begitu juga saat Hari Raya Galungan dan Kuningan," sebut dia.

 "Kalau di Melbourne krama Bali kerjanya mixed. Beragam profesi dari guru, di farm, dan tiang (saya) self employed tukang cat," imbuh dia.

Sedangkan soal ritual keagamaan, pelaksanaan tentu lebih sederhana di bandingkan di Bali. 

Namun, tetap berpegang pada esensi dari Yadnya yang dilaksanakan. 

Bahkan, untuk muput karya saat ini sudah ada pemangku yang mengayomi krama di sana.

Adalah Ida Bagus Mudita, nama tokoh agama tersebut. "Untuk persembahyangan kami sudah ada Padmasana

Sedangkan untuk kedukaan, umumnya di kremasi di sini. Abunya baru di bawa ke Bali," ujarnya. 

Tambah pria asal Marga, Geluntung, Tabanan, itu. Di Australia, umumnya warga asal Bali diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. (*)

(rb/gup/pra/JPR)

 TOP