alexametrics
Sabtu, 16 Oct 2021
radarbali
Home > Radar Jembrana
icon featured
Radar Jembrana

Potensi Rugi Tinggi, Petani Ogah Ikut Asuransi Pertanian

26 September 2021, 18: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

pertanian, petani merugi, asuransi pertanian, pemkab jembrana,

Sawah yang dipenuhi material banjir di Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo. (M. Basir/Radar Bali)

Share this      

NEGARA– Petani terancam merugi karena perubahan iklim. Karena bisa menyebabkan kekeringan, terdampak banjir, hingga hama dan penyakit tanaman. Pada  saat musim kemarau, puluhan hektare lahan pertanian di Jembrana gagal panen karena kekeringan. Sebaliknya, pada saat musim kemarau, banjir mengancam lahan pertanian yang bisa membuat petani rugi.

Seperti banjir yang terjadi Senin (20/9) lalu, menyebabkan lahan sawah terdampak banjir. Puluhan hektare sawah terendam banjir. Namun tidak menimbulkan kerusakan parah. Hanya sebagian kecil sawah yang baru menanam tidak bisa dipulihkan karena terendam material yang dibawa banjir.

Salah satunya sawah yang berada di Jalan Denpasar - Gilimanuk, wilayah Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo.

Baca juga: Anggaran Defisit, Muncul Wacana Pemprov Bali Utang Rp500 M ke Bank BPD

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan, pada saat banjir terjadi beberapa waktu lalu memang ada lahan pertanian sekitar 25 hektare terdampak.  "Memang ada yang terdampak banjir, tetapi tidak terlalu parah. Sudah bisa dipulihkan lagi," ujar Sutama, Minggu (26/9).

Apabila ada lahan pertanian yang rusak hingga gagal panen, sebenarnya bisa mendapat asuransi pertanian. Namun, hingga saat ini petani tidak mengikuti program asuransi pertanian. Padahal, bagi petani yang mengikuti asuransi mengalami gagal panen, bisa mendapat asuransi sesuai dengan nilai kerugian. "Sayangnya, banyak petani yang tidak mengikuti program asuransi pertanian ini," ujarnya.

Menurutnya, dari luas lahan pertanian yang ada sekitar 6.725 hektare, kurang dari 5 persen yang mengikuti asuransi pertanian. Program dari kementerian pertanian tersebut, petani hanya diminta untuk membayar premi sebesar Rp 36 ribu per hektare untuk sekali musim tanam. "Apabila syarat-syarat terpenuhi, salah satunya karena terdampak bencana petani yang mengikuti asuransi bisa mendapat ganti rugi sesuai kerugian akibat bencana yang terjadi," terangnya.

Diselenggarakannya asuransi pertanian tujuannya adalah memberikan perlindungan kepada petani jika terjadi gagal panen sebagai akibat resiko banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tumbuhan.

Dengan kondisi pertanian di Jembrana yang rawan mengalami kegagalan panen yang disebabkan perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit, program ini sebenarnya untuk memberikan solusi pada petani agar tidak merugi.

Pihaknya sudah sering melakukan sosialisasi kepada para petani, tetapi jarang ada yang mengikuti. "Mungkin petani merasa lahan pertaniannya jauh dari bencana, padahal belum tentu juga. Sehingga sering kami imbau untuk mengikuti asuransi pertanian ini," tandasnya.

(rb/bas/don/yor/JPR)

 TOP