alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Kiat Pemuda Tabanan Bangkit Dari Pandemi

Sulap Lahan Tidur Jadi Destinasi Baru, Karyawannya Para Korban PHK

05 Oktober 2021, 11: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kisah inspiratif, pemuda Banjar Jerinjing, korban PHK, Pantai Cinta Tabanan, The beach love,

MEMPESONA: Suasana The Beach Love atau Pantai Cinta di Banjar Dangin Jelinjing, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali. (Maulana Sandijaya)

Share this      

PEMUDA Banjar Dangin Jelinjing, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan, yang menjadi korban PHK akibat pandemi Covid-19 menolak menyerah.

Mereka tetap ingin bangkit dari keterpurukan. Bahkan tak disangka, berawal dari situasi “kepepet” atau terdesak karena pandemi, justru para eks karyawan korban PHK ini memiliki ide baru yang inspiratif.

Mereka menyulap lahan tidur menjadi destinasi baru: The Beach Love atau Pantai Cinta. Seperti apa?

Baca juga: Sang Paman Ngaku Masih Penasaran Luka Lebam di Tubuh I Kadek Sepi

MAULANA SANDIJAYA, Tabanan

MENGUNJUNGI Pantai Cinta tak ubahnya mendatangi sebuah teater impian. Berada di atas tebing yang menjorok ke laut, pengunjung bisa menyaksikan lukisan awan saat senja, ketika matahari perlahan tenggelam menuju peraduan.

Di bawah sunset tersaji laut dan deburan ombak memecah karang.

“Kami beri nama The Beach Love atau Pantai Cinta, karena di sini dulu banyak orang pacaran. Yang datang selalu couple (berpasangan),” ujar I Putu Mahendra Frandika, pengelola Pantai Cinta kepada Jawa Pos Radar Bali, Senin (4/10) kemarin. 

Lokasi Pantai Cinta berada di sebelah Pantai Kedungu. Pantai Cinta juga bertetangga dengan Pantai Tanah Lot, jaraknya hanya 1 kilometer. Jika ditempuh dari Kota Denpasar memerlukan waktu sekitar 1 jam. Sedangkan dari Kota Tabanan sekitar 15 menit.

Pantai ini mulai buka pukul 16.00. Namun, pada akhir pekan, pukul 15.00 sudah banyak tamu yang datang. Masuk ke tempat ini tidak dipungut kercis masuk. Namun, pengunjung diwajibkan belanja makanan atau minuman dan disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan 3 M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker).

Untuk menuju tebing Pantai Cinta butuh sedikit perjuangan. Ini karena letak tebing agak jauh dari lokasi parkir kendaraan. Setelah memarkir motor, pengunjung harus jalan kaki melewati pematang sawah. Setelah itu turun menyusuri jalan naik turun di tepian muara.

Bagi pengunjung yang membawa mobil ada ojek khusus yang mengantar. “Bayar ojek seikhlasnya, berapapun diterima,” imbuh Hendra.

Setelah sampai di tebing, perjuangan menuju Pantai Cinta terbayar tuntas. “Jadi, orang yang datang ke Pantai Cinta seperti orang menyaksikan bioskop alam atau pertunjukan sunset,” ungkap Hendra.

Hendra menuturkan, Pantai Cinta mulai dirintis sejak 13 Septmber 2020. Waktu itu ada enam pemuda banjar/dusun setempat diberhentikan dari tempat kerjanya karena terdampak pandemi. Keenam pemuda tersebut usianya di bawah 30 tahun.

Di tengah menganggur itu, mereka melihat banyak orang berpasangan duduk-duduk di sore hari menunggu sunset. Hal itu pun dimanfaatkan. “Daripada nganggur, akhirnya kami jualan es dan kentang goreng. Saat itu kamu jualan tanpa meja,” imbuh Hendra.

