alexametrics
Sabtu, 16 Oct 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Diancam Akan Ditenggelamkan di Kolam, Pegawai BUMN Dilaporkan ke Polda

Bermula dari Hutang Rp2 M Bengkak Jadi Rp9 M

14 Oktober 2021, 21: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kasus pengancaman, diancam ditenggelamkan, pegawai BUMN dipolisikan, Polda Bali, pria kelahiran bandung, hutang piutang,

I Made Wirawan (dua dari kiri) menunjukkan bukti lapor ke Polda Bali, Kamis (14/10). (Istimewa)

Share this      

DENPASAR-Merasa tertekan karena diancam akan ditenggelamkan di kolam oleh oknum, I Made Wirawan, 41, memilih melapor ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, ia mengaku diancam seseorang pria berinisial IW.

Selain melaporkan IW, pria  kelahiran Badung, 10 November 1973 itu juga melaporkan seorang perempuan berinisial AL, salah satu pegawai BUMN. Menurut Wirawan, pengancaman terjadi di sebuah penginapan milik IY di Legian, Kuta, Badung.

Baca juga: Partai Koalisi Pesimistis, Tak Yakin Target Pembangunan Tercapai

“Klien kami akan ditenggelamkan di kolam jika tidak meneken perjanjian pembayaran tambahan di luar akta pengakuan utang sebelumnya”ujar Reydi Nobel, pengacara yang mendampingi Wirawan, Kamis (14/10).

Menurut Reydi, pengancaman itu juga disaksikan istri Wirawan.

IY dan AL menekan Wirawan agar menandantangani perjanjian membayar utang sebesar Rp9 miliar.

 Lebih lanjut, Reydi mengatakan, kliennya (Wirawan) tidak mau meneken karena utangnya hanya Rp2 miliar dengan jaminan agunan tanah seluas 500m2 di Seminyak.

Ditanya kronologi masalah, Redy menyebut berawal saat Wirawan meminjam uang Rp2 miliar untuk usaha pada 6 Januari 2021. 

“Dari pinjaman Rp2 miliar, klien kami pun hanya menerima Rp1,4 miliar. Ini karena dipotong biaya adiministrasi dan lainnya,”beber pengacara yang hobi olahraga menembak itu.

Namun, karena situasi perekonomian di Bali tak kunjung membaik akibat pandemi, Wirawan tak bisa melunasi utang saat jatuh tempo pada April 2021. Pelapor yang belum bisa membayar utang meminta kelonggaran waktu. 

“Waktu itu tidak ada jawaban dari terlapor (AL). Malah pelapor ditekan dan diancam mendatangani surat pernyataan utang menjadi Rp9 miliar,” tuturnya.

Wirawan yang merasa tertekan berusaha mencari pinjaman lain untuk menutupi utang Rp2 miliar. Tapi, sambung Ready, pembayaran utang Rp2 miliar ditolak mentah-mentah oleh AL.

Di bawah tekanan dan ancaman dari AL dan IY, Wirawan akhirnya meneken perjanjian tersebut. AL dan IY ikut menandatangani surat tersebut. Utang Rp2 miliar pun bengkak menjadi Rp9 miliar.

“Jika tidak bisa membayar selama satu bulan, maka tanah yang dijaminkan akan dijual untuk menutupi utang,”terangnya.

(rb/san/pra/JPR)

 TOP