alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Atlet Bali Peraih Medali PON Papua Kecewa Bonus Kecil dan Pajak Besar

DENPASAR – Sejumlah atlet Bali yang meraih medali di PON Papua kecewa lantaran jumlah bonusnya kecil. Besaran bonus atlet Bali peraih medali PON di Papua itu terungkap saat Senin (7/2). Nominal bonus yang kecil itu pun membuat mereka geleng-geleng kepala.

Bonus atlet Kontingen Bali peraih medali di PON XX/2021, Papua, memang belum diberikan oleh Pemprov Bali. Namun, Senin (7/2) seluruh atlet peraih medali diminta untuk berkumpul di Ruang Rapat Bidang Pemuda dan Olah Raga Disdikpora Provinsi Bali untuk menyerahkan berbagai dokumen terkait pemberian bonus.

Dari pantauan Radarbali.id di media sosial, sebagian besar atlet peraih medali untuk Bali mengeluhkan masalah bonus yang terbilang kecil tersebut.

Keluhannya sama. Mereka keberatan dan kecewa dengan bonus yang akan diterima oleh mereka. Memang bonus belum diketahui secara pasti berapa besarannya. Tapi dari informasi yang didapat, peraih medali emas perorangan “hanya” mendapatkan Rp176 juta. Jumlah tersebut dipotong pajak.

Padahal, sebelumnya Gubernur Bali I Wayan Koster berucap akan memberikan kejutan bagi atlet peraih medali. Namun, Koster pada waktu itu belum membeberkan berapa besaran bonus yang diterima oleh seluruh atlet Bali peraih medali di PON Papua.

Tidak hanya bonus yang dianggap para atlet Bali terbilang kecil. Besaran pajak juga membuat para atlet keberatan.

Baca Juga:  PON Papua Resmi Ditunda, KONI Bali Belum Tentukan Sikap

Dari data yang diperoleh, besaran bonus sebesar hingga Rp65juta akan dikenai pajak 5 persen. Kemudian Rp65 juta – Rp150 juta akan dikenai pajak sebesar 15 persen. Sedangkan bonus sebesar Rp150-350 juta akan dikenakan pajak sebsar 25 persen. Besaran pajak tersebut untuk atlet yang sudah memiliki NPWP.

Dari besaran bonus tersebut, diketahui bahwa peraih medali perorangan mendapatkan Rp200 juta untuk emas, Rp100 juta untuk perak, dan Rp50 juta untuk peraih perunggu.

Sedangkan yang belum memiliki NPWP, pajaknya lebih besar lagi. Pajaknya bisa mencapai 30 persen. Salah satu cabor beregu peraih perak di PON Papua hanya mendapat Rp36,943 juta per orang setelah dipotong pajak.

Melihat kondisi ini atlet senior Bali angkat suara di media sosial pribadi mereka. Misalnya saja Maria Natalia Londa. Pengoleksi delapan emas di empat edisi PON terakhir ini membuat surat terbuka yang isinya adalah kekecewaan terhadap bonus yang dia dan rekan-rekannya dapat setelah berjuang di PON Papua.

“Bagaimanapun juga, atlet juga sudah berjuang dan berkorban dengan maksimal,” jelas Maria.

Di sisi lain peraih medali perak cabor tinju Julio Bria juga kecewa dengan besaran bonus yang akan didapat para peraih medali di PON Papua.

Baca Juga:  Rilis Sayang Bli di Kanal Youtube, Tika Pagraky Berjuang Habis-habisan

Bahkan dia sampai membuat rekaman video dan diunggah di akun Instagram pribadinya yang isinya kekecewaan terkait bonus.

“Bonus kecil, pajak besar,” kata Julio.

Pernyataan Maria Londa bahwa atlet sudah berjuang keras dalam latihan, bertanding hingga meraih medali bukan isapan jempol belaka. Sepanjang keikutsertaan Bali dalam PON, torehan medali dalam PON di Papua adalah yang terbaik. Baik dari sisi peringkat maupun jumlah medali.

Catatan radarbali.id, pada PON 2021 di Papua itu, Bali berhasil menduduki peringkat kelima dalam klasemen akhir perolehan medali dengan 28 emas, 25 medali perak, dan 53 perunggu.

Pada PON-PON sebelumnya, peringkat Bali masih di bawah itu. Seperti PON 2016 di Jawa Barat, Provinsi Bali hanya peringkat keenam dengan 20 emas, 21 perak, dan 35 perunggu. 

Begitu juga pada PON 2012 di Riau, kontingen Provinsi Bali hanya berhasil di peringkat kesembilan dengan 15 emas, 18 perak, dan 30 perunggu. 

Sedangkan pada PON 2008 di Kalimantan Timur, Bali peringkat ke-9 dengan 16 emas, 18 perak, dan 26 perunggu, serta PON 2004 Sumatera Selatan hanya peringkat ke-14 dengan 11 emas, 12 perak, dan 18 perunggu.