Menurut Hendra, sejatinya lahan yang digunakan Pantai Cinta saat ini merupakan wilayah private. Lahan tersebut ada yang memiliki, namun dibiarkan nganggur dan ditumbuhi rumput liar. Tak heran jika warga sengaja menggembala sapi dan mencari rumput di lahan tersebut.

“Karena PPKM dan tidak ada kegiatan, rumput liar kami potong dan kami tata sedikit demi sedikit,” papar pria kelahiran 9 September 1988 itu.

Penataan tempat oleh pemuda setempat ternyata disambut antusias orang yang biasa datang menikmati sunset. Mereka mulai membuat meja tempat makan. Awalnya mereka membuat sepuluh meja. Setelah itu bertambah menjadi 20 meja.

Enam bulan berjalan, mereka memanfaatkan aplikasi Tiktok yang sedang digandrungi diseluruh dunia sebagai media promosi. Benar saja, Pantai Cinta langsung viral dan mencuri perhatian para pelancong dari berbagai daerah.

Saking ramainya, mereka sempat kewalahan karena harus memberikan pelayanan prima pada para tamu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pengunjung wajib memakai masker dan jaga jarak. Meja satu dengan meja lain jaraknya diatur hingga dua meter.

Hendra yang awalnya kerja di sebuah restoran di Seminyak, Kuta, Badung, memutuskan bergabung secara penuh. Awalnya Hendra hanya sebagai konsultan. Hendra dkk akhirnya kompak memutuskan untuk berinvestasi dengan cara patungan.

Untuk mencari dana lebih besar, mereka juga mencari pinjaman dana dari bank. “Ada salah satu dari kami yang menaruh sertifikat di bank,” ucapnya lantas tertawa.

Dana yang ada kemudian digunakan untuk menambah meja dan membeli bean bag. Meja yang awalnya 20 bertambah menjadi 150 meja. Kapasitas satu meja untuk dua sampai tiga orang. Selain itu dana juga digunakan untuk membangun dapur.

Masakan yang disediakan pengelola sementara menu barat. Di antaranya burger dan salad. Sedangkan minuman ada beragam pilihan. Mulai jus, kelapa muda, hingga bir.

Dari yang awalnya 6 orang, kini ada 38 orang yang bergabung. Hendra dkk sengaja mengajak anak-anak muda setempat yang menjadi korban PHK di tempat kerjanya.

“Ada kebanggaan bagi kami ketika bisa membuka lapangan kerja untuk adik-adik yang di-PHK dan baru lulus sekolah. Ini semua berawal dari PPKM,” ungkapnya.

Meski tergolong baru, pengelola Pantai Cinta sudah lumayan profesional dalam menerima dan melayani tamu. Mereka dilatih berkomunikasi yang efektif, termasuk memahami gestur tubuh tamu.

Pengelola juga memiliki standar sendiri, bahwa tamu bukan raja. Ketika tamu etikanya salah, maka harus diingatkan. Puluhan pekerja ini diberikan gaji bulanan. Selain itu mereka juga diberikan bonus.

“Untuk melayani tamu yang baik, kami gelar pelatihan di balai desa. Selain itu, satu jam sebelum buka kami selalu lakukan briefing,” tukas Hendra.

Kini, setiap hari Pantai Cinta selalu dikunjungi orang. Bahkan, saat akhir pekan banyak tamu antre karena tidak kebagian tempat. Tak sedikit pengunjung yang kecewa lantaran sudah penuh. Padahal, mereka datang dari Jimbaran, Nusa Dua, Kintamani, bahkan dari Nusa Penida.

“Untuk menyiasati itu, kami bikin sistem booking. Jadi, sebelum datang pengunjung bisa pesan meja terlebih dulu. Booking-nya tanpa down payment atau panjar,” bebernya.

Jika sampai pukul 17.30 tidak datang, maka meja yang dipesan akan diberikan pada orang lain.

(rb/san/pra/JPR)

 TOP