alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Terungkap! Ini Maksud Mulia Nosstress Gunakan Panel Surya saat Konser

DENPASAR – Konser trio musik folk asal Bali, Nosstress merayakan hari jadinya ke-10 di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Minggu (31/12) kemarin memang berbeda dari biasanya.

Mereka konser dengan menggunakan panel surya sebagai sumber tenaga listrik utama untuk menghidupkan alat musiknya.

“Kami ingin menggenalkan teknologi yang sebenarnya. Teknologi lama yang tidak terpopulerkan. Kini kami kenalkan kembali tenaga surya ini,” ujar Agung Kayon, pegiat listrik alternatif di Bali.

Listrik dari tenaga surya, kata pria asal Tabanan ini, sejatinya begitu melimpah di negara Indonesia.

Namun, memang tidak dipopulerkan karena banyak pilihan penggunaan bahan listrik lainnya yang justru ada yang kurang ramah lingkungan, seperti batu bara.

Baca Juga:  Pandangan Brilian Robi Navicula Antara "Odalan dan Sampah"

Nah, dalam konser ulang tahun Nosstress ke-10 kemarin, Agung Kayon menjelaskan penggunaan untuk sound alat musik dan sebagainya kemarin kemarin menggunakan 2.000 watt per jam saja.

Namun penggunaan naik turun dari 800 sampai 1.200 watt. “Sangat mencukupi. Karena sebelum melakukan set up, kami kalkulasi dulu,

kira-kira kebutuhan daya berapa dan waktu acara berapa lama. Jadi kami siapkan sesuai kebutuhan saja, tidak melebihi,” jelasnya.

Keuntungan penggunaan tenaga surya ini, pihaknya dapat melakukan penyediaan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Sebab, untuk memperbesar daya, dapay dilakukan dalam waktu yang berikutnya. “Jadi dapat dilakukan kalkulasi bertahap, memilih prioritas apa yang didahulukan dan apa yang semestinya di jangkau dalam pemenuhan listrik tersebut,” pungkasnya. 

Baca Juga:  Tegang Diawal, Ayu Sidan – Dwiyanti Persembahkan Emas AG untuk Bali


DENPASAR – Konser trio musik folk asal Bali, Nosstress merayakan hari jadinya ke-10 di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Minggu (31/12) kemarin memang berbeda dari biasanya.

Mereka konser dengan menggunakan panel surya sebagai sumber tenaga listrik utama untuk menghidupkan alat musiknya.

“Kami ingin menggenalkan teknologi yang sebenarnya. Teknologi lama yang tidak terpopulerkan. Kini kami kenalkan kembali tenaga surya ini,” ujar Agung Kayon, pegiat listrik alternatif di Bali.

Listrik dari tenaga surya, kata pria asal Tabanan ini, sejatinya begitu melimpah di negara Indonesia.

Namun, memang tidak dipopulerkan karena banyak pilihan penggunaan bahan listrik lainnya yang justru ada yang kurang ramah lingkungan, seperti batu bara.

Baca Juga:  Adu Aksi 72 Freestyler Bikin Warga Klungkung Melongo

Nah, dalam konser ulang tahun Nosstress ke-10 kemarin, Agung Kayon menjelaskan penggunaan untuk sound alat musik dan sebagainya kemarin kemarin menggunakan 2.000 watt per jam saja.

Namun penggunaan naik turun dari 800 sampai 1.200 watt. “Sangat mencukupi. Karena sebelum melakukan set up, kami kalkulasi dulu,

kira-kira kebutuhan daya berapa dan waktu acara berapa lama. Jadi kami siapkan sesuai kebutuhan saja, tidak melebihi,” jelasnya.

Keuntungan penggunaan tenaga surya ini, pihaknya dapat melakukan penyediaan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Sebab, untuk memperbesar daya, dapay dilakukan dalam waktu yang berikutnya. “Jadi dapat dilakukan kalkulasi bertahap, memilih prioritas apa yang didahulukan dan apa yang semestinya di jangkau dalam pemenuhan listrik tersebut,” pungkasnya. 

Baca Juga:  Badung Terbanyak Kirim Wakil di PON Papua, Mulai Bicarakan Bonus Atlet

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/