alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Dari Aksi Tipu-tipu Setiaji Munawar

Jaksa Gadungan dan Master Hukum Itu Terancam 4 Tahun Bui

14 Oktober 2021, 06: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

tipu-tipu, ngaku jaksa, kejagung ri, ngaku dokter, ngaku master hukum,Setiaji Munawar, kejati bali, polresta denpasar,

Setiaji Munawar. (Adrian Suwanto/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR– Aksi tipu-tipu Setiaji Munawar, 57, atau SM yang mengaku sebagai pejabat di Kejagung RI, dokter hingga master hukum berujung dibui. Dia terancam penjara selama 4 tahun.

Kasi Penkum Kejati Bali, A. Luga Harlianto mengatakan, setelah dua bulan dilakukan penyidikan terhadap tersangka, berkas dinyatakan lengkap (P-21). “Pasal yang disangkakan adalah Pasal 372 KUHP atau Pasal 378 KUHP,” tegas Luga usai pelimpahan kemarin.

Rabu kemarin (13/10) saat dilimpahkan, tersangka dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Selanjutnya JPU melakukan penahanan selama 20 hari ke depan di Rutan Polresta Denpasar.

Baca juga: Ngaku Master Hukum dan Dokter, Perdaya Wanita, Kantongi Ratusan Juta

Jaksa gadungan itu hanya bisa pasrah saat dibawa jaksa beneran ke dalam mobil tahanan. Setiaji terancam hukuman empat tahun penjara lantaran menipu seorang perempuan berinisial LR. Akibat penipuan itu, LR mengalami kerugian Rp256 juta.

Dalam berkas perkara, Setiaji juga mengaku sebagai dokter. Tak hanya itu, tersangka juga mengaku bergelar Sarjana Hukum (SH) dan Magister Hukum (MH).

Kasi Penkum Kejati Bali, A. Luga Harlianto mengatakan, setelah dua bulan dilakukan penyidikan terhadap tersangka, berkas dinyatakan lengkap (P-21).

Luga menuturkan, penipuan berawal saat korban LR bertemu dengan tersangka pada 11 Agustus 2021. Dari pertemuan tersebut, LR menceritakan masalah hukum perdata yang sedang dialaminya kepada tersangka.

Setiaji kemudian menawarkan diri kepada LR untuk membantu menyelesaikan masalah hukumnya. “Untuk meyakinkan korbannya, tersangka mengatakan dirinya adalah jaksa yang bertugas di Kejaksaan Jakarta,” beber Luga.

Tersangka lantas menunjukkan surat keterangan perjalanan. Dalam surat palsu itu tertera tersangka sebagai Direktur Tindak Pidana Khusus Bidang Politik Keamanan.

Korban yang percaya menyerahkan uang secara bertahap kepada tersangka. “Total uang yang diserahkan Rp 256.510.000,” ungkap mantan Kacabjari Nusa Penida, Klungkung, itu.

Luga mengimbau masyarakat khususnya di Bali meningkatkan kewaspadaannya. Jika ada yang mengatasnamakan dirinya dari Kejaksaan dan meminta sejumlah uang, barang, atau fasilitas apapun, maka bisa dilaporkan.

“Silahkan konfimasi dengan mendatangi kantor kejaksaan atau melalui media sosial Kejati Bali dan Kejari se-Bali,” tukasnya.

Menurut Luga, Jaksa Agung RI beserta pimpinan Kejaksaan Agung dan Kajati Bali secara tegas melarang seluruh pegawai Kejaksaan melakukan perbuatan tercela, seperti meminta sejumlah uang, barang, atau apapun untuk menguntungkan diri sendiri.

“Ada bidang pengawasan dan Satgas 53 yang akan memproses, apabila ditemukan adanya pegawai kejaksaan yang melakukan hal tersebut,” pungkasnya.

(rb/san/don/yor/JPR)

 TOP