alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nestapa Komang Juniani Warga Seririt Buleleng

Kaki Bengkak Sebesar Guling, Andalkan Non Medis karena Tak Ada Biaya

12 Oktober 2021, 22: 45: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

nestapa Komang Juniani, warga seririt, kisah nestapa, kisah miris, kaki bengkak, pengobatan non medis, tak punya biaya, butuh bantuan,

MEMPRIHATINKAN : Kondisi Komang Juniani yang hanya bisa tergolek di tempat tidur akibat kakinya membengkak hingga sebesar guling (Eka Prasetya)

Share this      

KOMANG JUNIANI, warga Desa Joanyar, kini membutuhkan uluran tangan. Ia tak bisa beraktivitas sebagaimana layaknya orang normal lainnya karena kaki kirinya membengkak. Keluarga pun tak bisa berbuat banyak. Lantaran tak punya biaya.

 EKA PRASETYA,

KOMANG Juniani, 34, hanya bisa tergolek lemah di dalam kamar.

Baca juga: Masuk Penjara Maksimum Sekuriti, Hendra Kurniawan Langsung Dibotaki

Wanita yang mukim di Tempek VI, Banjar Dinas Kajanan, Desa Joanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng itu sudah tak bisa beraktivitas normal selama lima bulan terakhir.

Kaki kirinya membengkak. Mulai dari atas lutut, hingga ke paha.

Semua bermula saat ia hamil anak ketiganya. Saat hamil, kaki kirinya tiba-tiba membengkak. Saat itu, ia masih bisa beraktivitas secara normal. Bahkan masih mampu mencuci pakaian di saluran irigasi yang lokasinya tak jauh dari rumahnya.

Sebenarnya pihak keluarga sudah curiga. Namun warga kebanyakan menyebut Juniani mengalami asam urat.

“Ada juga yang bilang kalau itu bawaan bayi. Apalagi waktu itu istri saya sedang hamil. Saya juga tidak berani bawa ke dokter,” kata Kadek Mertayasa, 38, sang suami saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/10) siang.

Setelah anak ketiga lahir, pembengkakan itu tidak sembuh. Justru makin parah. Kini kakinya membengkak hingga sebesar guling.

Sebenarnya keluarga sudah sempat membawa Juniani ke RSU Santi Graha. Saat itu perawat memeriksa kaki. Saat ditusuk jarum, alih-alih keluar cairan, justru darah yang keluar dari kaki yang membengkak.

Dokter pun menyimpulkan terjadi tumor ganas pada tulang dan persendian. Dokter merekomendasikan agar ibu tiga anak itu segera dirujuk ke RS Sanglah Denpasar.

Saat itu keluarga mulai galau. Sebab anak-anak mereka masih kecil. Si sulung bernama Putu Suciani, berusia 10 tahun. Ia kini masih duduk di kelas 5 SD.

Anak kedua bernama Ketut Rendi Setiawan, yang baru berusia 7 tahun. Sementara anak bungsu bernama Luh Aprilia, baru berusia 6 bulan.

“Kalau ditinggal ke Sanglah, anak-anak saya siapa yang mengurus. Selain itu kalau ke Sanglah, saya tidak ada biaya. Tidak bisa kerja juga. Apalagi saya tidak fasih baca tulis,” ujarnya.

Alhasil keluarga kini hanya mengandalkan pengobatan non medis. Mertayasa mendatangi beberapa balian. Bahkan hingga kini ia mengaku telah mendatangi 19 orang balian seantero Buleleng. Tapi belum ada hasil yang memuaskan.

“Saya juga bingung. Karena kadang kalau mau rahinan, mulai ada sakit. Seperti kemarin, karena soma (hari Senin), itu mulai sakit kakinya. Setelah lewat soma, hilang sakitnya,” kata Mertayasa.

Sementara itu Sekdes Joanyar Wayan Maka Sara Atmaja mengungkapkan, warga tersebut memang butuh uluran tangan. Saat ini keluarga Kadek Mertayasa belum masuk sebagai penerima bantuan reguler dari Kementerian Sosial.

Keluarganya belum terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Meski begitu, pihak desa tetap berusaha memberikan bantuan. “Kalau BLT DD, namanya masuk. Saat ada program padat karya juga, dia selalu kami prioritaskan jadi peladen tukang,” kata Sara Atmaja.

Kini dengan kondisi tersebut, pihaknya berupaya melakukan pendekatan dengan sejumlah yayasan. Agar Juniani dapat diboyong ke rumah sakit, guna mendapatkan pelayanan medis.

“Kami sudah koordinasi dengan sejumlah relawan. Mudah-mudahan ada jalan biar keluarga ini bisa pulih lagi seperti sebelumnya,” demikian Sara Atmaja. 

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP