alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Mesin “Roasting” Tua di Pabrik Kopi

Masih Gunakan Kayu Bakar, Regenerasi Karyawan Jadi Tantangan

03 Oktober 2021, 05: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

penikmat kopi, kopi banyuatis, Mesin roasting tua, kayu bakar,

Mesin roasting tua di Kopi Banyuatis yang masih menggunakan kayu bakar. (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

Mesin roasting tua menjadi salah satu ciri khas di pabrik Kopi Banyuatis. Mesin itu bukan hanya menjadi garda menjaga cita rasa. Namun, juga menjadi salah satu atraksi wisata.

UKURAN mesin itu begitu besar. Tingginya mencapai empat meter. Seperti tong-tong besar yang dijalin menjadi satu. Mesin itu adalah alat roasting kopi tua yang ada di pabrik kopi Banyuatis.

Kopi Banyuatis merupakan salah satu kopi tertua yang ada di Bali. Kopi ini muncul pada tahun 1970 dan masih bertahan hingga kini. Meski pola pengolahan kopi makin modern, mereka masih bertahan dengan pola konvensional.

Baca juga: Hunian Ruang Isolasi Turun Dratis

Kini perusahaan masih menggunakan dua buah mesin roasting lawas dengan kapasitas 200 kilogram.  Mesin itu masih digunakan. Kendati perusahaan telah memiliki mesin roasting yang modern.

“Karena cita rasa kami terbilang lawas, pola pengolahannya juga masih lawas. Makanya mesin lawas ini masih kami gunakan,” tutur Gede Pusaka Harsadena, pemilik Kopi Banyuatis saat ditemui belum lama ini.

Gede Pusaka merupakan generasi kedua di perusahaan tersebut. Kopi Banyuatis dirintis oleh Ketut Englan, yang tak lain ayah dari Gede Pusaka. Sejak 2011, Pusaka meneruskan usaha keluarga tersebut.

Pusaka menuturkan, usaha kopi itu dirintis sejak 1960-an. Awalnya keluarga mereka memiliki kebun kopi di sekitar Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar. Ketut Englan tak mau kopi sekadar dijual dalam bentuk mentah. Bergantung dengan harga dari tengkulak.

Englan memutuskan mengolah kopi sendiri. “Bubuk kopi dibuat sendiri. Merintis dari nol. Orang tua saya langsung menjual sendiri di pasar-pasar. Akhirnya diterima dan eksis sampai hari ini. Sampai kami punya pabrik di Desa Pemaron,” ungkap Pusaka.

Salah satu ciri khas di pabrik kopi itu adalah mesin roasting lawas. Awalnya roasting kopi dilakukan secara tradisional menggunakan drum dengan kapasitas 40 kilogram. Seiring waktu, mesin dengan kapasitias lebih besar didatangkan. Mesin roasting itu konon buatan Jerman pada 1960-an. Namun mesin itu baru digunakan di pabrik pada tahun 1990.

Lantaran masih lawas, pola roasting pun masih lawas. Tidak ada energi listrik yang digunakan untuk memanaskan mesin. Pabrik masih menggunakan kayu bakar yang dibakar pada tungku di bagian bawah mesin roasting. Saat karyawan melakukan roasting kopi, hawa di ruangan pun akan sangat panas. Peluh dengan cepat menetes.

“Sebenarnya secara cost lebih tinggi. Tapi ini juga jadi salah satu daya tarik di pabrik kami. Kalau ada yang berkunjung, mereka suka melihat mesin ini. Makanya kami pertahankan mesin ini. Meski kami sebenarnya punya mesin yang modern juga,” kata Pusaka.

Menurutnya tantangan terbesar dalam pemanfaatan mesin itu, bukan terletak pada bahan baku kopi maupun kayu bakar. Tantangan terbesar justru melakukan regenerasi karyawan yang memiliki kemampuan roasting kopi.

Butuh waktu hingga dua tahun untuk menyiapkan karyawan yang andal melakukan roasting dengan mesin lawas. “Banyak juga yang tidak kuat. Karena panas, butuh stamina dan konsentrasi tinggi. Makanya kalau ada yang mau pensiun, kami harus sudah siapkan pengganti dari beberapa tahun sebelumnya. Itu bukan hal yang mudah,” kata Pusaka.

Meski demikian, kini Kopi Banyuatis masih mampu bertahan dan begitu dominan di Bali Utara. Dalam sebulan, puluhan ton kopi mentah mampu diserap. Karena konsistensinya, pada 2017 Kopi Banyuatis juga menerima Penghargaan Paramakarya yang diserahkan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. 

(rb/eps/don/yor/JPR)

 TOP