DENPASAR – Sejumlah atlet Bali yang meraih medali di PON Papua kecewa lantaran jumlah bonusnya kecil. Besaran bonus atlet Bali peraih medali PON di Papua itu terungkap saat Senin (7/2). Nominal bonus yang kecil itu pun membuat mereka geleng-geleng kepala.

Bonus atlet Kontingen Bali peraih medali di PON XX/2021, Papua, memang belum diberikan oleh Pemprov Bali. Namun, Senin (7/2) seluruh atlet peraih medali diminta untuk berkumpul di Ruang Rapat Bidang Pemuda dan Olah Raga Disdikpora Provinsi Bali untuk menyerahkan berbagai dokumen terkait pemberian bonus.

Dari pantauan Radarbali.id di media sosial, sebagian besar atlet peraih medali untuk Bali mengeluhkan masalah bonus yang terbilang kecil tersebut.

Keluhannya sama. Mereka keberatan dan kecewa dengan bonus yang akan diterima oleh mereka. Memang bonus belum diketahui secara pasti berapa besarannya. Tapi dari informasi yang didapat, peraih medali emas perorangan “hanya” mendapatkan Rp176 juta. Jumlah tersebut dipotong pajak.

Padahal, sebelumnya Gubernur Bali I Wayan Koster berucap akan memberikan kejutan bagi atlet peraih medali. Namun, Koster pada waktu itu belum membeberkan berapa besaran bonus yang diterima oleh seluruh atlet Bali peraih medali di PON Papua.

Tidak hanya bonus yang dianggap para atlet Bali terbilang kecil. Besaran pajak juga membuat para atlet keberatan.

Baca Juga:  Dua Atlet Asian Games Terima Bonus, Begini Curhatnya ke Walikota...

Dari data yang diperoleh, besaran bonus sebesar hingga Rp65juta akan dikenai pajak 5 persen. Kemudian Rp65 juta – Rp150 juta akan dikenai pajak sebesar 15 persen. Sedangkan bonus sebesar Rp150-350 juta akan dikenakan pajak sebsar 25 persen. Besaran pajak tersebut untuk atlet yang sudah memiliki NPWP.

Dari besaran bonus tersebut, diketahui bahwa peraih medali perorangan mendapatkan Rp200 juta untuk emas, Rp100 juta untuk perak, dan Rp50 juta untuk peraih perunggu.

Sedangkan yang belum memiliki NPWP, pajaknya lebih besar lagi. Pajaknya bisa mencapai 30 persen. Salah satu cabor beregu peraih perak di PON Papua hanya mendapat Rp36,943 juta per orang setelah dipotong pajak.

Melihat kondisi ini atlet senior Bali angkat suara di media sosial pribadi mereka. Misalnya saja Maria Natalia Londa. Pengoleksi delapan emas di empat edisi PON terakhir ini membuat surat terbuka yang isinya adalah kekecewaan terhadap bonus yang dia dan rekan-rekannya dapat setelah berjuang di PON Papua.

“Bagaimanapun juga, atlet juga sudah berjuang dan berkorban dengan maksimal,” jelas Maria.

Di sisi lain peraih medali perak cabor tinju Julio Bria juga kecewa dengan besaran bonus yang akan didapat para peraih medali di PON Papua.

Baca Juga:  Disarankan Jangan Try Out, KONI Bali Persilakan Cabor Ajukan Try In

Bahkan dia sampai membuat rekaman video dan diunggah di akun Instagram pribadinya yang isinya kekecewaan terkait bonus.

“Bonus kecil, pajak besar,” kata Julio.

Pernyataan Maria Londa bahwa atlet sudah berjuang keras dalam latihan, bertanding hingga meraih medali bukan isapan jempol belaka. Sepanjang keikutsertaan Bali dalam PON, torehan medali dalam PON di Papua adalah yang terbaik. Baik dari sisi peringkat maupun jumlah medali.

Catatan radarbali.id, pada PON 2021 di Papua itu, Bali berhasil menduduki peringkat kelima dalam klasemen akhir perolehan medali dengan 28 emas, 25 medali perak, dan 53 perunggu.

Pada PON-PON sebelumnya, peringkat Bali masih di bawah itu. Seperti PON 2016 di Jawa Barat, Provinsi Bali hanya peringkat keenam dengan 20 emas, 21 perak, dan 35 perunggu. 

Begitu juga pada PON 2012 di Riau, kontingen Provinsi Bali hanya berhasil di peringkat kesembilan dengan 15 emas, 18 perak, dan 30 perunggu. 

Sedangkan pada PON 2008 di Kalimantan Timur, Bali peringkat ke-9 dengan 16 emas, 18 perak, dan 26 perunggu, serta PON 2004 Sumatera Selatan hanya peringkat ke-14 dengan 11 emas, 12 perak, dan 18 perunggu.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/